Vihara Dharma Ramsi di Kota Bandung cukup terkenal di kalangan masyarakat. Vihara sendiri bagi umat Buddha merupakan tempat ibadah seperti kuil maupun biara. Kata vihara diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya tempat tinggal. Secara umum, vihara di Kota Kembang ini bermanfaat sebagai pusat spiritual dan pendidikan, serta budaya bagi umat Buddha terutama keturunan Tionghoa.
Baca Juga: Sejarah Lampion Imlek sebagai Dekorasi Perayaan Penting
Sejarah Vihara Dharma Ramsi Favorit Keturunan Tionghoa
Dalam sejarahnya, vihara tersebut berkembang dari tempat ibadah sederhana untuk para biksu jadi kompleks besar. Mereka melayani banyak kegiatan seperti keagamaan dan juga sosial. Terlebih lagi, saat menjelang Hari Imlek tiba, vihara ini jadi tempat favorit para umat Tionghoa untuk beribadah.
Vihara Dharma sendiri terletak di area Gang Ibu Aisyah, Cibadak, Bojongloa Kaler, Bandung. Ini merupakan vihara paling tua di kota yang mendapat julukan Paris van Java tersebut. Tahun berdirinya sekitar era 1954 silam. Lokasinya tepat berada di permukiman padat yang ternyata tidak hanya dihuni penduduk umat Tionghoa saja, namun juga keyakinan lainnya.
Menjadi Pusat Toleransi
Tak heran, Vihara Dharma Ramsi kini menjadi simbol pusat toleransi sosial di area lingkungan tersebut. Mayoritas warganya sendiri ternyata beragama Islam. Ada juga kepercayaan lainnya mulai dari kristen hingga Konghucu. Namun, mereka semua dapat hidup berdampingan dengan rukun.
Menurut penuturan Asikin selaku pengelola, vihara di Bandung ini memegang teguh Tri Dharma. Dalam konteks ini, Vihara Dharma tidak hanya memuat 1 kepercayaan saja. Namun hingga 3 kepercayaan yakni Buddha, Kepercayaan, dan Konghucu.
Arsitektur Vihara Gaya Tionghoa
Beralih ke aspek bangunan, Vihara Dharma Ramsi mempunyai arsitektur bergaya tradisional Tionghoa. Tentunya dengan memadukan elemen modern. Hasilnya mampu menciptakan suasana unik dan menenangkan jiwa yang melakukan ibadah di dalamnya.
Baca Juga: Sejarah Pengakuan Tionghoa Indonesia dan Kondisi Kehidupannya
Selain itu, di dalamnya ada 28 altar untuk banyak dewa. Mulai Sidharta Gautama dan Amitabha Buddha, serta Dewi Kwan Im. Area spiritual ini juga jadi pusat kegiatan agama dan budaya. Misalnya produksi lilin untuk Imlek Tionghoa dan Barongsai.
Biasanya, para keturunan Tionghoa melakukan persiapan termasuk produksi lilin jangka waktu enam bulan sebelum hari H. Di tempat ibadah ini, patung dewa berjumlah hampir 1.000 ditempatkan di sudut altar. Tujuannya untuk memudahkan para jemaat berdoa.
Toleransi Kuat Saat Kaum Tionghoa Rayakan Imlek
Sementara itu, pada momen Imlek tiba, semangat toleransi begitu tampak terlihat. Pasalnya, meski sebagian besar warga sekitar beragama muslim, namun ketika Imlek, mereka tetap ikut berpartisipasi. Terutama dalam pertunjukan kesenian khas Tionghoa yakni barongsai dan juga liang liong.
Asikin juga menjelaskan bahwa pendiri Vihara Dharma Ramsi bernama Bhikku Anense dan Amoise membawa pengaruh kuat tradisi Buddhis dari Cina. Ia sukses menciptakan pusat spiritual penting bagi umat Tionghoa di daerah tersebut. Keberadaannya patut diacungi jempol mengingat membangkitkan nilai toleransi setempat.
Menguatkan Nilai Agama di Kampung Toleransi
Selain untuk tempat ibadah, Vihara Dharma Ramsi juga sukses memperkuat nilai agama tepatnya di area Kampung Toleransi. Ia adalah tempat inovatif dan peresmiannya sudah dilakukan oleh Walikota Bandung pada 2017 silam. Kawasan ini meliputi banyak tempat ibadah dari agama berbeda dan hidup berdampingan secara harmonis.
Bahkan, selama bulan suci Ramadhan, vihara menyediakan makanan untuk warga yang berpuasa. Ini menunjukkan komitmen mereka sangat kuat terhadap toleransi antar komunitas agama. Umumnya ada kegiatan seperti mengaji, meditasi, serta pemberian makanan berbuka. Beberapa vihara bahkan mengadakan acara sosial penggalangan dana untuk masyarakat miskin.
Giat Lakukan Kegiatan Sosial
Vihara ini kini jadi pusat kegiatan agama dan sosial bagi kaum Tionghoa dan Buddhis setempat. Mereka memiliki pengelola aktif sebagai relawan. Contohnya, sosok Asikin yang bertugas mengurus persiapan acara-penting seperti Imlek. Bahkan ia mengurus penataan lilin besar dan dekorasi bagian altar. Pada masa pandemi lalu, pihak pengelola juga menerapkan protokol kesehatan ketat dan membatasi jumlah pengunjung untuk berdoa.
Baca Juga: Sejarah Tionghoa di Indonesia, Kedatangan, Konflik hingga Hubungan
Vihara Dharma Ramsi tidak hanya sebagai tempat ibadah kaum Tionghoa saja, namun juga pusat aktivitas sosial dan kebudayaan yang sangat penting bagi para komunitas setempat. Mereka juga menekankan toleransi sehingga vihara mampu menjadi simbol kerukunan antar beragama. Vihara Dharma Ramsi juga menunjukkan komitmen kuat soal praktik keagamaan tentunya lewat aktivitas kemanusiaan di dalamnya. (R10/HR-Online)

3 hours ago
2

















































