Pesona Wisata Kota Lama Semarang: Sejarah Little Netherland dan Magnet Investasi Masa Depan

1 week ago 24

Wisata Kota Lama Semarang semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi unggulan di Jawa Tengah. Dengan lonjakan pengunjung yang mencapai 461 ribu orang hanya dalam periode libur Nataru 2025-2026, Kota Lama kemungkinan akan terus berkembang.

Tingginya minat wisatawan ini tidak lepas dari keberhasilan revitalisasi yang mengubah “kota mati” menjadi pusat kreativitas dan gaya hidup modern tanpa menghilangkan identitas klasiknya.

Mengapa Kota Lama Semarang Dijuluki Little Netherland?

Kawasan yang dahulu terkenal sebagai De Europeesche Buurt ini mendapat julukan Little Netherland karena lanskap arsitekturnya yang mencerminkan bangunan Eropa abad ke-17 hingga ke-19.

Baca Juga: Pesona Rasamadu Heritage di Sukoharjo, Wajah Baru Wisata Klasik Bergaya Eropa

Secara geografis, Kota Lama tampak seperti wilayah yang terpisah dari sekitarnya, menyerupai kota kecil di Belanda dengan kanal-kanal air yang dibangun pada masa kolonial.

Pada era VOC, kawasan ini merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan yang sekelilingnya terdapat benteng pertahanan. Salah satu peninggalan penting adalah Gedung Oudetrap yang berdiri sejak tahun 1834. Dulunya gedung tersebut berfungsi sebagai gudang gambir untuk industri rempah dan obat-obatan.

Landmark Ikonik, dari Gereja Blenduk hingga Jembatan Berok

Menyusuri Kota Lama Semarang memberikan pengalaman nostalgia melalui deretan bangunan bersejarah yang masih berfungsi dengan baik. Berikut adalah beberapa titik yang wajib Anda kunjungi.

Gereja Blenduk (GPIB Immanuel): Berdiri sejak 1753, gereja ini identik dengan kubah tembaga besarnya. Nama “Blenduk” berasal dari pelafalan masyarakat lokal yang merujuk pada bentuk kubahnya yang menggembung.

Stasiun Semarang Tawang dan Polder Air: Stasiun bergaya kolonial ini tetap beroperasi dengan kolam penampungan air (Polder) di depannya sebagai sistem pengendali banjir sebelum air dialirkan ke laut.

Jembatan Berok: Jembatan ini merupakan pintu gerbang utama menuju Kota Tua. Nama “Berok” sendiri merupakan perubahan pelafalan dari kata bahasa Belanda, Burg.

Gedung Marba dan Taman Srigunting: Bangunan eksotis dan ruang terbuka hijau yang menjadi titik kumpul favorit wisatawan untuk bersantai dan berswafoto.

Keunggulan utama kawasan Kota Lama Semarang adalah aksesnya yang terbuka untuk umum tanpa tiket masuk. Serta ketersediaan kuliner dengan harga yang relatif terjangkau bagi para pelancong.

Pemerintah Kota Semarang melakukan revitalisasi besar-besaran untu menghidupkan kembali bangunan-bangunan tua melalui konsep adaptive reuse. Banyak gedung heritage kini beralih fungsi menjadi kafe estetik, galeri seni seperti Semarang Contemporary Art Gallery, hingga hotel butik yang menawarkan atmosfer nostalgia.

Hal ini berdampak langsung pada nilai properti di kawasan tersebut. Bangunan di Kota Lama kini menjadi aset investasi tinggi, karena kelangkaannya dan potensi komersialnya yang besar.

Baca Juga: Eksplorasi Malam di Gedung Djoeang 45 Solo, Kepingan Eropa Romantis di Tengah Kota

Namun, para investor wajib untuk tetap mematuhi regulasi cagar budaya yang ketat agar proses restorasi tetap menjaga keaslian arsitektur aslinya.

Dengan lonjakan wisatawan yang mencapai 461 ribu orang hanya dalam periode libur Nataru 2025-2026, Kota Lama Semarang sepertinya bakal terus berkembang. Pemerintah terus mendorong kawasan ini agar mendapatkan pengakuan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan prestise global Semarang, sekaligus memperkuat komitmen pelestarian sejarah bangsa. Kombinasi antara sejarah yang mendalam, keindahan visual, dan dinamika ekonomi menjadikan Kota Lama Semarang sebagai permata warisan yang akan terus bersinar di jantung Jawa Tengah. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |