harapanrakyat.com,- Niat hati ingin mendapat untung, seorang guru Sekolah Luar Biasa (SLB) asal Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat justru harus gigit jari setelah menjadi korban penipuan digital. Korban bernama Rivaanti Sunarya (26) ini terperangkap tipu daya komplotan penipu yang mencatut nama platform belanja online.
Tragedi yang menimpa warga perumahan Bumi Sinar Utama, Desa Utama ini berawal dari sebuah panggilan telepon misterius. Si penelepon mengabarkan berita gembira palsu. Ia menyebut Rivaanti terpilih sebagai pemenang hadiah voucher belanja senilai Rp2 juta yang bisa diuangkan.
Baca Juga: Cukup Bayar Rp50 Ribu Setahun, Petani di Ciamis Ini Rasakan Manfaat Asuransi Mikro BRI
Riwayat korban yang memang sering berbelanja daring bersama suaminya di platform tersebut membuat benteng kewaspadaannya runtuh. Tanpa ada rasa waswas, Rivaanti melayani setiap instruksi dari ujung telepon.
“Sama sekali tidak ada prasangka buruk waktu itu, karena kami memang langganan belanja di sana,” kenang Rivaanti, Rabu (3/6/2026).
Skenario penipuan pun berjalan mulus. Pelaku mula-mula meminta nomor rekening korban dengan alasan untuk mengirimkan uang hadiah. Demi memuluskan sandiwara, sang penipu bahkan mengirimkan foto bukti transfer fiktif senilai Rp2 juta ke rekening atas nama suami korban.
Modus Penipuan Digital yang Menjerat Guru SLB di Ciamis
Kecurigaan baru muncul saat pasutri ini mengecek saldo tabungan mereka yang ternyata masih kosong melompong. Bukannya sadar sedang ditipu, korban justru menuruti permintaan pelaku untuk mengirimkan foto tangkapan layar (screenshot) mutasi rekening mereka.
“Pikiran saya waktu itu, kalau cuma kasih lihat nomor rekening dan mutasi saldo, uang di dalam tabungan aman-aman saja dan tidak akan bisa diambil oleh orang lain,” jelasnya.
Namun, asumsi itu keliru. Berbekal informasi dari mutasi rekening tersebut, pelaku tampaknya berhasil membaca situasi finansial korban. Pelaku kemudian memerintahkan Rivaanti untuk memancing sistem dengan mengisi saldo ATM-nya minimal Rp350 ribu, dalihnya sebagai syarat aktivasi pencairan hadiah.
Sesaat setelah korban menyetor dana Rp350 ribu ke rekeningnya sendiri, keajaiban yang dijanjikan tidak pernah datang. Sebaliknya, uang yang baru saja dimasukkan itu justru langsung disedot habis oleh pelaku dalam hitungan detik.
Sadar telah menjadi korban penipuan digital, Rivaanti mencoba menghubungi kembali nomor tersebut, namun jalur komunikasi sudah terputus total.
“Begitu saldo terisi, uangnya langsung lenyap dan nomor pelaku langsung tidak aktif,” tutup Rivaanti dengan nada kecewa.
Tips Terhindar Penipuan Digital ala BRI Ciamis
Kasus penipuan yang menimpa Rivaanti menjadi pengingat bahwa kejahatan digital kini semakin canggih. Pelaku tidak selalu membobol sistem keamanan, tetapi memanfaatkan kepercayaan dan kelengahan calon korbannya.
Manajer Bisnis Mikro BRI Ciamis, Mochamad Heru Yudha, mengatakan masyarakat harus lebih berhati-hati saat menerima telepon, pesan singkat, maupun tautan yang mengatasnamakan bank, perusahaan, atau platform belanja online.
Menurutnya, salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah memberikan informasi penting kepada orang yang tidak dikenal. Padahal, data seperti kode OTP, PIN, password, maupun informasi rekening merupakan hal yang tidak boleh dibagikan kepada siapa pun.
“Petugas bank tidak pernah meminta OTP kepada nasabah. Jika ada yang meminta data tersebut, masyarakat harus langsung curiga,” ujar Heru.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mengklik tautan yang dikirim melalui SMS, WhatsApp, email, atau media sosial. Sebab, tidak sedikit pelaku penipuan yang menggunakan situs palsu untuk mencuri data pribadi maupun informasi perbankan korbannya.
Selain itu, Heru menilai penipu umumnya menggunakan cara-cara yang membuat korban panik dan terburu-buru mengambil keputusan. Misalnya dengan mengabarkan akun akan diblokir, hadiah akan hangus, atau meminta korban segera melakukan transfer uang.
“Kalau ada pihak yang mendesak untuk segera mengambil keputusan, sebaiknya jangan langsung percaya. Pastikan dulu kebenaran informasinya melalui saluran resmi,” katanya.
Baca Juga: Kisah Ari dan Andi Bertahan di Tengah Sepinya Pasar Ciamis
Verifikasi Lewat Call Center
Heru menyarankan masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi dengan menghubungi call center resmi perusahaan atau bank sebelum mengikuti instruksi apa pun. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat mencegah kerugian akibat berbagai modus penipuan digital.
Ia menambahkan, masyarakat juga perlu lebih waspada terhadap tawaran yang terdengar terlalu menggiurkan, seperti hadiah mendadak, investasi dengan keuntungan besar tanpa risiko, maupun pekerjaan dengan penghasilan fantastis tanpa proses yang jelas.
“Biasanya kalau tawarannya terlalu bagus dan menguntungkan, masyarakat perlu lebih berhati-hati. Jangan sampai tergoda sebelum melakukan pengecekan terlebih dahulu,” ucapnya.
Heru menegaskan, sebagian besar kasus penipuan digital terjadi bukan karena sistem keamanan berhasil diretas. Justru pelaku memanfaatkan kepercayaan korban untuk memperoleh akses terhadap data dan uang yang dimiliki.
Baca Juga: Dari Lapak Sembako di Pasar Ciamis, Ajat Sulap Cuan BRILink Jadi Usaha Laundry dan Kontrakan
“Yang perlu diingat, penipu sering kali tidak meretas sistem. Mereka meretas kepercayaan kita. Karena itu, sebelum mengklik tautan, mentransfer uang, atau memberikan data pribadi, pastikan terlebih dahulu kebenaran informasi yang diterima,” pungkasnya. (Fahmi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

18 hours ago
15

















































