Sebuah penelitian sempat menemukan bahwa pencemaran mikroplastik hambat fotosintesis pada pertumbuhan tanaman. Ancaman ini berdampak cukup besar, sebab bisa mempengaruhi ketahanan pangan dan iklim di lingkungan. Lantas, darimana sumber mikroplastik berbahaya tersebut? Bagaimana dampak buruknya secara lebih lanjut? Berikut pembahasan lengkapnya.
Baca Juga: Pengaruh Cahaya pada Fotosintesis, Penting dan Harus Tercukupi
Penjelasan Rinci Terkait Mikroplastik Hambat Fotosintesis
Dalam sebuah studi, mikroplastik terbukti dapat menghalangi proses biologis pada tumbuhan. Di mana, tumbuhan merubah cahaya matahari, karbon dioksida dan air menjadi energi berbentuk gula. Proses fotosintesis ini menjadi inti kehidupan bagi seluruh makhluk hidup di bumi, fondasi rantai makanan dan sumber oksigen yang dihirup.
Secara umum, mikroplastik berukuran sangat kecil. Biasanya berasal dari pelapukan benda plastik yang menyebar ke sudut-sudut terkecil planet saat ini. Bahkan, mikroplastik juga terbukti bisa menyusup ke dalam organ manusia.
Dampak Mikroplastik pada Produksi Pangan
Menurut kajian dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, pencemaran mikroplastik mampu mengurangi fotosintesis sampai 12%. Studi tim peneliti dari Cina tersebut menganalisis beberapa objek termasuk tanaman panganan darat, alga air tawar dan alga air laut. Hasilnya, panen pangan laut merosot hingga 7% dan tanaman pokok pun anjlok hingga 13.5%.
Bersumber dari hasil penelitian tersebut, para ilmuwan memberikan peringatan yang cukup keras. Sebab, fenomena ini bisa saja membuat ratusan juta orang kehilangan akses aman terhadap pangan. Dibalik temuan tersebut, ilmuwan juga menemukan kajian yang cukup menarik. Di mana, hanya perlu menurunkan kadar mikroplastik 13% sebagai langkah pencegahan untuk sepertiga kerugian fotosintesis.
Sumber Polusi Mikroplastik
Sebenarnya, mikroplastik hambat fotosintesis berasal dari berbagai sumber. Mikroplastik pada tanaman biasanya berasal dari terpal penutup lahan pertanian. Bisa juga dari pupuk dan udara serta air di sekitar lingkungan kita.
Baca Juga: Perbedaan Fotosintesis dan Kemosintesis dari Berbagai Faktor
Sebagai contoh, film mulsa pertanian untuk menutup tanaman dan mempercepat pertumbuhan seringkali disebut sebagai biodegradable. Hanya saja, material ini masih mengandung zat aditif kimia dan mikroplastik. Ketiak terurai, bahan tersebut bisa meresap ke dalam tanah.
Sumber polusi mikroplastik lainnya datang dari serpihan ban mobil dan serat pakaian. Keduanya berakhir menjadi lumpur limbah yang berguna sebagai pupuk. Setelah berubah jadi mikroplastik atau nanoplastik, polusi ini bisa menimbulkan pencemaran yang sulit untuk dicegah.
Menurut para ahli, mikroplastik berukuran 1-5 milimeter, bahkan bisa lebih kecil. Di tanah, partikel kecil ini sangat mengganggu pergerakan air maupun pemecahan nutrien. Hasilnya, partikel bisa mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan organisme kecil lainnya. Bahkan pada tubuh manusia, ilmuwan menemukan bahwa mikroplastik bisa menimbulkan gangguan, seperti stroke dan serangan jantung.
Mempercepat Perubahan Iklim
Polusi mikroplastik hambat fotosintesis berujung pada percepatan perubahan iklim. Awalnya, plastik menimbulkan efek rumah kaca dari transportasi, produksi hingga pembuangan limbahnya. Jika mikroplastik mengurangi fotosintesis secara lebih luas, kondisi ini bisa menghambat penyerapan karbon dan produksi oksigen. Terlebih di ekosistem karbon biru termasuk padang lamun, rawa pesisir dan mangrove.
Menurut para ilmuwan, mangrove dan lahan basah di pesisir menyimpan kurang lebih 3 sampai 5 kali karbon lebih banyak ketimbang hutan tropis. Perhitungan ini diibaratkan dengan luas yang setara. Dalam penelitian Courtene-Jones, ilmuwan berhasil menemukan penurunan efisiensi fotosintesis pada tanaman pesisir akibat gabungan mikroplastik di tanah dan banjir.
Mikroplastik sendiri berpotensi memperburuk respon sistem akibat perubahan iklim. Partikel tersebut mempengaruhi kestabilan tanah, sehingga mempercepat erosi di pesisir. Hal ini berlangsung seiring dengan curah hujan ekstrim yang semakin sering.
Peran Penting Daur Ulang
Berdasarkan penelitian yang ada, akumulasi mikroplastik di tanah maupun tanaman akan terus berlanjut. Parahnya lagi, proses ini terus berlanjut tanpa tindakan berarti. Menanggapi masalah tersebut, proses daur ulang bisa jadi langkah yang efektif. Hanya saja, pengurangan produksi plastik juga jauh lebih penting.
Beberapa tahun terakhir, produksi plastik melonjak cukup drastis. Bahkan bisa saja naik dua hingga tiga kali lipat pada 2050 ke depan. Hal ini seiring dengan melonjaknya emisi global di lingkungan. Mirisnya, hanya 9 % plastik yang didaur ulang, sementara 99 persen plastik terbuat dari bahan bakar fosil.
Baca Juga: Siklus Calvin Fotosintesis Tumbuhan, Definisi dan Tahapannya
Mikroplastik hambat fotosintesis bisa memberikan dampak buruk yang cukup signifikan. Proses mikroplastik hambat fotosintesis ini bisa mempengaruhi pertumbuhan tanaman sekaligus pasokan bahan makanan. Oleh sebab itu, penting untuk mencegah kerusakan dengan menutup keran produksi plastik dan menggantinya dengan produk ramah lingkungan. (R10/HR-Online)

3 hours ago
3

















































