Dalam sejarahnya, terjadi tragedi demo yang mengakibatkan Dokter Soebandrio dipukul Jepang. Kisah kelam ini berlangsung lantaran Dokter Soebandrio menolak aksi cukur gundul yang berlaku di almamaternya. Akibat kejadian tersebut, ia harus kehilangan pekerjaan, kemudian beralih haluan menjadi politikus hingga menjadi salah satu orang terpenting pada masa Soekarno.
Baca Juga: Fasisme Jepang di Indonesia, Catatan Luka Sejarah dari Penjajah Negeri Sakura
Dokter Soebandrio Dipukul Jepang Akibat Aturan Penggundulan
Pada masa penjajah Jepang di Indonesia, seluruh siswa di negeri jajahan harus “gundul”. Hal ini berlaku di setiap institusi pendidikan wajib, di mana kepala siswa harus digunduli. Cukur gundul tersebut wajib untuk semua jenjang, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Cukur Gundul sebagai Tradisi Jepang
Dalam tradisi kebudayaan Jepang, kepala gundul bagi laki-laki membawa makna tersendiri. Sebab, kepala gundul ini mencerminkan sikap kedisiplinan, kerapian dan kekuatan prajurit militer bagi siswa laki-laki. Nah, berdasarkan budaya tersebut, tentara Jepang kerap terlibat dalam upaya penertiban murid agar mereka mengikuti aturan tanpa perlawanan.
Namun, kebanyakan orang Indonesia menolak aturan tersebut. Mereka menggap bahwa kepala merupakan bagian tubuh yang sakral, sehingga tak boleh menyentuh sembarangan. Terlebih jika dilakukan dengan upaya paksa.
Penentangan dari Mahasiswa Indonesia
Sebagai informasi, aturan kebijakan cukur gundul yang terjadi merupakan upaya penjajah Jepang untuk menerapkan benih fasisme di berbagai wilayah jajahannya. Tak heran jika aturan ini mendapatkan banyak penolakan, terlebih bagi mereka yang berpikiran maju dan anti fasisme.
Baca Juga: Mengulas Sistem Romusha Jepang di Era Penjajahan Sebelum Merdeka Tahun 1945
Faktanya, tragedi cukur gundul terjadi pada latihan kemiliteran maupun di berbagai sekolah. Salah satu sekolah yang menerapkan aturan tersebut adalah Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta atau Ikkai Dai Gakku pada tahun 1942. Hal inilah yang melatarbelakangi tragedi Dokter Soebandrio dipukul Jepang.
Kisah perpeloncoan ini tercatat dalam buku Sedjarah Pedjuangan Pemuda Indonesia. Buku tersebut menjelaskan sebuah masa, di mana serdadu Jepang memaksa para calon mahasiswa untuk menggunduli rambut mereka. Hal ini memicu banyak protes sebab bagi mereka, tindakan penggundulan sangatlah menghina. Mereka kemudian membangkang dengan melawan aksi penggundulan.
Namun, serdadu Jepang terus menerus melakukan tindakan paksa. Hal inilah yang memicu kemarahan mahasiswa. Kemudian, mereka melakukan tindakan unjuk rasa. Cukup miris, di mana mahasiswa hanya bersenjatakan buku, sementara serdadu Jepang membawa bedil dan pedang katana.
Dokter Soebandrio Menyuarakan Perlawanan
Suatu ketika, terjadi peristiwa penggundulan yang membuat Dokter Soebandrio dan beberapa temannya mendapatkan pukulan keras dari serdadu Jepang. Pada masa itu, Dokter Soebandrio sudah menjadi dokter. Ia berstatus alumni Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta.
Selain Dokter Soebandrio, sejumlah mahasiswa asal Sumatera juga turut menyatakan aksi protes kepada penjajah Jepang. Aksi yang terjadi merupakan bentuk protes atas penghinaan besar Jepang terhadap martabat bangsa.
Tragedi Dokter Soebandrio dipukul Jepang tak lepas dari orasinya yang begitu menggebu-gebu. Bersama istrinya yang juga seorang dokter, Hurustiati, Dokter Soebandrio berpidato untuk melawan aksi penggundulan. Pasangan suami istri tersebut berbicara dengan bahasa Indonesia berlogat Jawa Timur dengan campuran bahasa Belanda.
Sayangnya, aksi nekat dokter Soebandrio ternyata berakibat fatal. Sebab ia harus berurusan dengan Kempetai atau polisi rahasia Kekaisaran Jepang. Polisi yang terkenal kejam tersebut kemudian menangkap Dokter Soebandrio. Mereka kemudian menginterogasi dan menahannya selama beberapa minggu.
Tragedi Pemukulan Dokter Soebandrio
Dalam sejarahnya, penjajah Jepang memukul Dokter Soebandrio sampai jatuh. Kemudian, seorang serdadu Jepang juga menendang wajahnya. Setelah itu, Dokter Soebandrio dan istrinya menghilang dari lingkungan sekolah. Keduanya baru muncul setelah penyerahan kedaulatan.
Akibat berseteru dengan penjajah Jepang, Dokter Soebandrio sempat kehilangan pekerjaan. Kemudian, ia membuka poliklinik partikelir yang berlokasi di Semarang. Setelah perang kemerdekaan, ia terjun ke dunia politik. Karirnya terus menanjak hingga akhirnya Dokter Soebandrio melepaskan profesi kedokterannya. Tercatat, ia kemudian pindah ke Surakarta dan masuk Kementerian Penerangan di Jakarta.
Baca Juga: Hubungan Perang Asia Timur Raya dengan Jepang dalam Perang Dunia II
Peristiwa Dokter Soebandrio Dipukul Jepang bermula dari penolakannya terhadap aturan cukur gundul yang dianggap merendahkan martabat bangsa. Tragedi Dokter Soebandrio dipukul Jepang tidak hanya berujung pada penahanan dan kehilangan pekerjaan. Namun juga menjadi titik balik yang justru mengantarkannya beralih dari dunia kedokteran ke ranah politik. (R10/HR-Online)

5 hours ago
8

















































