Vihara Dharmakaya Bogor merupakan salah satu bangunan bersejarah bagi kalangan Tionghoa. Posisinya ujung wilayah Pecinan Suryakencana, Bogor di Jawa Barat, Vihara Dharmakaya jadi tempat ibadah sekaligus destinasi wisata religi. Lokasinya yang berada sedikit tersembunyi membuat suasana di sekitar vihara terasa lebih tenang serta nyaman.
Baca Juga: Vihara Dharma Ramsi Jadi Tempat Ibadah Keturunan Tionghoa dan Pusat Toleransi di Kota Bandung
Tidak hanya memiliki nilai spiritual, klenteng Dharmakaya juga menyimpan kisah sejarah panjang. Khususnya mengenai perkembangan komunitas Tionghoa di Bogor pada masa lampau. Bangunannya yang unik dengan perpaduan arsitektur Tionghoa, Eropa, serta lokal menjadikannya memiliki daya tarik tersendiri.
Sejarah Berdirinya Vihara Dharmakaya Bogor dari Bangunan Pribadi hingga Buka untuk Umum
Awalnya bangunan ini merupakan tempat retret kepunyaan keluarganya tuan tanah Tionghoa pada Buitenzorg. Buitenzorg adalah nama lama Kota Bogor pada masa kolonial Belanda. Pada zaman dahulu, kawasan di sekitar vihara masih penuh dengan pepohonan besar dan suasananya sangat asri. Bahkan banyak yang menyebut nuansanya hampir menyerupai kawasan Kebun Raya Bogor.
Lingkungan sejuk sekaligus tenang membuat tempatnya cocok untuk retret maupun menyendiri dalam aktivitas beribadah. Jika membandingkannya dengan vihara tua lain di Bogor seperti Hok Tek Bio maupun Pan Kho Bio, Dharmakaya memang lebih muda. Meski demikian, keberadaan vihara ini tetap memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat Tionghoa di Bogor.
Seiring waktu, ibu dari keluarga tuan tanah Kwitang, Teng Oen Giok, menyumbangkan tempat retret tersebut. Ia memberikannya kepada Ma Suhu Tan Eng Nio pada awal tahun 1940-an. Dari sinilah tempat pribadi itu mulai berkembang menjadi sebuah vihara yang terbuka bagi masyarakat umum.
Mulai Buka untuk Publik
Suhu Tan Eng Nio terkenal sebagai seorang biarawati dengan ciri khas rambut panjang terurai. Ia kerap tampil mengenakan pakaian putih serta kain batik panjang dalam kesehariannya. Sosoknya cukup masyarakat hormati karena memiliki kehidupan spiritual yang sangat kuat. Di bawah pengelolaan Suhu Tan Eng Nio, tempat retret tersebut kemudian berkembang menjadi vihara.
Baca Juga: Vihara Budi Asih Purwakarta, Kelenteng Tertua Sejak 1900-an
Tempat yang awalnya hanya bersifat privat kini berubah untuk kunjungan publik dan namanya menjadi Vihara Dharmakaya Bogor. Nama “Dharmakaya” sendiri berasal dari formulasi doktrin Tri Kaya di ajaran Buddha. Dalam konsep tersebut, Dharmakaya merupakan kebenaran tertinggi atau tubuh spiritual paling agung.
Dharmakaya juga bermakna sebagai Sanghyang Adi Buddha atau Tuhan Yang Maha Esa. Nama ini terpilih sebagai simbol spiritualitas sekaligus kebijaksanaan yang menjadi dasar tempat ibadah tersebut. Hal ini turut membangun ciri khas serta kekuatan keimanan bagi para masyarakat yang datang beribadah.
Sangat Luas dengan Bangunan Khas Eropa
Bangunan di atas lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi ini semakin tertata rapi. Bentuk Vihara Dharmakaya Bogor menyerupai villa klasik dengan sebuah menara di sisi kiri bangunan utama. Perpaduan arsitektur khas Tionghoa, Eropa dan unsur lokal membuat tampilannya terlihat berbeda dari vihara lain.
Sisi depan bangunan menjadi penanda utama bahwa tempat ini merupakan sebuah vihara. Atap khas Tiongkok dengan ornamen naga serta dominasi warna merah juga memperkuat nuansa budaya Tionghoa. Namun ketika masuk lebih dalam, suasananya justru lebih menyerupai rumah tinggal kuno daripada sebuah tempat ibadah besar.
Interiornya sederhana, hangat dan memiliki kesan klasik yang masih bertahan hingga kini. Tidak heran jika banyak pengunjung tertarik mengabadikan suasana bangunan. Apalagi dengan tampilan menawan serta nilai estetika unik. Sehingga kerap menarik atensi di kalangan pecinta sejarah dan fotografi.
Relatif Sepi Cocok untuk Menenangkan Diri
Meski memiliki halaman yang cukup luas, suasana di Vihara Dharmakaya Bogor relatif lebih sepi pengunjung. Bahkan di hari-hari besar, hanya terlihat beberapa orang yang berlalu-lalang. Hal ini karena lokasinya yang berada agak jauh dari pusat keramaian sehingga tidak terlalu ramai oleh wisatawan.
Namun justru kondisi tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Sebagian pengunjung memang sengaja datang ke vihara ini untuk mencari ketenangan batin lewat aktivitas berdiam diri. Ideal bagi para pecinta wisata religi maupun mereka yang ingin menenangkan diri dari hiruk-pikuk aktivitas sehari-hari.
Baca Juga: Sejarah Vihara Buddhagaya Watugong Semarang, Bermula dari Runtuhnya Majapahit
Vihara Dharmakaya Bogor memang tidak sepopuler klenteng lain di sekitarnya. Meski begitu, Vihara Dharmakaya tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kawasan Pecinan Suryakencana Bogor. Keberadaannya menjadi daya tarik religius sekaligus memperkaya warna budaya dan sejarah Kota Bogor hingga sekarang. (R10/HR-Online)

11 hours ago
16

















































