Mengenal Berbagai Tradisi Cukuran Rambut Bayi di Indonesia yang Masih Lestari

3 hours ago 9

harapanrakyat.com,- Masyarakat Indonesia selalu menjunjung tinggi sebuah nilai tradisi leluhur. Hal ini terlihat saat mereka menyambut lahirnya generasi baru. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah cukuran rambut bayi. Praktik ini merupakan simbol budaya dan wujud rasa syukur.

Baca juga: Tradisi Gebug Ende, Ritual Pemanggil Hujan di Desa Seraya Bali

Pelaksanaan acara sakral ini umumnya dilakukan setelah beberapa hari. Namun, setiap wilayah memiliki waktu dan tata cara tersendiri. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk berkumpul bersama tetangga. Warga akan datang untuk mendoakan keselamatan sang anak kelak.

Tradisi Cukuran Rambut Bayi di Jawa

Masyarakat adat Jawa mengenal upacara ini dengan sebutan selapanan. Acara ini rutin digelar saat anak menginjak usia selapan. Usia selapan ini tepat setara dengan tiga puluh lima hari. Perhitungan waktu tersebut selalu berpedoman pada kalender hitungan weton.

Sebelum acara dimulai, warga setempat bergotong royong membuat tumpeng berisi makanan ini sering disebut sebagai hidangan bancakan yang dibagikan kepada keluarga, tetangga dan anak kecil. Hidangan ini menyimbolkan harapan agar anak berguna bagi masyarakat.

Baca juga: Sejarah Tari Keurseus, Kesenian Sunda Klasik dari Tradisi Tayuban

Prosesi inti dimulai dengan menggendong anak mengelilingi tamu undangan. Setelah berputar tiga kali, proses pemotongan rambut pun dimulai. Orang tua merupakan pihak pertama yang memotong rambut tersebut. Selanjutnya, pemotongan diteruskan oleh kerabat dan juga sesepuh desa.

Mereka percaya bahwa rambut awal masih bercampur air ketuban. Oleh sebab itu, rambut tersebut wajib dibersihkan secara total. Selain itu, upacara ini bermakna menyucikan anak dari najis. Pemotongan ini dipercaya membuat rambut baru tumbuh lebih bagus.

Kekayaan Budaya Marhaban dan Adat Cukur Jambul

Sementara itu, masyarakat Sunda biasa menyebutnya sebagai upacara Marhaban. Acara sakral ini umumnya dilaksanakan pada hari keempat puluh. Waktu ini dipilih karena kondisi fisik ibu sudah pulih. Anak juga sudah cukup kuat untuk bertemu banyak orang.

Pada pelaksanaannya, para pemuka agama melantunkan sholawat bersama tamu. Kemudian, tamu bergiliran memotong sedikit rambut sang anak kecil. Gunting yang digunakan selalu dicelupkan ke dalam air kembang. Rambut yang terpotong dimasukkan ke dalam wadah kelapa muda.

Rambut yang terkumpul lalu ditimbang untuk menentukan nilai sedekah. Nominal uang disetarakan dengan harga emas seberat rambut tersebut.

Baca juga: Mitembeyan Mipit Pare, Ritual Panen Pertama dalam Budaya Agraris Sunda Tradisional

Di sisi lain, adat Melayu mengenal istilah cukur jambul. Prosesi ini dilaksanakan dengan memotong hewan aqiqah terlebih dahulu. Anak akan diletakkan di tempat tidur yang dihias indah. Selanjutnya, anak digendong mengelilingi tamu pria yang membaca barzanji.

Menurut syariat Islam, memotong rambut ini sifatnya sunnah muakkad. Anjuran ini sering dirangkaikan bersama pelaksanaan ibadah penyembelihan aqiqah. Pemotongan rambut memiliki manfaat untuk meringankan kepala sang anak. Selain itu, pori-pori kepala akan terbuka dan membuang panas.

Tentu saja, semua tahapan ini wajib dilakukan secara aman. Pastikan alat cukur selalu dalam kondisi bersih sebelum digunakan. Bila anak mulai rewel, alihkan perhatiannya dengan mengajak bicara. Anda juga bisa membasahi rambutnya memakai sedikit air hangat. Tradisi cukuran rambut bayi ini menjadi momen berharga bagi keluarga. Harapannya, sang anak selalu diberikan keselamatan dalam menjalani hidup. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |