harapanrakyat.com,- Kasus anak meninggal dunia diduga akibat gigitan ular berbisa di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menyisakan sejumlah hal penting untuk diketahui.
Harapan Rakyat yang menyambangi Puskesmas Cikoneng bersama Komisi D DPRD Ciamis diperlihatkan CCTV yang menunjukkan korban masih ceria bahkan lari-lari saat dibawa orang tuanya ke fasilitas kesehatan tersebut.
Saat itu, korban sempat mengalami pembengkakan pada jari setelah bermain di sungai. Orang tuanya tidak mengetahui jika sang anak diduga digigit ular. Mereka hanya khawatir melihat jari kelingking korban yang membengkak.
Orang tua korban kemudian membawa anaknya ke Puskesmas Cikoneng. Saat diperiksa, kondisi korban masih terlihat sehat. Ia bahkan masih bisa berlari-larian seperti biasa.
Petugas Puskesmas Cikoneng kemudian melakukan observasi selama 30 menit sebelum korban diperbolehkan pulang atas permintaan orang tuanya. Petugas juga memberikan antibiotik kepada korban.
Setelah pulang ke rumah dan mengonsumsi obat tersebut, kondisi korban tiba-tiba memburuk. Anak itu mengalami kejang dan mengeluarkan busa dari mulut hingga akhirnya meninggal dunia. Hasil pemeriksaan laboratorium di RSUD Ciamis kemudian menunjukkan adanya kandungan bisa ular dalam tubuh korban.
Baca Juga: Penanganan Pasien Diduga Gigitan Ular Dinilai Tak Profesional, DPRD Ciamis Sidak Puskesmas Cikoneng
Kasus tersebut mendapat perhatian dari Joehanes Liem, pecinta reptil yang tergabung dalam komunitas Pet Lover Ciamis. Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa korban gigitan ular tidak selalu langsung menunjukkan gejala berat.
“Sebagai orang yang akrab dengan dunia reptil, hati saya hancur mendengar berita ini. Tapi kasus ini menyimpan banyak pelajaran penting yang wajib kita pahami bersama,” ujar pria 39 tahun yang akrab disapa Akong tersebut, Selasa (1/9/2026).
Kasus Anak Meninggal Dunia karena Gigitan Ular di Ciamis, Gejala Tak Selalu Langsung Berat
Pria yang mengaku kerap berkonsultasi dengan dokter spesialis toksinologi ular berbisa, Tri Maharani tersebut menjelaskan, pada beberapa jenis gigitan ular, terutama ular yang memiliki bisa menyerang sistem saraf, gejala berat tidak selalu muncul sesaat setelah gigitan.
Korban bisa saja masih terlihat sehat, aktif, bahkan bermain seperti biasa. Kondisi itu, kata Joehanes, tidak bisa dijadikan patokan bahwa korban berada dalam kondisi aman. “Jadi anak yang tadinya terlihat baik-baik saja, bisa mendadak drop,” katanya.
Menurut Akong, hal tersebut menjadi alasan pentingnya kewaspadaan ketika seseorang, terutama anak-anak, mengalami luka atau pembengkakan yang tidak diketahui penyebabnya setelah bermain di luar rumah.
“Jangan pernah sepelekan luka gigitan, goresan misterius, atau rasa bengkak tanpa sebab yang jelas pada anak,” katanya.
Baca Juga: Ular King Cobra 3 Meter Bikin Geger Pekerja Proyek Jembatan di Ciamis, Damkar Turun Tangan
Ia juga menyoroti pentingnya observasi medis apabila terdapat kecurigaan gigitan ular atau hewan berbisa. Terlebih jika jenis ular yang menggigit tidak diketahui.
“Standar observasi gigitan ular atau hewan berbisa di fasilitas kesehatan itu bukan cuma 30 menit. Korban gigitan ular harus diobservasi 2×24 jam untuk gigitan ular yg belum teridentifikasi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan, obat biasa yang diberikan setelah seseorang mengalami gigitan ular tidak dimaksudkan untuk menetralisir bisa ular. Penanganan terhadap gigitan ular berbisa, menurut dia, memerlukan evaluasi medis dan terapi yang sesuai dengan kondisi serta dugaan jenis bisa ular. “Kita sedang berpacu dengan waktu sebelum bisa menyebar luas,” katanya.
Orang Tua Diminta Perhatikan Area Bermain Anak
Akong juga meminta orang tua lebih memperhatikan lingkungan tempat anak bermain. Sejumlah jenis ular dapat ditemukan di area yang lembab, tumpukan material bangunan, semak-semak, hingga lingkungan sekitar permukiman.
“Kenali lingkungan sekitar. Ular, terutama yang berbisa tinggi seperti Ular Tanah (Calloselasma rhodostoma) atau jenis Bungarus candidus, Bungarus fasciatus, welang atau weling, sering menyukai tempat lembap, tumpukan bata, atau semak-semak dekat pemukiman,” katanya.
Ia berharap kasus tersebut menjadi pembelajaran agar masyarakat tidak menunggu munculnya gejala berat sebelum membawa korban ke fasilitas kesehatan. “Semoga almarhum ananda tenang di sisi-Nya dan keluarga diberikan ketabahan,” tandasnya.
Kasus anak meninggal dunia diduga karena gigitan ular sebelumnya juga mendapat sorotan DPRD Kabupaten Ciamis. Komisi D DPRD Ciamis melakukan inspeksi mendadak atau sidak ke Puskesmas Cikoneng untuk meminta penjelasan terkait penanganan pasien yang diduga mengalami gigitan ular.
Baca Juga: Kemarau Panjang, Debit Air Situ Wangi Ciamis Menyusut
Sidak dilakukan setelah muncul sorotan terhadap pelayanan dan penanganan korban sebelum akhirnya meninggal dunia. DPRD Ciamis menilai persoalan tersebut perlu ditelusuri untuk mengetahui rangkaian penanganan pasien sejak pertama kali datang ke fasilitas kesehatan hingga dirujuk. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)

8 hours ago
6

















































