Mengungkap Misteri dan Sejarah Candi Brahu di Trowulan

17 hours ago 11

harapanrakyat.com,- Sejarah Candi Brahu selalu menarik perhatian banyak peneliti ilmu purbakala di Indonesia. Monumen megah bercorak Buddha ini terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Sejalan dengan itu, bangunan ini diyakini sebagai situs peninggalan tertua di kawasan bekas ibu kota kerajaan.

Baca juga: Sejarah Candi Bajang Ratu Majapahit di Mojokerto Jawa Timur

Sementara itu, banyak ahli memperkirakan bahwa monumen ini sudah berdiri jauh sebelum Kerajaan Majapahit berjaya. Bahkan, dugaan ini diperkuat oleh penemuan Prasasti Alasantan yang diterbitkan oleh Raja Mpu Sindok pada masa silam. Dengan demikian, usianya dipastikan jauh lebih tua dibandingkan bangunan kuno lain di wilayah Trowulan dan sekitarnya.

Latar Belakang Sejarah Candi Brahu dan Penemuan Prasasti

Kemudian, catatan sejarah menyebutkan bahwa nama Candi Brahu berasal dari kata Wanaru atau Warahu. Selain itu, lempengan tembaga peninggalan tahun 939 Masehi tersebut ditemukan sangat dekat dari lokasi situs utama. Akibatnya, para sejarawan semakin yakin bahwa tempat ini dulunya merupakan sebuah bangunan suci yang amat penting.

Di samping itu, bangunan kuno ini memiliki arsitektur unik dengan bahan utama berupa batu bata merah. Lebih lanjut, atap monumen ini memiliki sudut banyak dengan sisa profil stupa pada sisi bagian tenggara. Tentu saja, gaya bangunan tanpa relief hiasan ini sangat khas dengan peninggalan purbakala di wilayah tersebut.

Walaupun demikian, terdapat sebuah mitos populer yang berkembang luas di tengah masyarakat pedesaan sekitar lokasi situs. Masyarakat sekitar meyakini bahwa tempat ini pernah difungsikan sebagai lokasi pembakaran jenazah para raja Dinasti Brawijaya. Namun, hasil ekskavasi peneliti tidak pernah menemukan sisa abu jenazah manusia di dalam bilik ruangan tersebut.

Baca juga: Sejarah Candi Tikus Peninggalan Majapahit di Trowulan Mojokerto

Sebaliknya, para ahli justru menemukan berbagai macam benda upacara keagamaan yang terbuat dari bahan logam perunggu. Begitu pula, penemuan perhiasan emas dan arca logam bercorak Buddha semakin menegaskan fungsi aslinya sebagai pemujaan. Oleh karena itu, identitas religius dari monumen megah ini menjadi semakin jelas bagi para ilmuwan budaya.

Tambahan pula, tinggi monumen bersejarah ini diperkirakan mencapai sekitar dua puluh lima meter dari permukaan tanah. Pencapaian ukuran bangunan yang menjulang tinggi ini menjadikannya sebagai salah satu monumen tertinggi di Jawa Timur. Pastinya, kemegahan fisik ini mencerminkan tingginya kemampuan nenek moyang kita dalam menguasai teknik rancang bangun kuno.

Pemugaran Candi oleh Pemerintah

Setelah itu, pemerintah melakukan pemugaran secara menyeluruh dari tahun 1990 hingga 1995 demi menjaga kondisi fisiknya. Saat ini, kawasan suci tersebut tidak hanya sekadar berfungsi sebagai daya tarik pariwisata yang sangat menawan. Bahkan, umat Buddha sering memanfaatkannya untuk merayakan hari besar seperti perayaan Waisak dan Asadha setiap tahunnya.

Baca juga: Mengungkap Misteri dan Sejarah Candi Jawi di Pasuruan Jawa Timur

Pada akhirnya, keberadaan monumen ini menjadi saksi bisu perkembangan peradaban masa lampau yang sangat luar biasa. Para pelancong dapat datang untuk menikmati langsung keindahan mahakarya arsitektur peninggalan leluhur zaman dahulu kala tersebut. Kesimpulannya, nilai luhur sejarah Candi Brahu akan selalu menjadi warisan budaya berharga yang wajib kita lindungi. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |