Shaar Hashamayim Synagogue, Satu-satunya Tempat Ibadah Aktif Umat Yahudi di Indonesia

9 hours ago 11

Shaar Hashamayim Synagogue mungkin masih cukup asing di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya. Namun bagi komunitas Yahudi, keberadaan Synagogue Shaar Hashamayim memiliki arti yang sangat penting. Tempatnya terkenal sebagai sinagoge atau rumah ibadah umat Yahudi paling aktif di Tanah Air.

Baca Juga: Sejarah Tembok Ratapan Yahudi, Dinding Masjidil Aqsa yang Jadi Rebutan

Meski jumlah penganut agama Yahudi di Indonesia tidak sebanyak negara-negara lain, komunitas ini tetap punya cerita panjang. Berlokasi di Tondano, Sulawesi Utara, Shaar Hashamayim menjadi bukti keberagaman budaya dan agama berakar kuat. Bahkan telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Shaar Hashamayim Synagogue dan Sejarahnya

Sejarah berdirinya Sinagoge Shaar Hashamayim bermula dari sebuah rumah milik seorang Yahudi keturunan Belanda, Leo Elias van Beugen. Bangunan tersebut pada awalnya ia gunakan sebagai hunian pribadi. Kemudian pihaknya alih fungsikan menjadi rumah ibadah bagi komunitas Yahudi setempat.

Transformasi bangunan tersebut berlangsung di bawah kepemimpinan Yaakov Baruch. Yaakov Baruch merupakan cucu Leo Elias van Beugen. Melalui berbagai proses pengembangan, rumahnya mampu berubah menjadi sinagoge yang lebih layak. Sehingga dapat umat gunakan untuk kegiatan keagamaan serta aktivitas sosial.

Nama “Shaar Hashamayim” sendiri berasal dari bahasa Ibrani yang memiliki arti “Gerbang Langit”. Nama tersebut umat pilih karena mencerminkan fungsi utama sinagoge. Apalagi jika bukan sebagai tempat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa serta ibadah. Ini sekaligus menggambarkan hubungan antara manusia dan Sang Pencipta dalam tradisi Yahudi.

Tujuan Pembangunan hingga Pengembangan

Sebelum sebesar dan sepopuler sekarang, Shaar Hashamayim Synagogue dulunya terbilang kecil. Pembangunan masif pun berlangsung bukan hanya untuk menyediakan tempat beribadah. Lebih dari itu, kehadiran sinagoge ini juga bertujuan menjadi pusat berbagai macam kegiatan. Termasuk sarana pelestarian tradisi dan budaya. Apalagi tempat ibadah bagi mereka di Tanah Air sangatlah terbatas.

Baca Juga: Mengetahui Sejarah Yahudi di Indonesia Beserta Perkembangannya

Berbagai kegiatan pendidikan, perayaan hari besar keagamaan, hingga pertemuan penting sering berlangsung di sini. Misalnya pada 17 September 2004 peresmian secara sah berlangsung di bawah J. P. Van der Stoop. Stoop adalah seorang Yahudi asal Belanda yang juga menjabat sebagai Direktur Sigmo Beheer BV Netherland. Banyak tokoh penting hadir.

Tidak berhenti sampai di sana, status sinagoge ini semakin kuat ketika pada akhir tahun 2019 mendapatkan peresmian dari pemerintah daerah. Langkah tersebut membuat Shaar Hashamayim Synagogue populer sebagai satu-satunya tempat ibadah agama Yahudi di Indonesia yang memiliki pengakuan secara hukum.

Arsitektur yang Terinspirasi Yerusalem dan Amsterdam

Selain sejarahnya yang menarik, Shaar Hashamayim juga memiliki desain bangunan sarat akan makna. Konsep arsitekturnya memadukan unsur-unsur khas Timur Tengah dan Eropa. Kedua kawasan besar tersebut memang memiliki hubungan sangat erat dengan tradisi Yahudi di seluruh dunia.

Pada bagian luar bangunan, desainnya terinspirasi dari kawasan City of David di Yerusalem. Nuansa tersebut terlihat dari penggunaan batu alam yang melapisi hampir seluruh bagian bangunan. Material yang sama juga ada pada area Mikvah. Mikvah adalah untuk ritual penyucian dalam tradisi Yahudi.

Sementara itu, desain interiornya mengambil inspirasi dari Esnoga atau Portuguese Synagogue yang berada di Amsterdam, Belanda. Beberapa elemen khas terlihat dari penempatan tempat lilin pada setiap ujung Tebah. Tebah sendiri merupakan area yang umat gunakan dalam pembacaan kitab suci.

Bagian Heikal atau tempat penyimpanan Taurat juga menyerupai Heikal yang terdapat di Portuguese Synagogue Amsterdam. Selain itu, terdapat lampu gantung antik peninggalan era kolonial Belanda. Benda ini masih pengelola pertahankan hingga sekarang sebagai bagian dari identitas khas bangunan.

Tata Ruang serta Fasilitas yang Relevan

Tata ruang dalam Shaar Hashamayim juga mengikuti tradisi Yahudi. Kursi panjang di bagian samping berfungsi untuk jemaat pria. Sementara dua baris kursi panjang di bagian belakang tersedia bagi jemaat perempuan. Di dalam ruangan juga terdapat rak-rak buku untuk menyimpan Siddurim atau buku doa harian. Ada juga berbagai buku dalam perayaan hari raya keagamaan Yahudi.

Baca Juga: Tradisi Bau Nyale Lombok, Festival Unik dari Legenda Putri Mandalika

Secara keseluruhan, Shaar Hashamayim Synagogue merupakan bangunan keagamaan dengan nilai sejarah penting di Indonesia. Berawal dari rumah pribadi, bangunannya mampu berkembang sebagai pusat kegiatan komunitas Yahudi yang aktif hingga sekarang. Hanya saja, Shaar Hashamayim Synagogue tidak buka untuk umum. Bagi yang ingin berdoa maupun belajar perjalanan sejarah komunitas Yahudi di Tanah Air wajib mendapat izin pengelola terlebih dahulu. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |