Kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih kembali menjadi sorotan dunia dengan digelarnya Jatiluwih Festival VII 2026. Mengangkat tema utama “In Balance with Nature, Inspired by Tradition”, festival ini resmi dibuka pada Sabtu (20/6/2026) sebagai simbol keharmonisan antara alam, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat agraris Bali.
Penyelenggaraan tahun ini terasa istimewa karena untuk pertama kalinya Jatiluwih Festival berhasil masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata RI.
Hal ini menjadi bukti konsistensi masyarakat lokal dalam menjaga nilai tradisi di tengah arus modernisasi pariwisata.
Jatiluwih Festival VII 2026 Lebih dari Sekadar Pemandangan Sawah Terasering
Manajer DTW Jatiluwih sekaligus Ketua Panitia, John K. Purna menegaskan, festival ini bukan sekadar ajang promosi, melainkan upaya konkret dalam pelestarian sistem Subak.
Sebagai warisan budaya yang telah mendapat pengakuan UNESCO, Subak merupakan manifestasi nyata dari filosofi Tri Hita Karana, hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.
Keberhasilan Jatiluwih di kancah internasional pun terus berlanjut. Selain status Warisan Budaya Dunia UNESCO sejak 2012, kawasan ini telah meraih berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya Best Tourism Village oleh UN Tourism (2024), Top 100 Green Destination (2025). Serta Leading UNESCO Culture Landscape Tourism Destination pada Asian Tourism and Hospitality Awards 2026.
Pertanian Sebagai Fondasi, Pariwisata Adalah Bonus
Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi festival yang telah memasuki tahun ketujuh ini. Baginya, Jatiluwih adalah representasi peradaban agraris Bali yang harus tetap terjaga dari ancaman alih fungsi lahan.
“Pertanian adalah pilar utama Kabupaten Tabanan. Pariwisata merupakan bonus yang harus dikelola dengan tetap menjaga keberlanjutan alam dan budaya,” tegas Sanjaya.
Baca Juga: Meriahkan Jatiluwih Festival VII & Bali Tourism Run 2026: Sensasi Lari di Warisan Dunia UNESCO
Ia juga menyoroti keunggulan Subak yang terletak pada tata kelola distribusi air yang adil dari hulu hingga hilir. Ini merupakan sebuah keunggulan kompetitif yang mendapat pengakuan dunia ketimbang daerah lain.
Melalui Jatiluwih Festival VII 2026 ini, Sanjaya berharap seluruh elemen masyarakat, mulai dari petani hingga pelaku UMKM, merasakan dampak ekonomi langsung.
Menjaga Keaslian Lanskap dan Arsitektur Tradisional
Menghadapi tantangan pariwisata masa depan, Pemerintah Kabupaten Tabanan berkomitmen untuk melakukan penataan kawasan secara bijaksana.
Pembangunan fasilitas pendukung seperti area parkir agar tidak merusak panorama alam. Serta tetap mengedepankan arsitektur tradisional Bali yang selaras dengan lingkungan.
Baca Juga: Harmoni Alam dan Budaya: 10 Aktivitas Eksklusif untuk Pengalaman Liburan di Ubud Bali
Acara pembukaan juga dimeriahkan dengan dukungan terhadap Bali Tourism Run yang diselenggarakan oleh ASITA Bali. Ini menunjukkan sinergi antara olahraga, pelestarian lingkungan, dan sektor pariwisata.
Festival ini juga membawa harapan baru bagi kesejahteraan petani setempat sebagai garda terdepan penjaga warisan budaya Bali. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

2 hours ago
3
















































