Jenis inflasi ekonomi merupakan konsep penting untuk memahami dampak kenaikan harga terhadap stabilitas suatu negara. Inflasi terjadi saat harga barang dan jasa meningkat secara umum. Kenaikan tersebut berlangsung terus-menerus dalam periode tertentu.
Baca Juga: Inflasi di Kota Cirebon Tertinggi di Jawa Barat Secara YoY
Dalam kondisi tertentu, inflasi yang rendah justru mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang sehat. Hal ini terutama berlaku jika inflasi berada di kisaran 2-4% per tahun. Angka tersebut menunjukkan keseimbangan antara stabilitas harga dan aktivitas ekonomi.
Jenis Inflasi Ekonomi dalam Sistem Keuangan Modern
Ketika inflasi tidak terkendali, dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor kehidupan. Daya beli masyarakat menurun dan biaya hidup terus meningkat. Kondisi ini memicu ketidakpastian ekonomi. Oleh karena itu, memahami klasifikasi inflasi menjadi langkah awal untuk membaca kondisi ekonomi secara lebih akurat.
Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahan
Inflasi dapat dibedakan berdasarkan tingkat keparahannya, mulai dari ringan hingga sangat berat. Untuk inflasi ringan biasanya berada di bawah 10% per tahun dan masih dapat ditoleransi oleh perekonomian. Contohnya, kenaikan harga kebutuhan pokok sebesar 3% dalam setahun masih tergolong wajar.
Pada level yang lebih tinggi, inflasi sedang berada di kisaran 10-30% per tahun dan mulai menekan daya beli masyarakat. Inflasi berat bahkan bisa mencapai 30-100% per tahun, seperti yang pernah terjadi pada krisis ekonomi 1998 ketika inflasi nasional tercatat sekitar 77%. Kondisi paling ekstrem adalah hiperinflasi dengan kenaikan harga di atas 100% per tahun.
Baca Juga: Tren Inflasi Positif, Terkendalinya Harga Barang dan Jasa
Inflasi Berdasarkan Sifat Pergerakan Harga
Selain tingkat keparahan, jenis inflasi ekonomi juga diklasifikasikan berdasarkan sifat pergerakannya. Inflasi merayap terjadi secara perlahan dan stabil dalam jangka panjang. Kenaikan harga yang lambat ini sering dianggap normal karena masih sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.
Sebaliknya, inflasi menengah dan inflasi tinggi memiliki laju kenaikan harga yang cepat sekaligus cenderung tidak stabil. Pada inflasi tinggi, masyarakat biasanya enggan menyimpan uang karena nilainya cepat menurun. Dalam situasi ekstrem, perputaran uang menjadi sangat cepat dan fungsi uang sebagai alat simpan nilai melemah.
Inflasi Berdasarkan Asal Terjadinya
Klasifikasi inflasi ekonomi juga terlihat berdasarkan asal terjadinya, yaitu inflasi domestik dan inflasi impor. Inflasi domestik bersumber dari dalam negeri, biasanya dipicu oleh peningkatan jumlah uang beredar yang tidak diimbangi dengan kenaikan produksi barang dan jasa. Ketika uang beredar naik 15% sementara produksi stagnan, harga cenderung ikut meningkat.
Sementara itu, inflasi impor atau imported inflation berasal dari luar negeri melalui perdagangan internasional. Kenaikan harga minyak dunia sebesar 20%, misalnya, dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi di dalam negeri. Dampaknya, harga barang ikut naik meskipun permintaan domestik relatif stabil.
Inflasi Berdasarkan Faktor Pendorong
Menilik dari faktor pendorongnya, jenis inflasi ekonomi mencakup inflasi tarikan permintaan dan inflasi dorongan biaya. Inflasi tarikan permintaan atau demand-pull inflation terjadi ketika permintaan agregat melebihi kapasitas produksi. Kondisi ini sering muncul saat pertumbuhan ekonomi tinggi dan pendapatan masyarakat meningkat.
Inflasi dorongan biaya atau cost-push inflation muncul akibat kenaikan biaya produksi seperti bahan baku, energi, dan upah tenaga kerja. Selain itu, terdapat inflasi ekspektasi yang dipicu oleh perkiraan masyarakat bahwa harga akan naik di masa depan. Ketika ekspektasi ini meluas, kenaikan harga bisa terjadi lebih cepat meskipun faktor fundamental belum berubah.
Dampak Inflasi terhadap Kehidupan Ekonomi
Pemahaman mengenai jenis inflasi ekonomi membantu melihat dampaknya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Inflasi dapat mendorong pertumbuhan jika terkendali, tetapi berdampak serius bila tidak terkendali. Salah satu dampak utamanya adalah melemahnya daya beli. Nilai uang menurun sehingga kebutuhan yang sama memerlukan biaya lebih besar.
Inflasi tinggi juga menurunkan minat investasi. Ketidakpastian membuat investor menahan modal atau mengalihkannya ke aset aman. Akibatnya, pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja melambat.
Pertumbuhan ekonomi ikut terhambat karena biaya produksi meningkat dan konsumsi menurun. Perusahaan mengurangi aktivitas bisnis, sementara belanja masyarakat tertahan. Kondisi ini berujung pada pelemahan Produk Domestik Bruto.
Kenaikan Bunga Kredit dan Cicilan
Untuk menekan inflasi, bank sentral biasanya menaikkan suku bunga. Langkah ini berdampak pada kenaikan bunga kredit dan cicilan. Akses pembiayaan pun menjadi lebih berat bagi rumah tangga dan dunia usaha.
Inflasi tinggi dapat melemahkan nilai tukar rupiah. Kepercayaan investor menurun sehingga modal asing keluar. Dampaknya, harga barang impor naik dan beban utang luar negeri meningkat.
Ketimpangan sosial juga cenderung melebar akibat inflasi. Kelompok berpendapatan tinggi lebih mampu melindungi asetnya. Sementara masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling terdampak.
Baca Juga: Cara Mengatasi Inflasi dengan Investasi Jadi Langkah Tepat
Secara keseluruhan, jenis inflasi ekonomi memiliki karakteristik, penyebab, dan dampak yang berbeda-beda. Tidak semua jenis inflasi bersifat merugikan karena inflasi rendah dan stabil justru dapat mendukung aktivitas ekonomi. Masalah muncul ketika inflasi melonjak tinggi dan berlangsung dalam jangka panjang. Dengan memahami klasifikasi inflasi secara menyeluruh, masyarakat dapat lebih bijak dalam mengelola keuangan dan mengantisipasi kenaikan harga. (R10/HR-Online)

1 week ago
36

















































