Penemuan Galaksi Kuno LAP1-B, Mengungkap Masa Lalu Alam Semesta

7 hours ago 11

Penemuan galaksi kuno LAP1-B oleh Teleskop Antariksa James Webb (JWST) telah membuka babak baru dalam pemahaman mengenai fase awal pembentukan alam semesta. Melalui kemampuan spektroskopi inframerah yang canggih, teleskop milik NASA ini berhasil menangkap objek astronomi sangat redup dan berasal dari Era Reionisasi. Hal ini sekitar 800 juta tahun setelah peristiwa Dentuman Besar (Big Bang). 

Baca Juga: Penemuan Galaksi Kuno Loki, Tempat Kumpulan Bintang Pembentuk Bimasakti

Karakteristik Kimia Unik di Galaksi Kuno LAP1-B

Penelitian mendalam terhadap struktur fisik dan kimiawi galaksi kuno LAP1-B dipimpin oleh Profesor Madya Kimihiko Nakajima dari Universitas Kanazawa. Hasil studi komprehensif ini telah resmi publish pada tanggal 13 Mei dalam jurnal ilmiah terkemuka, Nature. Analisis data spektral ini terkumpul secara intensif selama lebih dari 30 jam pengamatan. Objek kosmik juga tercatat sebagai galaksi dengan tingkat kandungan logam atau metalisitas paling rendah yang pernah ada pada alam semesta awal. 

Dalam istilah sains astronomi, unsur logam merujuk pada seluruh elemen kimia yang memiliki bobot lebih berat daripada hidrogen dan helium. Fakta bahwa objek ini memiliki kadar logam yang sangat minimal menandakan bahwa sistem ini terbentuk pada masa sangat primitif. Hal itu jauh sebelum elemen-elemen berat melimpah dalam ruang angkasa akibat siklus kematian bintang.

Spektroskopi instrumen James Webb juga merilis data. Data menunjukkan bahwa kadar oksigen dalam galaksi kuno LAP1-B hanya berkisar 1/240 dari jumlah proporsi oksigen yang dimiliki oleh Matahari kita saat ini. Angka ekstrem tersebut berhasil memecahkan rekor sebagai nilai kandungan oksigen terendah yang pernah ilmuwan dokumentasikan dalam sejarah observasi ruang angkasa luar. 

Selain tingkat oksigen yang sangat rendah, rasio perbandingan antara elemen karbon dan oksigen di pada wilayah kosmik tersebut sangat selaras. Yakni, dengan model teoritis mengenai material hasil sisa ledakan supernova dari generasi bintang Populasi III (Gugus III).

Pemanfaatan Fenomena Lensa Gravitasi Alamiah

Pengamatan langsung terhadap galaksi kuno LAP1-B tentu mustahil terjadi tanpa bantuan fenomena alamiah yang unik. Hal tersebut mengingat jaraknya mencapai miliaran tahun cahaya serta tingkat intensitas cahayanya yang sangat lemah. Untuk mengatasi kendala teknis tersebut, tim astronom internasional memanfaatkan keberadaan gugusan galaksi raksasa. Posisi gugusan tersebut berada tepat antara Planet Bumi dan objek target observasi. 

Gugusan galaksi masif ini bertindak sebagai lensa gravitasi alamiah. Mereka bekerja membelokkan sekaligus memperkuat pancaran cahaya dari objek belakang hingga mencapai 100 kali lipat lebih terang. Metode fisis ini memberikan visualisasi struktural yang jauh lebih tajam dan detail bagi instrumen sensitif milik James Webb untuk melakukan analisis spektroskopi mendalam.

Baca Juga: Galaksi NGC 3137 Tertangkap Hubble, Punya Lubang Hitam Supermasif di Pusatnya

Selain komposisi kimianya yang sangat primitif, objek luar angkasa ini juga diketahui memiliki akumulasi massa bintang luar biasa kecil. Ukurannya yakni kurang dari 3.300 kali lipat dari massa Matahari. Ukuran yang sangat minimalis ini memberikan petunjuk kuat tentang komponen pembentuk massa galaksi. Kemungkinan besar tidak berupa materi tampak yang memancarkan cahaya. Melainkan tersimpan rapat dalam struktur halo materi gelap (dark matter halo) yang menyelubunginya. 

Kombinasi unik antara volume massa bintang yang sangat rendah serta sifat kimiawi purba ini menempatkan objek tersebut dalam kategori karakteristik. Ini sangat identik dengan Galaksi Kerdil Ultra-Redup (Ultra-Faint Dwarf Galaxies atau UFD). Galaksi kerdil saat ini banyak mengorbit sekitar pinggiran Galaksi Bima Sakti.

Implikasi Temuan Terhadap Teori Fosil Kosmik

Para ahli astronomi modern sering kali mengategorikan kelompok galaksi kuno LAP1-B sebagai fosil hidup alam semesta. Alasannya karena sistem tersebut melestarikan bintang-bintang purba yang perkiraan usianya telah melebihi 12 miliar tahun. 

Profesor Masami Ouchi, salah satu pakar senior yang terlibat dalam studi ini, menjelaskan bahwa komunitas ilmuwan telah sejak lama menduganya. Galaksi kerdil ultra-redup merupakan sisa-sisa otentik dari struktur galaksi pertama yang lahir di kosmos. Namun, pembuktian hubungan silsilah evolusi langsung secara empiris selalu terhambat oleh keterbatasan teknologi teleskop pada masa lampau.

Baca Juga: Supergugus Galaksi Vela Dipetakan, Membentang 300 Juta Tahun Cahaya

Penemuan galaksi kuno LAP1-B membuktikan keandalan luar biasa dari instrumen teknologi inframerah modern. Tentunya, dalam memecahkan teka-teki besar kosmologi awal. Melalui karakteristik kimiawi murni dan struktur massa bintang yang minimal, galaksi kuno LAP1-B berfungsi sebagai jendela waktu sempurna. Hal ini untuk mempelajari kondisi alam semesta sesaat setelah peristiwa Dentuman Besar. Temuan ini tidak hanya melengkapi puzzle evolusi kosmik. Tetapi juga memperkuat teori fisis mengenai asal-usul galaksi kerdil ultra-redup yang bertahan hingga era modern. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |