Masyarakat Adat Kampung Naga Tasikmalaya Konsisten Jaga Tradisi Bangunan Tanpa Semen dan Bata

8 hours ago 7

harapanrakyat.com,- Di tengah gempuran modernisasi, masyarakat adat Kampung Naga di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, tetap teguh menjaga tradisi leluhur.

Mereka berkomitmen merawat lingkungan dengan menolak penggunaan material modern seperti semen dan bata untuk bangunan rumah. Sehingga nuansa kearifan lokal begitu terasa melalui arsitektur permukiman yang seragam dan tradisional di kawasan lembah subur tersebut.

Baca Juga: Sejarah Kampung Naga Tasikmalaya Musnah Dibakar Gerombolan, Warga Tetap Pertahankan Adat Leluhur

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa tidak ada satupun dari 109 bangunan di kampung ini yang menyentuh semen atau bata. Semua struktur bangunan berupa rumah panggung berbahan kayu, berdinding sasag (anyaman bambu). Serta beratap ijuk hitam pekat dari pohon aren.

Rendy Armady, salah seorang pemuda setempat mengatakan, arsitektur organik ini merupakan bentuk komitmen dalam merawat warisan leluhur, agar seluruh material bangunan dapat kembali ke alam tanpa menyisakan limbah kimiawi ketika sudah lapuk.

“Leluhur kami mendesain bangunan ini dengan makna ekologis yang mendalam. Semua materialnya menggunakan bahan organik,” kata Rendy saat berbincang dengan harapanrakyat.com di pelataran kampung, belum lama ini.

Filosofi Arsitektur dan Hukum Ekologis Masyarakat Adat Kampung Naga Tasikmalaya

Baca Juga: Kunjungan KDM Tengah Malam Berujung Penutupan Kampung Naga Tasikmalaya Selama Tiga Bulan

Lebih lanjut Rendy menjelaskan, sikap hidup berdampingan dengan alam di wilayah ini diatur oleh hukum adat yang ketat melalui konsep keberlanjutan yang membagi wilayah menjadi zona ekologis yang rigid.

Salah satu bukti kearifan lokal yang paling menonjol adalah keberadaan Hutan Larangan (Leuweung Larangan) di seberang Sungai Ciwulan.

“Salah satu bukti kearifan lokal di sini adalah keberadaan hutan atau Leuweung Larangan. Hutan yang terletak di seberang Sungai Ciwulan ini merupakan kawasan steril yang tidak boleh diinjak atau dieksploitasi oleh siapapun,” jelasnya.

Rendy menegaskan, bagi generasi muda adat, hutan tersebut adalah instrumen sains tradisional untuk mencegah longsor dan menjaga kelestarian mata air.

Baca Juga: Menjaga Kemurnian di Lembah Salawu: Rahasia Keteguhan Adat Istiadat Kampung Naga Tasikmalaya

Melalui kepatuhan mutlak dari sekitar 102 kepala keluarga terhadap aturan leluhur, masyarakat adat Kampung Naga membuktikan bahwa kelestarian bumi tidak selalu memerlukan teknologi rumit.

Praktik hidup ini menunjukkan keseimbangan alam dapat terjaga melalui kerendahan hati manusia untuk membatasi keserakahannya sendiri dalam memanfaatkan sumber daya alam. (Rafi/R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |