Pengrajin Anyaman Bongsang Tahu di Sumedang Kebanjiran Pesanan Jelang Idul Adha

4 hours ago 8

harapanrakyat.com,- Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, permintaan keranjang anyaman bongsang tahu di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, mengalami peningkatan. Keranjang berbahan bambu yang selama ini identik sebagai wadah tahu tersebut kini banyak diburu masyarakat untuk kebutuhan distribusi daging kurban.

Kenaikan permintaan terjadi seiring melonjaknya harga plastik di pasaran dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi itu membuat sebagian konsumen beralih menggunakan bongsang sebagai alternatif kemasan yang dinilai lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

Baca Juga: Jelang Idul Adha 1447 Hijriah, Penjualan Hewan Kurban di Sumedang Naik

Para pengrajin anyaman bongsang tahu di Dusun Andir, Desa Rancamulya, Kecamatan Sumedang Utara, merasakan langsung dampak positif dari situasi tersebut. Mereka mengaku pesanan bongsang meningkat hingga 30 persen dari hari biasa.

Salah seorang pengrajin, Dadang Gunawan mengatakan, meningkatnya permintaan menjadi peluang bagi para pengrajin untuk menambah penghasilan keluarga.

“Tentu saja (dampak naiknya harga plastik) jadi berkah bagi kami pengrajin bongsang. Jadi lebih giat lagi untuk meningkatkan penghasilan keluarga,” ungkapnya, Kamis (14/5/2026).

Baca Juga: Kerajinan Tradisional Anyaman Bambu Buatan Mak Titi asal Tasikmalaya Tembus Pasar Dubai dan Pakistan

Kerajinan Anyaman Bongsang Tahu di Sumedang Warisan Turun-temurun

Menurut Dadang, mayoritas warga di wilayah tersebut telah lama menggantungkan hidup dari kerajinan bongsang tahu yang diwariskan secara turun-temurun. Saat ini, sekitar 60 keluarga masih aktif memproduksi keranjang bambu tersebut.

Dalam sehari, setiap keluarga mampu menghasilkan sekitar 100 hingga 150 unit bongsang. Pemasaran produk hasil kerajinan warga tidak hanya di wilayah Sumedang, tetapi sudah merambah ke berbagai daerah di luar Pulau Jawa.

“Di sini memang kebanyakan pengrajin anyaman bongsang tahu, karena turun-temurun dari nenek moyang, jadi sudah membudaya,” tambahnya.

Baca Juga: Jelang Kurban, Pengrajin Besek Kota Banjar Dapat Pesanan dari Luar Kota

Penjualan bongsang dilakukan dalam dua skema, yakni kepada pengepul dan pembeli langsung. Untuk satu kantet berisi 100 keranjang, harga jual ke pengepul berada di kisaran Rp 50 ribu. Sementara pembelian langsung ke perajin harganya sekitar Rp 60 ribu per kantet.

“Kalau pengepul biasanya ada yang memberi uang muka terlebih dahulu, nanti barangnya diambil. Kalau beli langsung ke perajin, harganya beda lagi. Itu bisa Rp. 60.000 per kantet,” pungkas Dadang Gunawan. (Aang/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |