Sejarah Tari Keurseus, Kesenian Sunda Klasik dari Tradisi Tayuban

1 hour ago 5

Ada banyak kesenian tradisional Sunda yang memiliki nilai historis panjang, salah satunya adalah sejarah tari Keurseus. Tari Keurseus populer sebagai kesenian klasik Sunda yang berkembang dari sejarah tradisi tayuban sejak zaman dahulu. Keurseus menjadi kelompok tari hasil dari proses perkembangan gerak-gerak Tayuban yang kemudian tersusun lebih teratur sekaligus berpola.

Baca Juga: Sejarah Wayang Othok Obrol, Seni Tradisional Kreatif Khas Wonosobo

Tayub sendiri adalah sebutan untuk kegiatan menari laki-laki dalam tradisi Sunda tempo dulu. Para penari biasanya mengenakan kain, bendo, serta pakaian yang rapi dan bagus ketika menari bersama para ronggeng. Pementasan umumnya berlangsung pada momen-momen khusus seperti syukuran panen.

Mengulas Sejarah Tari Keurseus sejak 1920

Dalam catatan sejarah, Keurseus awalnya tercipta untuk keperluan kursus atau pembelajaran tari oleh Lurah Rancaekek, R. Sambas Wirakusumah. Tepatnya sekitar tahun 1920. Pada masa itu, gerak-gerak tari Tayub mulai tersusun secara lebih teratur sehingga memiliki bentuk baku yang dapat masyarakat pelajari.

Susunan gerak pokok atau ragam gerak tari Tayub mengalami pembakuan. Artinya tidak lagi spontan seperti sebelumnya. Dari proses tersebut lahirlah beberapa bentuk repertoar tari dengan pola gerak yang jelas serta karakter berbeda-beda. Hal yang pada akhirnya membentuk tarian Keurseus secara resmi.

Perkembangan tari Keurseus menjadi salah satu langkah penting dalam sejarah kesenian Sunda klasik. Jika sebelumnya Tayub lebih bersifat hiburan rakyat, maka Keurseus hadir dengan nuansa yang artistik sekaligus terpelajar. Setiap repertoar tari memiliki ciri khas tersendiri, baik dari gerakan, ekspresi, maupun suasana yang terbangun.

Oleh sebab itu, Keurseus kemudian terkenal sebagai rumpun tari klasik Sunda yang memiliki nilai seni tinggi. Selain itu, gerakannya juga banyak masyarakat pelajari hingga sekarang. Sejarah tari Keurseus turut menunjukkan bagaimana budaya Sunda mampu berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya.

Ragam Tari Keurseus

Dalam perkembangannya, Keurseus memiliki beberapa jenis tari yang masing-masing mempunyai karakter berbeda. Ini terlihat jelas dari gerakan tubuh, ekspresi wajah, tempo, hingga nuansa selama pertunjukan berlangsung. Ragam tari Keurseus umumnya dibawakan oleh penari pria dengan ciri khas gerak tegas namun tetap halus. Beberapa jenis yang paling populer adalah sebagai berikut.

1. Gawil

Jenis pertama ada Gawil yang merupakan tari jenis putra tunggal dengan karakter landak atau gagah. Tari ini memiliki gerakan dinamis dan penuh semangat. Sehingga mampu menunjukkan kewibawaan seorang penari. Dalam tari Gawil, gerak staccato atau patah-patah menjadi salah satu ciri utama yang paling mudah penonton kenali.

Selain itu, arah pandangan penari biasanya lurus ke depan dengan gerakan kepala yang lincah dan cepat. Secara umum, gerakan tubuh dalam tari Gawil terlihat ringan meskipun penari melakukannya dengan penuh tenaga. Suasana yang tercipta dalam tari Gawil cenderung ceria dan energik.

Baca Juga: Kesenian Tradisional Genye Purwakarta, Seni Helaran Unik dari Sapu Lidi

Penari harus mampu menampilkan ekspresi percaya diri agar karakter gagah dalam tarian dapat terlihat jelas. Gerakan tangan dan kaki tegas namun tetap mengikuti irama musik pengiring khas Sunda. Keindahan tari Gawil terletak pada perpaduan antara ketegasan gerak dengan kelincahan tubuh penari. Oleh karena itu, tari ini sering menjadi sebagai simbol semangat dan keberanian dalam rumpun sejarah tari Keurseus.

2. Kawitan

Selanjutnya adalah Kawitan yaitu tari putra tunggal yang memiliki beberapa karakter. Di antaranya lungguh, landak, atau gagah. Tarian ini menonjol berkat perubahan gerakan yang cukup kontras, dari halus menuju gerakan kuat atau bertenaga secara mendadak. Perubahan tersebut menjadi daya tarik utama dalam tari Kawitan karena mampu menunjukkan kemampuan teknik seorang penari. Khususnya dalam mengatur tenaga dan ekspresi.

Dalam pertunjukannya, tari Kawitan membutuhkan penghayatan yang baik agar perpindahan karakter dapat terlihat alami. Pada bagian tertentu, penari akan menampilkan gerakan lembut dengan tempo tenang. Lalu tiba-tiba berubah menjadi gerakan tegas dan penuh energi. Kombinasi tersebut menggambarkan keseimbangan antara kelembutan dan kekuatan dalam seni tari Sunda klasik.

3. Lenyepan

Terakhir adalah Lenyepan sebagai tari tunggal putra dengan karakter lungguh atau tenang. Berbeda dengan Gawil yang penuh semangat, Lenyepan di sejarah tari Keurseus lebih menonjolkan kelembutan rasa serta ketenangan gerak. Gerakannya mengalun dengan tempo lambat sehingga memberikan kesan halus sekaligus anggun.

Arah pandangan penari biasanya sedikit menunduk sebagai simbol kesopanan dan pengendalian diri. Keindahan tari Lenyepan terletak pada kemampuan penari dalam mengolah rasa. Setiap gerakan penuh penghayatan sehingga menciptakan suasana tenang. Penari tidak hanya menguasai teknik gerak, tetapi juga harus mampu menghadirkan ekspresi mendalam.

Baca Juga: Kesenian Topeng Kaleng, Tradisi Unik dengan Alat Musik Sederhana

Sejarah tari Keurseus menunjukkan bahwa kesenian memiliki perjalanan budaya yang panjang dan kaya akan nilai tradisi. Berawal dari Tayuban, tari Keurseus berkembang menjadi kesenian klasik dengan pola serta karakter khas sejarah Sunda. Hingga kini, tari Keurseus tetap menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya sekaligus warisan seni tradisional bernilai tinggi. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |