Gegara Limbah Dapur SPPG Cimerak, Warga Pangandaran Tanggung Biaya Air Bersih

14 hours ago 8

harapanrakyat.com,- Harapan akan manfaat dari program Makan Bergizi Gratis malah menyisakan keresahan bagi sebagian warga Dusun Bantarsari, Desa Cimerak, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran. Sejumlah warga mengaku terdampak dugaan pencemaran air yang bersumber dari limbah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Cimerak.

Pantauan harapanrakyat.com di lokasi, Sabtu 21 Februari 2026, bangunan dapur SPPG terlihat tertutup rapat tanpa aktivitas. Di sisi lain, sumber mata air yang biasa digunakan warga tampak keruh kehijauan dan mengeluarkan bau tidak sedap. Di dekat lokasi terlihat mesin penyedot air milik warga yang kini rutin digunakan untuk mengambil air dari titik lain.

Baca Juga: Ketua DPRD Tanggapi Laporan Rakyat Pangandaran Bergerak terkait Kasus MBA kepada Badan Kehormatan

Seorang warga setempat, Saleh menuturkan bahwa sumber air tersebut berada di atas lahan miliknya dan telah digunakan bertahun-tahun oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari. Airnya dulu jernih dan layak pakai.

“Sejak ada dapur itu, air berubah. Bau menyengat dan warnanya jadi hijau keruh. Kami menduga ini dari limbah cucian dapur,” kata Saleh, Sabtu 21 Februari 2026.

Ia menjelaskan, lokasi pencucian peralatan dapur disebut berada di area terbuka di tepi jalan. Air buangannya diduga langsung mengalir ke saluran yang tersambung ke sebuah goa kecil, yang menjadi salah satu sumber mata air warga. 

Air tersebut selama ini dimanfaatkan oleh sembilan rumah dan satu masjid, termasuk untuk keperluan wudu. Menurut Saleh, kondisi air yang tercemar tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga berdampak pada kesehatan. 

“Dipakai mandi saja terasa gatal. Kalau untuk masak, kami sekarang beli air karena tidak berani pakai air sumur lagi,” katanya.

Baca Juga: Pangandaran Catat 28 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan Sepanjang 2025, Banyak yang Enggan Melapor

Warga Cimerak Pangandaran Terdampak Limbah Dapur SPPG Harus Menyedot Air Bersih

Setiap sore, ia bersama warga lain harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyedot dan mengambil air bersih dari lokasi berbeda. Hingga kini, kata Saleh, belum ada kompensasi yang diterima warga terdampak.

“Kami bukan menolak programnya. Programnya bagus. Tapi pengelolaan limbahnya jangan asal buang. Kami yang jadi korban,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Hendra, warga lainnya. Ia mengaku sudah sekitar dua pekan terakhir mencium bau tidak sedap dari air yang digunakan sehari-hari. Kondisi itu memaksa keluarganya membeli air untuk memasak dan kebutuhan penting lainnya.

“Kami kecewa karena air ini dipakai juga untuk ibadah. Sekarang harus beli air terus. Mau bagaimana lagi,” ucapnya.

Warga mengaku telah menyampaikan keluhan kepada pemerintah desa. Musyawarah sempat digelar di aula desa pada Jumat 20 Februari 2026, mempertemukan warga terdampak dengan pihak terkait. Namun, warga menilai pertemuan tersebut belum menghasilkan solusi konkret.

“Kami berharap ada penanganan serius, termasuk pemeriksaan kualitas air serta pengelolaan limbah yang sesuai standar, agar sumber mata air mereka kembali layak digunakan dan tidak lagi menimbulkan dampak kesehatan,” ujarnya.

Baca Juga: Resahkan Warga dan Jamaah Masjid, Limbah Dapur SPPG Cimerak Pangandaran Diduga Cemari Sumber Air

Harapan Rakyat sudah berusaha menghubungi pihak dapur SPPG tersebut, termasuk mendatangi lokasi. Namun upaya konfirmasi Harapan Rakyat belum membuahkan hasil. (Kiki/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |