Situs Bukit Tongtu menjadi salah satu temuan arkeologi yang cukup menarik di Kabupaten Cianjur. Meski belum sepopuler beberapa situs lain di Jawa Barat, Bukit Tongtu tetap menyimpan berbagai peninggalan penting. Terutama adanya susunan batu kuno yang menunjukkan jejak kehidupan serta kepercayaan masyarakat pada masa lampau.
Baca Juga: Bukan Piramida, Ini Bentuk Situs Megalitikum Gunung Padang Cianjur Jabar
Keberadaan batu-batu tersebut memperlihatkan bahwa kawasan Cianjur memiliki warisan megalitik yang cukup luas. Semua temuan tersebar di puncak bukit dan diduga berkaitan dengan kegiatan ritual masyarakat pendukung tradisi megalitik. Letaknya yang tinggi pun memperkuat dugaan bahwa kawasan Tongtu dulunya adalah tempat sakral.
Situs Bukit Tongtu dengan Susunan 11 Monolit Besar
Situs ini terletak di Desa Sukagalih, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Masyarakat setempat juga mengenalnya sebagai Pasir Tangtu. Nama Tongtu sendiri konon berkaitan dengan Hyang atau sosok Yang Maha Esa. Masyarakat percaya sosok Hyang bersemayam di tempat-tempat tinggi.
Lokasi peninggalan megalitik berada di puncak bukit dengan ketinggian sekitar 700 mdpl. Kawasan di sekelilingnya berupa lembah serta perbukitan yang menjulang. Kondisi geografis tersebut menjadikan puncak Bukit Tongtu memiliki posisi yang cukup menonjol daripada wilayah di sekitarnya.
Untuk mencapai lokasi Situs Tongtu, pengunjung harus berjalan kaki melalui jalur yang menanjak. Perjalanan menuju puncak membutuhkan jarak sekitar tiga kilometer. Jalur tersebut melewati padang ilalang dan semak belukar yang cukup lebat. Sehingga perjalanan dapat menjadi lebih sulit ketika musim penghujan tiba.
Baca Juga: Situs Pasir Lulumpang, Jejak Punden Berundak Megalitik yang Tersembunyi di Garut
Pada masa penelitian arkeologi, kondisi vegetasi di sekitar situs juga masih cukup rapat. Semak belukar bahkan menutup sebagian kawasan di sekitar tinggalan batu. Karena itu, para peneliti menduga masih terdapat kemungkinan adanya temuan lain yang belum terlihat atau belum dapat diteliti secara menyeluruh.
Penelitian terhadap Situs Bukit Tongtu pernah dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional atau Puslit Arkenas pada 1985. Hasil penelitian tersebut kemudian tercatat dalam laporan mengenai peninggalan tradisi megalitik di wilayah Cianjur. Dari penelitian itu, para arkeolog mengidentifikasi sedikitnya empat jenis tinggalan utama, meliputi:
1. Batu Temu Gelang Utama
Temuan paling menonjol di Situs Tongtu berupa struktur batu temu gelang atau stone enclosure. Struktur ini tersusun dari 11 monolit dengan ukuran yang berbeda-beda. Susunan batunya memiliki orientasi barat laut hingga tenggara. Salah satu monolit terbesar berada di bagian tenggara dan menjadi pusat penting dalam struktur tersebut. Permukaannya relatif rata serta memiliki dua lubang dengan ukuran berbeda.
Masyarakat setempat juga mengenal batu atau menhir berbentuk bulat di kawasan tersebut dengan sebutan batu guling. Menhir itu kini berada di atas batu besar yang datar. Di bagian tengah susunan batu juga terdapat sebuah batu besar yang telah terbelah menjadi dua bagian. Secara keseluruhan, struktur batu temu gelang utama memiliki ukuran sekitar 8,5 meter dengan lebar enam meter.
Para peneliti belum dapat memastikan secara pasti fungsi struktur ini. Di berbagai daerah Indonesia, struktur batu gelang dapat berkaitan dengan pemakaman maupun kegiatan upacara. Menariknya, terdapat cerita yang menghubungkan struktur tersebut dengan pemujaan terhadap matahari. Menurut kepercayaan yang berkembang, suatu upacara mampu mencapai tujuan ketika sinar matahari mengenai menhir. Kemudian membentuk garis dengan batu di bagian tengah.
2. Batu Datar
Situs Bukit Tongtu juga memiliki sebuah batu datar dengan permukaan yang relatif rata dan halus. Pada awal penelitian, batu ini sempat tim duga sebagai dolmen karena kemungkinan terdapat batu penyangga di bawahnya. Namun, penelitian lebih lanjut tidak menemukan batu-batu penyangga seperti perkiraan sebelumnya.
Kemudian peneliti memandangnya sebagai temuan lepas. Artinya tidak memiliki hubungan struktur secara langsung dengan batu-batu lain di sekitarnya. Batu datar tersebut memiliki panjang sekitar 115 cm, lebar 80 cm dan tebal 45 cm. Keberadaannya sangat penting dalam penelitian tradisi megalitik karena seringkali memiliki hubungan dengan aktivitas upacara.
3. Batu Berlubang
Temuan lain berupa batu berlubang yang berada di sebelah barat batu datar. Jaraknya sekitar delapan meter. Batu tersebut berada dalam posisi miring ke arah utara dan memiliki orientasi timur-barat. Panjangnya sekitar 120 cm, lebar 65 cm dan tebal 55 cm. Lubang di bagian permukaannya berdiameter sekitar 12,5 cm dengan kedalaman 3,5 cm.
4. Batu Temu Gelang Sekunder
Di samping struktur utama, terdapat pula batu temu gelang berukuran lebih kecil di sebelah utara kompleks batu guling. Struktur kedua ini tersusun dari tujuh monolit berukuran cukup besar. Beberapa batu di bagian tenggara dan barat laut menjadi bagian yang paling menonjol. Dua batu besar di kawasan tersebut konon berasal dari satu pecahan batu yang sama.
Di dekatnya juga terdapat batu berbentuk silinder dalam posisi roboh yang kemungkinan dahulu berdiri tegak sebagai menhir. Keberadaan batu datar yang berdampingan dengan batu tegak menarik perhatian para peneliti. Kombinasi kedua bentuk pernah dikaitkan dengan simbol perempuan dan laki-laki. Seperti sejumlah tradisi megalitik yang dikenal di wilayah lain Indonesia.
Baca Juga: Makam Waruga Minahasa, Kuburan Kuno dari Zaman Megalitikum
Keberadaan Situs Bukit Tongtu menunjukkan bahwa wilayah Cianjur menyimpan jejak tradisi megalitik yang penting. Pemerintah terus memberikan perlindungan terhadap kawasan ini. Situs Bukit Tongtu telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya Kabupaten Cianjur melalui Keputusan Bupati Cianjur Nomor 431/398.b/Disbudpar/2010. Penetapan tersebut menjadi langkah krusial guna menjaga peninggalan megalitik yang berada di kawasan Pasir Tangtu. (R10/HR-Online)

11 hours ago
11

















































