Sejarah Candi Penataran Blitar yang Dibangun untuk Menangkal Ancaman Letusan Gunung Kelud

4 hours ago 8

harapanrakyat.com,- Candi Penataran atau Candi Palah dikenal sebagai salah satu bangunan suci yang memiliki sejarah kuno. Letaknya yang berada di kompleks percandian Hindu termegah dan terluas di wilayah Jawa Timur, menggambarkan kejayaan spiritual masa lampau di Nusantara. 

Baca juga: Menyingkap Pesona dan Sejarah Candi Setyaki di Kawasan Dieng

Oleh karena itu, para pengunjung sering datang untuk menelusuri bagaimana rentetan panjang sejarah candi ini. Candi ini telah menjadi saksi bisu dari berbagai pergantian kekuasaan.

Sejarah Pembangunan Candi Penataran

Proses pembangunan kompleks ini tercatat dimulai pada masa Kerajaan Kediri, tepatnya di bawah pemerintahan Raja Srengga sekitar tahun 1194 Masehi. Setelah periode tersebut berakhir, raja-raja dari dinasti Singasari dan Majapahit terus melanjutkan perluasan bangunan secara bertahap dalam kurun waktu yang sangat lama. 

Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh peradaban di Jawa Timur dalam menjaga kelestarian serta kesucian tempat pemujaan ini selama berabad-abad.

Berdasarkan narasi pada Prasasti Palah, tujuan utama pembangunan candi adalah sebagai sarana upacara suci untuk menangkal ancaman letusan Gunung Kelud. Legenda lokal menyebutkan bahwa gunung tersebut dipercaya menyimpan energi dari kerajaan api. Energi itu harus ditenangkan melalui ritual doa yang dipimpin oleh para pendeta. 

Baca juga: Fakta Menarik Seputar Sejarah Candi Dwarawati di Dataran Tinggi Dieng

Melalui mekanisme spiritual tersebut, Candi Penataran berfungsi sebagai titik penyatuan antara kekuatan manusia, raja, dan alam semesta demi keselamatan rakyat banyak.

Pada era kejayaan Majapahit, situs suci ini bahkan diresmikan sebagai candi negara yang sangat dihormati dan sering dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk. Kehadiran sang raja ke tempat ini biasanya bertujuan untuk melakukan pemujaan terhadap Hyang Acalapati. Hyang Acalapati merupakan perwujudan Dewa Siwa sang penguasa gunung.

Dengan demikian, kompleks ini tidak hanya menjadi pusat religius melainkan juga berperan strategis dalam memperkuat legitimasi politik para penguasa di tanah Jawa.

Struktur Arsitektur dan Kedalaman Makna Relief

Pola halaman kompleks bangunan ini dirancang memanjang berteras ke belakang dengan tingkat kesakralan yang semakin tinggi pada area paling belakang. Halaman pertama ditandai dengan gerbang masuk candi bentar setinggi sepuluh meter yang juga berfungsi sebagai pos pengamanan bagi para peziarah.

Selain itu, tata letak yang tersusun rapi memberikan gambaran bahwa nenek moyang kita sudah memiliki kemampuan rekayasa lahan yang sangat mumpuni. Dinding bangunan utama dihiasi dengan relief cerita Ramayana. Relief ini secara selektif menampilkan adegan Hanuman Duta serta pertempuran besar di Alengka.

Keberadaan bukti arkeologi ini dinilai merupakan bentuk propaganda visual untuk mengukuhkan kekuasaan penguasa Majapahit saat itu. Melalui karya seni pahat yang sangat halus, pesan-pesan moral dan politik dapat disampaikan secara efektif kepada publik yang datang untuk melakukan persembahyangan.

Baca juga: Sejarah Candi Semar Banjarnegara yang Ditemukan Tentara Belanda Tahun 1814

Simbolisme naga juga mendominasi sebagian besar ukiran pada bangunan pendopo sebagai representasi dari kisah pencarian air kehidupan atau Samudra Mantana. Relief sembilan manusia yang menyangga naga diyakini menggambarkan tingkatan spiritual para pendeta. Tingkatan ini milik pendeta yang telah mencapai derajat kedewaan dalam ajaran Tantra yang kuat.

Keberadaan ornamen-ornamen ini membuktikan bahwa pengetahuan arsitektur dan teknologi pahat masyarakat pada masa klasik sudah mencapai tingkat yang sangat canggih. Meskipun zaman telah memasuki era modern, kemegahan bangunan yang tersusun dari batu andesit ini tetap menjadi identitas yang membanggakan bagi bangsa Indonesia.

Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian situs ini. Hal ini agar narasi sejarah Candi Penataran tetap bisa dipelajari oleh generasi mendatang sebagai bahan refleksi kehidupan. Dengan menghargai setiap jengkal warisan budaya nusantara, kita turut berkontribusi dalam melestarikan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang tidak ternilai harganya. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |