Usai Keliling Jabar, Mahkota Binokasih Kembali ke Keraton Sumedang Larang

3 hours ago 6

harapanrakyat.com, – Mahkota Binokasih, pusaka bersejarah peninggalan Kerajaan Pajajaran, resmi dikembalikan ke Keraton Sumedang Larang, Senin (18/5/2026), usai menjalani kirab budaya keliling sejumlah daerah di Jawa Barat sejak 2 Mei 2026.

Prosesi penyerahan mahkota berlangsung khidmat. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyerahkan langsung kepada Paduka yang Mulia (PYM) Sri Radya H.R.I Lukman Soemadisoeria, sebagai penutup rangkaian peringatan budaya Tatar Sunda.

Dedi Mulyadi menilai perjalanan Mahkota Binokasih membawa dampak positif bagi masyarakat Jawa Barat, baik dari sisi budaya maupun ekonomi daerah. Ia menyebut antusiasme warga selama kirab berlangsung sangat tinggi dan menjadi bukti kuatnya semangat masyarakat Sunda dalam menjaga warisan sejarah.

Baca Juga: Kirab Mahkota Binokasih di Ciamis, Bukti Persaudaraan Galuh dengan Sumedang

“Iya banyak hal yang ditemukan, banyak hal yang akan dikerjakan,” kata Dedi.

Menurutnya, kegiatan tersebut turut meningkatkan kunjungan masyarakat ke berbagai daerah di Jawa Barat. Dampaknya terlihat dari meningkatnya okupansi hotel hingga tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

“Banyak daerah mulai terlihat lebih bersih dan tertata. Ini menjadi semangat yang harus terus dijaga,” ujarnya.

Pentingnya Penataan Kawasan Budaya

Ia juga menekankan pentingnya pembenahan lingkungan, penataan kota, hingga penguatan estetika kawasan budaya agar identitas daerah semakin kuat. Dedi menyoroti kondisi kawasan keraton di Cirebon yang dinilai mulai terhimpit bangunan modern yang tidak selaras dengan nilai arsitektur keraton.

Baca Juga: Perayaan Milangkala Tatar Sunda, Ribuan Warga Sambut Kirab Mahkota Binokasih di Bandung

“Iya, ke depan seluruh daerah harus bisa lebih baik lagi dalam menjaga kawasan bersejarah. Contohnya di Cirebon, keraton-keraton di sana saat ini dinilai kurang memiliki ruang terbuka karena sudah dikelilingi bangunan-bangunan baru. Bahkan, bangunan baru tersebut juga tidak selaras dengan karakter arsitektur keraton,” ujarnya.

Ke depan, ia berharap penataan kawasan di sekitar situs budaya dapat dilakukan lebih baik agar memiliki daya tarik yang kuat bagi masyarakat maupun wisatawan.

Meski demikian, Dedi menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh semata-mata berorientasi pada pariwisata. Menurutnya, fokus utama saat ini adalah membangun daerah dan menjaga lingkungan agar tetap tertata dengan baik.

“Kita urus dulu kampung kita, tata kota kita. Jangan hanya berpikir hasil tanpa memperhatikan proses,” katanya.

Baca Juga: Kirab Mahkota Binokasih akan Meriahkan Hari Jadi Kabupaten Ciamis Tahun Ini

Ia juga membantah isu mengenai perubahan nama Jawa Barat menjadi Tatar Sunda. Menurutnya, narasi tersebut tidak benar dan Jawa Barat tetap menggunakan nama resminya seperti saat ini.

“Enggak ada itu. Ini narasi yang dibuat oleh siapa. Tidak ada, Jawa Barat tetap seperti ini,” tegasnya.

Kembali ke Sumedang, Mahkota Binokasih Simbol Kebangkitan Semangat Masyarakat Sunda

Sementara itu, Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, mengaku bersyukur rangkaian peringatan Tatar Sunda yang dimulai dari Sumedang kini kembali ditutup di daerah yang sama dengan pengembalian Mahkota Binokasih.

Ia menilai kegiatan tersebut memberikan manfaat besar bagi masyarakat, terutama dalam memperkenalkan sejarah Kerajaan Sunda kepada generasi muda. Selain itu, nilai-nilai budaya Sunda seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh diharapkan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Melalui sejarah Kerajaan Sunda, masyarakat diharapkan memahami dan menerapkan nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh dalam kehidupan sehari-hari seperti yang diajarkan Prabu Siliwangi,” ungkapnya.

Dony berharap perjalanan Mahkota Binokasih menjadi simbol kebangkitan semangat masyarakat Sunda dalam membangun daerah menuju kehidupan yang harmonis, maju, dan sejahtera seperti masa kejayaan kerajaan Sunda dahulu.

“Mudah-mudahan dengan keliling nya mahkota binokasih ini memberkahi kita, dan meningkatkan etos kerja orang Sunda dalam menjalankan kehidupannya, dalam membangun daerahnya sehingga bisa gemah, ripah, repeh rapih, jinawi, seperti masa kejayaannya dulu,” pungkasnya. (Aang/R9/HR-Online/Editor-Dadang)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |