Bulan Baik untuk Menikah Menurut Perhitungan Jawa dan Anjuran Agama Islam

12 hours ago 10

harapanrakyat.com,- Memilih bulan yang baik untuk menikah merupakan langkah paling krusial bagi setiap pasangan. Apalagi ini dalam upaya membangun pondasi rumah tangga yang kokoh. Sementara itu, masyarakat di Indonesia sering kali mencari informasi mendalam mengenai pernikahan melalui kalender primbon guna menemukan hari tertentu yang dipercaya membawa keberkahan abadi. 

Baca juga: Menggapai Berkah Rumah Tangga Melalui Panduan Menikahi Wanita Sholehah

Memang sudah sejak lama banyak orang percaya bahwa mencari waktu yang paling baik untuk melangsungkan sebuah acara menikah. Mereka percaya hal itu merupakan salah satu kunci utama menuju keharmonisan keluarga di masa depan.

Dalam sistem penanggalan Jawa yang kompleks, terdapat empat periode utama yang secara tradisional dianggap sangat menguntungkan bagi para calon pengantin. Periode-periode tersebut meliputi Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, serta bulan keduabelas dalam kalender Jawa. Selain itu, bulan keduabelas ini lebih dikenal luas sebagai bulan Besar. 

Pemilihan waktu pada bulan-bulan istimewa ini diyakini oleh banyak kalangan dapat mendatangkan limpahan rezeki. Kemudian harta benda serta keselamatan bagi pasangan tersebut.

Baca juga: Rukun Menikah dalam Ajaran Islam Berdasarkan Penjelasan Kitab Qurratul Uyun

Setiap bulan yang disebutkan memiliki makna filosofis yang sangat mendalam dan telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur sebagai pedoman hidup. Penentuan waktu yang berlandaskan pada budaya lokal ini bertujuan mulia. Di antaranya untuk menyangkal hari sial serta membantu setiap pasangan menghindari berbagai potensi keburukan di masa mendatang. Selain mendapatkan keberuntungan dalam aspek materi, menikah di bulan Rejeb juga diyakini secara luas akan memberikan keturunan yang banyak serta keselamatan lahir batin.

Sebaliknya, terdapat pula bulan-bulan tertentu seperti Sura, Sapar, dan Mulud yang menurut kepercayaan kuno sebaiknya dihindari. Pasalnya dianggap membawa energi yang kurang baik. 

Jika pasangan memaksakan untuk menggelar acara pada periode yang dianggap kurang baik, dikhawatirkan akan muncul pertengkaran hebat atau kesulitan ekonomi. Oleh sebab itu, melakukan konsultasi dengan sesepuh atau pakar perhitungan weton tetap menjadi sebuah praktik sosial yang kuat hingga era modern ini.

Faktor Kepercayaan dan Pengaruh Lingkungan

Keputusan untuk menentukan tanggal sakral dalam sebuah upacara tidak hanya didasarkan pada tradisi adat Jawa saja. Akan tetapi juga seringkali mempertimbangkan berbagai anjuran spiritual lainnya. Dalam perspektif ajaran Islam, bulan Syawal justru menjadi waktu yang sangat mulia. Bahkan dianjurkan oleh Rasulullah SAW bagi umatnya untuk segera membangun mahligai rumah tangga. 

Integrasi yang harmonis antara keyakinan spiritual keagamaan dan kearifan lokal terbukti mampu membantu pasangan merasa jauh lebih tenang serta mantap.

Proses penghitungan weton secara teknis biasanya melibatkan nilai numerik atau neptu dari hari lahir kedua calon mempelai yang akan segera dipadukan satu sama lain. Selain itu, nilai-nilai angka tersebut sering kali dihitung dengan teliti oleh keluarga besar. Hal itu guna memastikan bahwa pasangan yang akan bersatu tersebut memiliki tingkat kecocokan yang sangat harmonis. 

Baca juga: Hukum Menikah dalam Islam Berdasarkan Kitab Qurratul Uyun

Meskipun zaman terus berubah dengan cepat, banyak dari generasi muda saat ini yang tetap memilih untuk menghormati metode tradisional. Ini juga sebagai bagian integral dari identitas diri mereka.

Tujuan Pemilihan Waktu Menikah

Berbagai faktor lingkungan sosial serta pola asuh dalam lingkungan rumah memiliki peran yang sangat signifikan dalam mempertahankan kepatuhan individu terhadap tradisi luhur ini. Di sisi lain, setiap individu yang tumbuh dan besar dalam komunitas yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat cenderung akan mengikuti seluruh prosedur perhitungan hari baik tersebut secara sukarela. 

Baca juga: Hikmah Pernikahan dalam Islam, Meningkatkan Ibadah dan Menghindari Perbuatan Zina

Tujuan utama dari semua upaya ini adalah untuk mencapai kondisi rumah tangga yang benar-benar tentram, damai, serta senantiasa terhindar dari segala potensi konflik yang memberatkan. Sehingga, kesiapan mental yang matang serta adanya komunikasi yang jujur antar pasangan tetap menjadi fondasi paling utama dalam menjalin setiap jenis hubungan manusia.

Mengikuti anjuran tradisional mengenai bulan yang dianggap baik untuk melangsungkan menikah hanyalah merupakan salah satu upaya batiniah manusia dalam meraih keberkahan di tengah dinamika masyarakat. Dengan adanya perencanaan yang sangat matang serta iringan doa yang tulus, setiap pasangan pengantin diharapkan mampu mewujudkan visi keluarga yang bahagia dan penuh kesuksesan. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |