harapanrakyat.com,- RSUD Pandega Pangandaran, Jawa Barat, meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), di tengah situasi cuaca ekstrem dan musim penghujan saat ini. Warga diimbau untuk mengenali tanda bahaya DBD dan jangan sampai terkecoh oleh penurunan suhu tubuh pasien. Sebab, momen tersebut justru berpotensi menjadi fase kritis yang mematikan.
Baca Juga: RSUD Pandega Pangandaran Ingatkan Pola Makan bagi Pasien Hemodialisa
Hal itu ditegaskan oleh Dokter Umum RSUD Pandega Pangandaran, dr. Clarissa Verina Setiawan, kegiatan NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan) pada Kamis (7/5/2026) lalu. Ia menyoroti fenomena “jebakan” dalam siklus demam dengue, yang kerap disalahartikan oleh masyarakat awam sebagai tanda kesembuhan.
“Kadang saat demam mulai turun, justru pasien memasuki fase kritis. Ini yang sering disalahartikan sudah sembuh,” kata dr. Clarissa.
Membedakan Gejala Awal dan Tanda Bahaya DBD
Menurut dr. Clarissa, manifestasi klinis DBD umumnya diawali dengan gejala demam tinggi mendadak yang berlangsung selama beberapa hari. Kondisi ini biasanya disertai dengan keluhan sekunder. Seperti nyeri kepala, nyeri otot, tubuh lemas, serta kemunculan bintik-bintik merah (petekie) pada permukaan kulit.
Namun, ia mengomparasikan gejala awal DBD tersebut, dengan sejumlah tanda bahaya (warning signs) yang memerlukan intervensi medis darurat di fasilitas kesehatan. Tanda-tanda bahaya yang dimaksud meliputi nyeri perut yang hebat, muntah secara terus-menerus, perdarahan spontan (mimisan atau gusi berdarah). Kemudian, tubuh mengalami lemas ekstrem, akral dingin (ujung tangan dan kaki mendingin), dan penurunan tingkat kesadaran.
Keterlambatan dalam merespons tanda-tanda bahaya ini, lanjut dr. Clarissa, dapat meningkatkan risiko komplikasi serius berupa kebocoran plasma darah. “Bahkan hingga memicu Dengue Shock Syndrome (syok dengue) yang berakibat fatal,” ungkapnya.
Guna menekan laju penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini, RSUD Pandega menekankan, bahwa upaya kuratif (pengobatan) harus berjalan beriringan dengan langkah preventif (pencegahan) di lingkungan tempat tinggal.
Baca Juga: Waspada Nyeri Lutut di Usia Produktif, RSUD Pandega Pangandaran Ungkap Pemicu dan Risikonya
Selain mengenali tanda bahaya DBD, masyarakat diinstruksikan untuk rutin melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara mandiri melalui gerakan 3M. “Lingkungan yang bersih menjadi kunci utama pencegahan DBD,” pungkas dr. Clarissa. (Adi/R5/HR-Online)

12 hours ago
10

















































