Dampak Nilai Tukar Dolar, Proyek Jalan di Jawa Barat Sempat Sepi Peminat

10 hours ago 12

harapanrakyat.com,- Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat pelaksanaan proyek infrastruktur, khususnya pengerjaan jalan milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat sepi peminat. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi tak menampik nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memberikan dampak bagi pembangunan infrastruktur.

Ia menyebut, kontraktor biasanya meminati agenda lelang proyek pembangunan jalan di Jawa Barat, tetapi beberapa waktu lalu sempat nihil peminat.

“Lelang proyek jalan sampai enggak ada peminat. Biasanya para kontraktor mengantre dan berebut, tapi kemarin tidak ada,” kata Dedi, Sabtu (6/6/2026).

Baca Juga: Targetkan Sterilisasi Kabel Udara pada 2027, Dedi Mulyadi Siap Panggil Pengusaha Jaringan Telekomunikasi

Dedi menuturkan, pemicu keengganan para pengusaha jasa konstruksi untuk mengambil proyek pemerintah karena kalkulasi nilai keuntungan. 

Sebab, kenaikan kurs dolar berimbas masif pada kenaikan harga bahan baku utama lapangan seperti semen, beton, hingga aspal hot mix.

Oleh karena itu, Pemprov Jawa Barat langsung melakukan evaluasi ulang pagu anggaran dan ruang negosiasi harga kontrak agar proyek tetap berjalan tanpa melanggar aturan.

Baca Juga: Imbas Rupiah Melemah, 140 Perajin Tahu dan Tempe di Kota Bandung Berencana Mogok Produksi 

“Kata mereka (kontraktor), enggak dapat untung karena harga beton, semen, hingga hot mix mengalami kenaikan. Tapi sekarang sudah ada peminat, setelah kami evaluasi. Masih bisa kami negosiasikan,” ujarnya.

Selain Berdampak pada Proyek Jalan, Dolar Juga Pengaruhi Kondisi Industri di Jawa Barat

Lebih lanjut, Dedi menambahkan, pelemahan kurs rupiah ini terhadap sektor industri di Jawa Barat memiliki dampak ganda atau multiplier effect.

Bagi industri yang berorientasi ekspor, penguatan mata uang dolar tentu membawa angin segar dan keuntungan berlipat.

Namun sebaliknya, bagi sektor industri domestik yang struktur produksinya masih bergantung pada impor bahan baku, kondisi saat ini menjadi pukulan yang sangat berat. 

Baca Juga: Dedi Mulyadi Tepis Stigma Negatif Jawa Barat Barbar dari Abu Janda

“Pasti ada dua variabel yang terdampak, ada yang untung dan rugi. Sektor ekspor pasti merasa untung, tetapi industri yang bahan bakunya impor tentu merugi. Kami berharap ke depan nilai tukar dolar bisa jauh lebih stabil,” tuturnya. (Reza/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |