Jejak perkembangan Islam di Pasundan tidak lepas dari keberadaan pondok sebagai pusat penyebaran dakwah, termasuk pesantren Pasambangan Jati. Pasambangan Jati menjadi tempat pertama yang perannya begitu luar biasa dalam sejarah pesantren di Cirebon. Tidak heran apabila kawasan ini hingga sekarang masih terkenal bahkan jadi tujuan kunjungan religi bagi banyak orang.
Baca Juga: Sejarah Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Ponpes Tertua di Kota Soto
Asal Usul Pesantren Pasambangan Jati
Pada masa lampau, wilayah Mertasinga, Kecamatan Gunung Jati, Cirebon, masih berupa hutan lebat dan perbukitan. Di kawasan inilah kemudian datang seorang ulama besar bernama Syekh Nurjati. Ia diperkirakan lahir di Malaka pada akhir abad ke-14, atau sekitar tahun 1380 hingga 1390-an.
Ayahnya populer sebagai ulama terpandang bernama Datuk Ahmad. Ia punya pengaruh besar dalam tradisi keilmuan Islam di Malaka. Syekh Nurjati berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang religius kuat. Secara nasab, keluarga Syekh Nurjati konon masih memiliki garis keturunan hingga Nabi Muhammad SAW.
Dalam silsilah keislaman, ia adalah keturunan ke-23 Rasulullah melalui jalur Ali Zainal Abidin bin Husein. Garis keturunan itulah yang semakin memperkuat kedudukan Syekh Nurjati sebagai tokoh penting. Khususnya dalam perkembangan dakwah Islam di Malaka sekaligus pada masa awal penyebarannya di Nusantara.
Tiba di Cirebon dan Memulai Dakwah
Dorongan untuk menyebarkan ajaran Islam membawa Syekh Nurjati meninggalkan tanah kelahirannya. Bersama rombongan, ia melakukan perjalanan panjang dari Bagdad menuju wilayah Nusantara. Saat itu, rombongan mereka kemudian tiba di Pelabuhan Muara Jati sekitar tahun 1420 Masehi.
Baca Juga: Inilah Deretan Pesantren Tertua di Indonesia, Saksi Bisu Perjuangan Islam sejak Abad ke-15
Kedatangan Syekh Nurjati mendapat sambutan hangat dari penguasa pelabuhan, yakni Ki Gedeng Tapa atau Ki Ageng Jumajan Jati. Tokoh tersebut memberikan izin kepada Syekh Nurjati untuk menetap di kawasan sekitar Gunung Jati. Setelah mencari tempat yang sesuai, ia memilih sebuah bukit kecil bernama Giri Amparan Jati sebagai pusat aktivitas dakwahnya.
Di tempat inilah Syekh Nurjati mulai mengajarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat sekitar. Pada masa itu, sebagian besar penduduk Cirebon masih memeluk kepercayaan Hindu dan Budha. Meski demikian, metode dakwah yang lembut dan penuh kebijaksanaan membuat ajaran Islam perlahan mampu masyarakat terima.
Menariknya, jumlah pengikutnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Salah satu muridnya yang paling terkenal kelak adalah Sunan Gunung Jati. Ia turut menjadi tokoh besar yang memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di Jawa Barat. Bahkan keseluruhan di Pulau Jawa dan sekitarnya.
Mendirikan Pesantren Pasambangan
Bukit Pasambangan yang menjadi tempat tinggal Syekh Nurjati penuh dengan pepohonan jati rindang. Konon, sinar matahari selalu menembus celah pepohonan tepat di lokasi beliau mengajar para santri. Dari peristiwa itulah muncul sebutan “Nurjati” yang memiliki makna cahaya di antara pohon jati.
Selain terkenal sebagai Syekh Nurjati, ia juga mendapat julukan Syekh Dzatu Kahfi. Konon, hal itu karena Syekh Nurjati sering beribadah dan bermunajat di sebuah gua. Saat ini gua tersebut terkenal sebagai Gua Gerbang Iman. Perjalanan dakwah Syekh Nurjati semakin berkembang setelah ia menikah dengan seorang perempuan lokal bernama Hadijah.
Hadijah merupakan seorang janda kaya yang masih memiliki hubungan keturunan dengan Haji Purwa Galuh. Setelah menikah, harta peninggalan keluarga Hadijah tidak untuk kepentingan pribadi. Melainkan mereka manfaatkan untuk mendukung kegiatan dakwah dan pendidikan Islam. Termasuk membangun Pesantren Pasambangan Jati supaya lebih baik.
Pengembangan Pesantren yang Kian Maju
Dengan dukungan tersebut, Syekh Nurjati kemudian membangun sebuah pondok pesantren yang lebih layak dan terorganisasi. Lembaga pendidikan itu terkenal dengan nama Pondok Pesantren Pasambangan Jati. Keberadaan pesantren ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan Islam di Cirebon.
Banyak sejarawan menyebut pesantren ini sebagai pondok pesantren tertua di wilayah Cirebon. Bahkan menjadi salah satu pesantren tertua di Jawa Barat setelah Pesantren Quro. Pesantren Pasambangan bukan hanya menjadi tempat belajar ilmu agama, tetapi juga pusat penyebaran Islam di pesisir utara Jawa Barat.
Baca Juga: Menelusuri Sejarah Pesantren Cikalama Sumedang Jawa Barat
Dari tempat inilah lahir banyak ulama dan penyebar dakwah yang kemudian berperan besar dalam perkembangan Islam di tanah Pasundan. Keberadaan Syekh Nurjati beserta Pesantren Pasambangan Jati juga tercatat dalam sejumlah naskah kuno dan sumber sejarah penting. Beberapa di antaranya adalah Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda, serta Sejarah Cirebon. Berbagai catatan itu menjadi bukti kuat bahwa Pesantren Pasambangan Jati memiliki posisi penting dalam proses awal islamisasi di Jawa Barat. (R10/HR-Online)

7 hours ago
14

















































