harapanrakyat.com,- Pada bulan April 1947, momen bersejarah terekam di Kota Banjar yang jarang diketahui publik saat ini. Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, melakukan kunjungan kerja untuk meninjau infrastruktur di wilayah Ibu Kota Kewedanaan Banjar.
Fokus utama dari lawatan Presiden Soekarno pada masa awal kemerdekaan di wilayah yang berada di bawah naungan Kabupaten Ciamis tersebut adalah melakukan inspeksi terhadap proyek pekerjaan tata air atau irigasi Lakbok. Kemudian Seokarno juga menyempatkan diri berkunjung ke perkebunan karet Batulawang.
Baca juga: Sejarah Banjar Patroman, Sentral Karet Terbesar di Priangan Timur 1920-1962
Kunjungan ini tidak hanya menjadi simbol perhatian negara terhadap pembangunan daerah. Akan tetapi, pemerintah juga menyoroti urgensi penanganan masalah lingkungan dan optimalisasi sumber daya ekonomi lokal.
Momentum Sejarah Presiden Soekarno ke Kota Banjar
Berdasarkan penelusuran sejarah Indonesia, lokasi irigasi yang dikunjungi oleh Presiden Soekarno adalah Bendungan Doboku. Saat ini secara administratif Bendungan Doboku berada di Kelurahan Pataruman, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.
Kunjungan yang didokumentasikan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) melalui sebuah foto tertanggal 10 April 1947 tersebut, memperlihatkan Soekarno sedang menginspeksi bendungan Rawa Lakbok yang baru saja selesai dibangun.
Lokasi kunjungan Presiden Soekarno ke Kota Banjar. Foto: ANRI & Muhafid/HRKemudian, istilah “Lakbok” sendiri hingga kini masih digunakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy untuk merujuk pada Daerah Irigasi (DI) Lakbok Utara. Cakupan DI Lakbok Utara tersebut membentang dari Bendungan Doboku. Selain itu, cakupan wilayah ini mencakup sebagian wilayah Kecamatan Pataruman, Langensari, Purwadadi, dan Lakbok.
Baca juga: Menguak Jejak Sejarah Rawa Lakbok dalam Catatan Kolonial, Wilayah Hitam Ciamis yang Ditakuti
Sementara itu, di Koran Belanda Nieuwe Courant yang terbit 23 April 1947 menyebutkan, dalam peninjauan pada sebuah hari Sabtu pagi itu, Ir. Soekarno didampingi oleh Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Laoh.
Sang menteri memberikan penjelasan teknis mengenai operasional pembangunan bendungan. Termasuk kemampuannya yang dalam kondisi waktu normal dapat mengalirkan air sebanyak 16 meter kubik per menit. Di sisi lain, kapasitas aliran air irigasi yang masif ini diproyeksikan mampu mengairi areal persawahan yang sangat luas. Bahkan, areal persawahan yang terairi itu mencapai 12.600 hektar.
Kemudian, Peninjauan infrastruktur irigasi oleh pemerintah pusat ini sangat erat kaitannya dengan upaya keras dan panjang dalam menangani kondisi lapangan kawasan Rawa Lakbok yang rawan akan bencana banjir.
Kondisi Banjir di Wilayah Lakbok
Sebagaimana dalam catatan sejarah, jauh sebelum era kemerdekaan Indonesia, kawasan Rawa Lakbok memiliki reputasi yang menakutkan. Bahkan dijuluki wilayah hitam pada masa kolonial Belanda. Pasalnya hamparan seluas puluhan ribu bau tersebut didominasi rawa serta hutan belantara. Apalagi kolonial Belanda mengenal Lakbok sebagai sarang penyakit endemik mematikan seperti malaria dan tifus.
Di sisi lain, Rawa Lakbok merupakan kawasan dataran rendah dengan sistem drainase yang sangat buruk. Sehingga kawasan ini nyaris selalu tergenang oleh luapan banjir periodik dari aliran Sungai Citanduy dan Sungai Ciseel yang saat itu tak terkendali.
Kemudian, sejarah penanganan tata air wilayah ini dimulai ketika Bupati Tasikmalaya, R.A.A Wirtatuningrat (1908-1937), menginisiasi transformasi kawasan rawa yang dianggap tidak berguna tersebut menjadi lahan persawahan yang sangat produktif.
Upaya mitigasi banjir dan pembuatan saluran irigasi kemudian dilanjutkan secara masif pada masa pendudukan Jepang. Pada saat itu para pekerja romusha dikerahkan untuk membangun sistem bendungan, aliran air, serta tanggul pelindung.
Setelah Proklamasi, pembangunan infrastruktur ini diteruskan oleh pemerintah Indonesia untuk memperluas jaringan irigasi sekaligus membendung banjir. Tujuannya adalah demi mempertahankan status vital Rawa Lakbok sebagai lumbung padi di wilayah Priangan.
Kunjungan ke Perkebunan Karet Batulawang
Setelah memantau kesiapan irigasi pertanian, rangkaian kunjungan Presiden Soekarno di Kota Banjar juga dilanjutkan dengan lawatan ke kawasan Perkebunan Karet Batulawang. Dalam siaran dan laporan berbahasa Belanda saat itu, kawasan ini disebut sebagai rubberonderneming Batoelawak.
Kunjungan ke lokasi ini sangat beralasan mengingat kawasan Banjar Patroman, terkhusus wilayah Batulawang, memiliki nilai sejarah dan rekam jejak ekonomi yang sangat tinggi.
Pada rentang waktu antara tahun 1920 hingga 1962, Banjar Patroman diakui secara luas sebagai sentral produksi getah karet terbesar di wilayah Priangan Timur.
Baca juga: Sejarah Banjir di Lakbok Ciamis, Pemilik Sawah Pernah Dibebaskan Pajak oleh Pemerintah
Perkebunan karet di Batulawang memiliki hamparan area yang sangat luas dengan kualitas komoditas kelas atas. Sehingga pada masa kolonial daerah ini menjelma menjadi pemasok karet terkemuka yang menarik kedatangan gelombang pekerja dari luar daerah, seperti wilayah Ciamis dan Jawa Tengah.
Aktivitas industri di perkebunan Batulawang pada masa kejayaannya bahkan telah mewariskan bangunan-bangunan berarsitektur kolonial yang kokoh. Misalnya, mess perkebunan di Cisaga dan Ciaren, serta gedung administratur utama yang mengurusi cabang-cabang wilayah di Lemahneundeut.
Kunjungan Presiden Soekarno ke kawasan perkebunan Batulawang ini memperlihatkan visi utuh pemerintah di awal kemerdekaan dalam mengawal potensi agraria secara menyeluruh. Hal ini meliputi ketahanan pangan melalui bendungan pengendali banjir hingga optimalisasi komoditas perkebunan demi membangun perekonomian bangsa. (Muhafid/R6/HR-Online)

4 hours ago
8

















































