Tambang Oranje Nassau merupakan tambang batu bara milik pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1849. Peninggalan Belanda satu ini merupakan tambang batu bara pertama di Indonesia sehingga kini menjadi situs yang tertua. Hal tersebut menjadikannya sebagai salah satu situs sejarah yang harus selalu dijaga dan dilindungi.
Baca Juga: Mengenal Peninggalan Belanda Jembatan Cincin Jatinangor
Tambang Oranje Nassau, Peninggalan Belanda yang Kaya Akan Nilai Sejarah
Oranje Nassau terletak di Desa Lok Tunggul, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar, sekitar 43 km dari Kota Banjarbaru. Tempat ini merupakan tambang pertama yang berhasil didirikan Belanda di Kalimantan bahkan di Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda yaitu Gubernur Jan Jacob Rochussen meresmikan tempat ini pada tahun 1849.
Asal usul nama Oranje Nassau sendiri berasal dari nama dinasti kerajaan yang memerintah Belanda yaitu Wangsa Oranje Nassau. Belanda memilih menggunakan nama tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap dinasti yang memerintah Belanda itu. Nama tersebut pun masih abadi dan digunakan bahkan hingga saat ini.
Keberadaan tambang ini sangat penting bagi Belanda yang tengah bersaing dengan Inggris. Belanda menjadikan tempat ini sebagai alternatif jika Inggris memutus pasokan batu bara dari Eropa untuk Belanda. Saat itu pun batu bara sudah menjadi bahan bakar penggerak kapal yang tidak sepenuhnya mengandalkan angin lagi.
Peninggalan yang Tersisa
Oranje Nassau menampilkan peninggalan fasilitas kegiatan tambang yang menarik meskipun kondisinya terbilang kurang terawat. Sisa-sisa bangunan yang masih ada mulai dari bangunan utama dengan fungsi untuk menyimpan atau menempatkan mesin. Kemudian masih terdapat lubang galian batu barat, bekas sumur putaran, tangga batu, hingga pondasi benteng.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah Masjid Al-Jihad Pamarican Ciamis, Benarkah Peninggalan Belanda?
Tambang ini juga terhubung dengan Sungai Riam Kiwa dan Maniapun yang menjadi jalur pengangkutan batu bara. Situs ini juga memiliki terowongan dengan panjang mencapai 5 meter yang menembus bukit di dekatnya. Hal tersebut tentu menjadi bukti keseriusan Belanda dalam mengeksploitasi sumber daya yang tersimpan di wilayah tersebut.
Beroperasi dengan Teknologi yang Maju
Pada masa operasionalnya, tambang batu bara ini menggunakan teknologi sistem underground atau metode bawah tanah. Pada zaman itu, metode ini tergolong sudah modern dan efektif untuk mengeruk batu bara. Sistem tersebut sangat berbeda dengan tambang saat ini yang mengandalkan metode terbuka atau open fit.
Teknik underground pada Tambang Oranje Nassau melibatkan pembuatan sumur putaran untuk mengebor dan mengambil batu bara. Hasilnya mencapai 10.000 ton/tahun pada tahun 1854-an dan naik 14.794 ton pada 1854. Saat beroperasi, tambang batu bara ini melibatkan sekitar 400 pekerja dengan sistem kerja paksa.
Runtuhnya Oranje Nassau
Perkiraannya, Oranje Nassau hanya beroperasi selama 10 tahun saja dan berhenti karena pecahnya Perang Banjar. Perang Banjar sendiri berlangsung mulai pada tahun 1859 hingga tahun 1905. Penyebab pecahnya pertempuran ini yaitu karena adanya ketegangan antara Kesultanan Banjar dan Belanda terutama perihal penguasaan wilayah.
Pada tahun 1859, Pangeran Antasari dan pasukannya menyerang tambang batu bara dan benteng Belanda di Pengaron. Sengitnya pertempuran menyebabkan jatuhnya banyak korban baik dari sisi Pangeran Antasari maupun sisi Belanda. Dampak lainnya pun operasional tambang batu bara tertua di Indonesia ini akhirnya juga ikut terhenti.
Telah Menjadi Cagar Budaya
Karena kaya akan nilai sejarah, pemerintah Indonesia kemudian menetapkan tempat ini menjadi cagar budaya. Tempat yang kemudian terkenal dengan sebutan Kawasan Cagar Budaya Tambang Oranje Nassau dan Perang Banjar Pengaron ini pun dilindungi undang-undang. Karena itu pemerintah dan masyarakat wajib untuk memperhatikan dan melindungi keberadaan tambang tersebut.
Oranje Nassau bahkan memiliki potensi wisata yang besar sebagai destinasi wisata geologi dan sejarah. Masyarakat bisa mengunjunginya untuk melihat bagaimana gambaran kegiatan pertambangan pada masa penjajahan Belanda. Selain itu masyarakat juga bisa mengenang perjuangan Pangeran Antasari serta pasukannya yang berjuang mati-matian melawan Belanda.
Baca Juga: Menilik Makam Peninggalan Belanda, Ereveld Leuwigajah Cimahi
Tambang Oranje Nassau bukan menjadi tambang batu bara tertua yang biasa saja dan tak bernilai sejarah. Tempat ini menjadi bukti nyata bahwa eksploitasi batu bara di Tanah Air sudah berlangsung sejak lama. Selain itu tempat ini bahkan menjadi saksi bisu pecahnya Perang Banjar pada tahun 1859 hingga tahun 1905. Karena itu tidak heran jika tambang batu bara Oranje Nassau ini benar-benar layak menjadi cagar budaya. (R10/HR-Online)

13 hours ago
10

















































