Semaoen atau Semaun merupakan tokoh yang terkenal sebagai ketua PKI pertama Indonesia. Kala itu, ia menjabat sebagai ketua umum sekaligus pendiri Partai Komunis Indonesia. Meskipun bukan terlahir dari keluarga kaya, Semaoen berhasil menjadi tokoh yang berpendidikan, bahkan berhasil masuk ke sekolah bumiputera kelas dua.
Baca Juga: Mengenang Proses Hukum Mahmilub Vonis Mati Dalang G30SPKI
Biografi Semaoen, Ketua PKI Pertama Indonesia
Semaoen terlahir pada tahun 1899 di Curahmalang, Sumobito, Jombang, Jawa Timur. Ia merupakan anak dari seorang tukang batu yang bekerja di kementerian kereta api, Prawiroatmodjo. Semaoen bukan terlahir sebagai orang kaya. Namun, ia berhasil mendapatkan pendidikan di sekolah pribumi kelas dua atau Tweede Klas.
Dalam sejarah pendidikannya, Semaoen juga memperoleh tambahan belajar dalam bahasa Belanda. Ia turut mengikuti sebuah kursus di sore hari. Setelah selesai pendidikan dasar, Semaoen tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi. Kemudian, ia bekerja di Staatsspoor Surabaya sebagai seorang juru tulis kecil.
Awal Berkarir di Dunia Politik
Kehadiran Semaoen di ranah politik bermula pada usianya yang ke-14 tahun. Tahun 1914, ia tergabung dalam organisasi Sarekat Islam cabang Surabaya. Kemudian tahun 1915, ia bertemu Sneevliet dan bergabung dalam Asosiasi Sosial Demokratik Hindia Belanda atau Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV).
Di usianya yang masih 16 tahun, sosok ketua PKI pertama Indonesia ini sudah aktif dalam organisasi pergerakan buruh. Ia terpilih menjadi salah satu anggota Indonesia pertama di Serikat Pekerja Kereta Api dan Trem atau Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel (VSTP). Kemudian, ia berhenti dari pekerjaannya untuk fokus menjadi aktivitas serikat secara penuh waktu.
Pada kesempatan yang sama, Semaoen juga mendapatkan kepercayaan untuk menajdi wakil ketua cang surabaya dari ISDV. Organisasi ini kemudian berkembang dan berubah menjadi Partai Komunis Indonesia atau PKI. Jejak karir Semaoen begitu melambung berkat kemampuannya dalam membaca dan mendengarkan bahasa Belanda. Terlebih, ia juga memiliki hubungan dekat dengan Sneevliet, pendiri ISDV.
Sosok Aktivis Pergerakan di Semarang
Pada tahun 1916, Semaoen berhenti dari pekerjaannya di Staatsspoor. Setelah itu, ia pindah ke Semarang dan menjadi propagandis bergaji untuk VSTP. Semaoen juga menjadi editor surat kabar milik VSTP dan Sarekat Islam di Semarang.
Baca Juga: Beberapa Permintaan DN Aidit Sebelum Dieksekusi Mati di Sumur Tua Jawa Tengah
Meskipun masih muda, Semaoen terkenal sebagai seorang jurnalis yang cerdas dan kritis. Ia sering menggunakan tulisannya untuk menyerang berbagai kebijakan dari pemerintah Belanda.
Pada tahun 1918, Semaoen masuk dalam jajaran anggota pimpinan Sarekat Islam, organisasi politik nasionalis terbesar saat itu. Sebagai ketua SI Semarang, Semaoen aktif memimpin aksi pemogokan buruh. Beberapa aksi yang dipimpinnya selalu berhasil. Bahkan mampu memaksa para pengusaha untuk menaikkan upah pekerja hingga 20% dengan tunjangan makan 10%.
Perjalanan sebagai Pendiri Partai Komunis Indonesia
Partai Komunis Indonesia resmi berdiri pada 23 Mei 1920. Awalnya, partai ini bernama Partai Komunis Hindia, kemudian berganti nama menjadi PKI beberapa bulan kemudian. Pembentukan partai ini dilatarbelakangi oleh pendiri ISDV yang dideportasi dari Hindia Belanda. Kemudian Semaoen menjadi sosok ketua PKI pertama Indonesia.
Pada awal pembentukannya, PKI masih menjadi bagian dari Sarekat Islam. Namun, perbedaan pandangan soal perjuangan kelas dan peran Islam dalam gerakan nasionalisme menciptakan konflik baru. Akibatnya, PKI dan SI resmi berpisah pada Oktober 1921.
Akhir tahun 1921, Semaoen berangkat ke Moskow. Posisinya sebagai ketua kemudian tergantikan oleh Tan Malaka. Setelah kembali ke Indonesia pada Mei 1922, ia berusaha untuk mengembalikan pengaruh partai PKI di organisasi SI. Sayangnya, usahanya tidak membuahkan hasil.
Semaoen bersama Alimin dan Darsono berupaya untuk memperluas dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Namun karena sikap dan prinsip komunisme yang ia pegang, hubungannya dengan tokoh-tokoh SI lain menjadi semakin renggang.
Peran Akhir dalam PKI
Pada tahun 1923, Semaoen memimpin dan mengorganisir pemogokan umum. Namun, aksi tersebut berhasil diberantas oleh pemerintah Belanda. Semaoen kemudian diasingkan dari Hindia Belanda dan menetap di Uni Soviet. Ia tinggal di sana lebih dari 30 tahun, berperan sebagai pemimpin di Tajikistan dan menulis novel soal cita-cita komunis serta Islam.
Baca Juga: Kisah Pierre Tendean, Cinta yang Tak Sampai dan Pengorbanan untuk A.H Nasution
Setelah Indonesia merdeka, Semaon kembali ke Tanah Air dan menetap di Jakarta. Ketua PKI pertama Indonesia ini menjadi anggota dewan penasihat pemerintah. Sayangnya, ia tidak diterima oleh kepemimpinan PKI yang baru. Ketua PKI pertama Indonesia tersebut bergabung dengan Partai Proletar, berseberangan dengan PKI. Ia terhindar dari dampak G30S PKI dan mengajar di Universitas Padjadjaran, kemudian wafat tahun 1971 di Jakarta. (R10/HR-Online)

13 hours ago
10

















































