harapanrakyat.com,- Perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) tahun 2026 menjadi momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia. Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar menegaskan, kerukunan umat beragama di tanah air saat ini mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah kemerdekaan dengan indeks mencapai 87 persen.
Capaian tersebut memperkuat posisi Indonesia untuk menjadi model pluralisme produktif bagi dunia internasional.
Baca Juga: Kabar Gembira! Kemenag Buka Beasiswa PJJ untuk Guru Mengaji, Simak Syarat dan Jadwalnya
Pesan Damai Perayaan Waisak 2570 BE dari Borobudur dan Jakarta
Puncak peringatan Waisak yang dipusatkan di Candi Borobudur, Jawa Tengah, serta Vihara Mahavira Graha Pusat, Jakarta, dihadiri oleh puluhan ribu umat dan Sangha mancanegara dari belasan negara.
Menag Nasaruddin mengajak umat Buddha untuk terus menyalakan “pelita kedamaian” dan memperkuat nilai welas asih dalam kehidupan sehari-hari.
“Waisak bukan sekedar seremoni keagamaan, melainkan momentum refleksi untuk memperkuat nilai kemanusiaan universal,” ujar Nasaruddin Umar dalam sambutannya saat puncak perayaan Waisak 2570 BE di hadapan tokoh lintas agama di Vihara Mahavira Graha Pusat, Jakarta, Minggu (31/5/2026).
Ia menilai ajaran Buddha tentang jalan tengah dan cinta kasih tanpa syarat sangat relevan dalam menghadapi krisis global. Mulai dari konflik sosial hingga tantangan kesehatan mental masyarakat modern.
Transformasi Pendidikan: Kurikulum Berbasis Cinta
Sebagai langkah konkret memperkuat fondasi moral bangsa, Kementerian Agama kini tengah gencar mengembangkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan ekoteologi.
Paradigma baru ini mengusung konsep “Mendidik dengan Hati” melalui Panca Cinta: Cinta Allah dan Rasul-Nya, Cinta Ilmu, Cinta Lingkungan, Cinta Diri dan Sesama. Serta Cinta Tanah Air.
Baca Juga: Merajut Keberagaman Agama di Ciamis, Hidup Rukun Bukan Rekayasa
Kurikulum ini merupakan bagian dari Rencana Strategis (Renstra) Kemenag 2025-2029 yang tertuang dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 17 Tahun 2025.
Tujuannya adalah menciptakan transformasi karakter agar peserta didik memiliki empati tinggi dan sikap inklusif. Sekaligus menanggulangi krisis nilai seperti perundungan dan intoleransi di dunia pendidikan.
Visi Indonesia Emas 2045
Pembangunan di bidang agama kini diarahkan untuk mendukung visi besar “Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045”.
Menag menekankan bahwa kerukunan adalah faktor fundamental yang memungkinkan masyarakat menikmati hasil pembangunan. Keberadaan simbol seperti Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta menjadi bukti nyata harmoni yang diakui secara internasional.
Selain itu, Kemenag juga mendorong konsep Ekoteologi. Yakni cara pandang iman yang menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual. Integrasi nilai-nilai agama dengan kepedulian ekologis ini diharapkan dapat melahirkan peradaban yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga: Pagelaran Seni dan Budaya Lintas Agama, Simbol Keberagaman di Kota Banjar
“Dharma bukan sekedar ajaran, melainkan pelita kehidupan yang menuntun manusia tetap teguh di tengah dinamika zaman,” pungkas Menag dalam pesannya untuk perdamaian dunia.
Melalui momentum perayaan Waisak 2570 BE dan penguatan moderasi beragama serta kolaborasi lintas iman, Indonesia optimis dapat terus merawat keberagaman sebagai anugerah yang menyatukan bangsa. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

1 day ago
9

















































