harapanrakyat.com,- Banyak orang tidak menyadari bahwa sejarah penemuan Candi Borobudur bermula dari rasa penasaran Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814. Dalam catatan sejarah Indonesia, Ia mendapatkan informasi berharga tentang adanya monumen besar yang terkubur di pedalaman Kedu. Saat itu, ia sedang melakukan inspeksi di Semarang.
Baca juga: Asal-usul Candi Borobudur, Peninggalan Dinasti Syailendra yang Pernah Dicuri dan Dijarah
Sebelumnya, bangunan megah ini sempat menghilang dari catatan peradaban selama berabad-abad lamanya akibat bencana alam. Letusan dahsyat Gunung Merapi tahun 1006 dan tebalnya vegetasi hutan tropis menyembunyikan eksistensinya. Oleh karena itu, warga sekitar hanya menganggapnya sebagai bukit angker.
Awal Mula Sejarah Penemuan Candi Borobudur
Raffles yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris segera mengutus insinyur Belanda bernama H.C. Cornelius untuk menyelidiki kebenaran kabar tersebut ke lokasi. Cornelius membawa sekitar dua ratus orang penebang kayu dan penggali tanah. Mereka membersihkan semak belukar lebat yang menutupi bukit batu itu.
Pekerjaan pembersihan awal ini memakan waktu sekitar enam minggu yang sangat melelahkan karena medan yang sulit. Mereka harus menyingkirkan lapisan tanah vulkanik yang telah mengeras dan memotong akar pepohonan raksasa yang melilit kuat pada batuan candi.
Baca juga: Mengenal Batik Realif, Cara Baru Lestarikan Candi Borobudur
Cornelius akhirnya berhasil menemukan lorong-lorong galeri dan ratusan arca Buddha yang kondisinya sebagian besar sudah runtuh berantakan. Ia membuat sketsa kasar temuan tersebut dan melaporkannya kepada Raffles. Kemudian, Raffles memperkenalkan situs ini ke dunia barat melalui bukunya The History of Java.
Namun, penggalian Cornelius belum menyingkap seluruh bagian candi karena ancaman longsor yang sangat tinggi pada saat itu. Bagian kaki candi yang asli atau hidden foot masih tertutup tanah penahan yang sengaja dibiarkan. Hal ini dilakukan untuk menjaga kestabilan struktur bangunan di atasnya.
Penemuan ini memicu minat besar dari kalangan pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk melakukan riset lanjutan yang lebih mendalam. Sayangnya, situs ini sempat menjadi korban penjarahan artefak. Banyak arca-arca kepalanya dipenggal untuk dijadikan suvenir oleh para kolektor barang antik.
Dokumentasi Visual Pertama dan Pemugaran Awal Van Erp
Upaya dokumentasi ilmiah dilanjutkan oleh Residen Kedu bernama C.L. Hartmann yang membersihkan seluruh area situs budaya tersebut dari sisa tanah pada tahun 1835. F.C. Wilsen kemudian ditugaskan membuat gambar detail relief yang membantu para ahli epigrafi memahami cerita yang terpahat di dinding batu tersebut.
Fotografer Isidore van Kinsbergen kemudian berhasil mengabadikan foto pertama Borobudur secara profesional pada tahun 1873 setelah membersihkan lumut yang menempel. Foto-foto hitam putih inilah yang membuka mata dunia internasional akan keagungan arsitektur masa lalu. Sebelumnya, keagungan itu tersembunyi di pedalaman Jawa.
Baca juga: Mengungkap Metode Thomas Stamford Raffles Menulis Buku The History of Java
Pemugaran teknis pertama baru dilakukan secara serius dan terstruktur oleh Theodoor van Erp pada kurun waktu tahun 1907 hingga 1911. Ia membongkar dan menyusun ulang stupa induk serta memperbaiki dinding-dinding galeri yang miring. Hal ini penting agar bangunan tidak runtuh total karena faktor usia.
Van Erp juga mencoba mengembalikan bentuk asli chattra atau payung susun tiga di puncak stupa utama, meskipun akhirnya dilepas kembali karena kurangnya data batu asli. Dedikasi Van Erp menjadi fondasi penting bagi proyek pemugaran besar-besaran. Proyek ini kelak dilakukan oleh pemerintah Indonesia bersama UNESCO.
Kini monumen ini telah berdiri tegak kembali setelah melalui proses penyelamatan panjang dari ancaman alam dan kelalaian manusia. Memahami sejarah penemuan Candi Borobudur membuat kita semakin menghargai upaya pelestarian warisan budaya dunia yang tak ternilai harganya ini. (Muhafid/R6/HR-Online)

2 weeks ago
29

















































