Bantuan Banjir Sukabumi Tak Kunjung Cair, KDM Beberkan Masalahnya

18 hours ago 8

harapanrakyat.com,- Bantuan bagi warga korban banjir bandang Sungai Cidadap di Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, hingga kini belum juga diterima. Menanggapi kondisi tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkap alasan mengapa bantuan yang dijanjikan tak kunjung cair.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @dedimulyadi71, Dedi Mulyadi atau KDM menjelaskan bahwa persoalan bantuan tidak sesederhana yang ramai dibicarakan. Menurutnya, keterlambatan bantuan berkaitan dengan alur pengajuan yang tidak masuk ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Saya sudah cek datanya. Usulan bantuan untuk sekitar 500 rumah terdampak bencana tahun 2024 itu diajukan oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi langsung ke BNPB, bukan ke provinsi,” ujar KDM, dikutip Jumat (9/1/2026).

Baca Juga: Lewat Kepgub, Dedi Mulyadi Copot Status Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat 

Selain Masalah Bantuan, KDM Soroti Kondisi Lingkungan Sukabumi yang Jadi Penyebab Banjir

Selain soal bantuan, KDM juga menyoroti kondisi lingkungan di Sukabumi yang dinilainya menjadi penyebab utama banjir terus berulang. Ia menyebut kerusakan alam yang terjadi sudah berlangsung lama dan belum ditangani secara serius.

“Sukabumi itu daerah yang terus-menerus menghadapi masalah. Kuncinya satu, alamnya rusak,” ucapnya.

KDM menjelaskan, aktivitas penambangan yang tidak terkendali, baik legal maupun ilegal, menjadi salah satu faktor utama rusaknya lingkungan di Sukabumi. Selain itu, alih fungsi lahan dan menyusutnya kawasan hijau serta hutan turut memperparah risiko banjir dan longsor.

“Di sana banyak sekali titik penambangan, lalu alih fungsi lahan juga terjadi di mana-mana. Areal hijau dan hutan semakin berkurang,” katanya.

Ia juga menyinggung keberadaan perkebunan sawit yang luas di Kabupaten Sukabumi serta aktivitas kendaraan berat dengan muatan tinggi yang setiap hari melintasi jalan-jalan utama, sehingga merusak infrastruktur dan memperbesar potensi bencana.

“Jalan-jalannya rusak karena mobil dengan tonase besar lalu-lalang setiap hari. Kalau ini terus dibiarkan, problemnya tidak akan selesai,” imbuh KDM.

Terkait bantuan yang belum diterima warga, KDM menyatakan akan segera mengambil langkah lanjutan. Ia mengaku telah meminta Bupati Sukabumi untuk mengajukan kembali usulan bantuan ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar dapat segera ditindaklanjuti.

“Hari ini saya minta Bupati Kabupaten Sukabumi mengajukan usulan ke provinsi Jawa Barat supaya bisa kita proses,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, KDM mengingatkan bahwa persoalan banjir tidak bisa dilepaskan dari kepedulian terhadap lingkungan. Ia mengajak semua pihak untuk menjaga alam demi mencegah bencana serupa terulang di masa mendatang.

“Kalau tidak ingin banjir, jaga alamnya. Tanam pohon, jangan tanam keributan,” pungkasnya.

Baca Juga: Sepanjang 2025, KDM Pastikan Pembangunan Infrastruktur di Jawa Barat Jalan Terus Tanpa Meninggalkan Alam

Komentar Warganet 

Pernyataan Gubernur Jabar tersebut kemudian mendapat berbagai tanggapan dari warganet. Salah satu warganet yang mengaku berasal dari Sukabumi turut membenarkan kondisi lalu lintas kendaraan berat yang melintas hampir tanpa henti dan menyebabkan kerusakan jalan cukup parah, khususnya di jalur menuju Palabuhanratu.

“Bencana alam Sukabumi gak bisa berhenti selama Alam sekitarnya dirusak,” komentar akun @ru***.

“Leres Pak, abi Asli Orang Kabupaten Sukabumi Unggal Dinten Mobil Arageung Lewat Henteu Kenal Waktu, jalan Ruksak Parah Jalur Ka Palabuan Ratu Mah Komo Pisan,” komentar @sya***.

Warganet lain juga mengungkapkan bahwa aktivitas truk pengangkut pasir, air, dan kendaraan perusahaan semakin tidak tertib dan perlu mendapat penindakan tegas.

“Benar pak Dedi.. Truk2 pasir, truk air, truk perusahaan sepanjang jalan sukabumi-cianjur makin gak beraturan sekarang, harus ditindak,” komentar akun @na***.

Selain itu, ada pula warganet yang menyoroti soal perkebunan sawit yang kini menjangkau hingga pelosok desa dan dinilai turut memperparah kerusakan lingkungan.

Baca Juga: Nyaris Nol, Silpa APBD Jawa Barat 2025 Terendah Sepanjang Sejarah

“Leres Pak, abdi kaleresan nuju pulkam ka kabupaten Sukabumi jalur Palabuan Ratu. Mobil ageung lewat teu aya waktuna, pagi siang sore weungi, jalan rusak, teras pohon sawit meuni dimana ayeuna lega pisan dugi ka pelosok desa sawit sadaya ayeuna,” komentar akun @ri***. (Erna/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |