harapanrakyat.com,- Sarah Raudatul Aulia (25) memanggul tas berisi berkas dan ponsel untuk mendata warga. Dari satu rumah ke rumah lain di Dusun Cihideung, Desa Utama, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, petugas Sensus Ekonomi 2026 itu mengetuk pintu, memperkenalkan diri, lalu menjelaskan maksud kedatangannya.
Pekerjaan Sarah terdengar sederhana. Namun di lapangan, setiap pintu yang terbuka menyimpan cerita berbeda. Sarah merupakan lulusan salah satu perguruan tinggi di Bandung pada 2025. Menjadi petugas sensus adalah pekerjaan pertamanya setelah menyelesaikan kuliah. Alih-alih bekerja di balik meja kantor, ia justru menghabiskan hari-harinya menyusuri gang dan lorong perumahan, bertemu orang-orang yang belum pernah dikenalnya.
Di sanalah ia belajar bahwa mendata penduduk bukan sekadar mengisi formulir. Ada rasa sungkan, penolakan, hingga pelajaran hidup yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pengalaman lucu kerap menghiasi aktivitas Sarah. Suatu hari, saat mendatangi rumah seorang warga, ia sempat disangka kurir paket.
Sarah yang datang untuk pendataan Sensus Ekonomi 2026 disangka mengantarkan belanja daring karena tampil rapi sambil membawa berkas dan terus mencocokkan alamat rumah.
“Awalnya saya kira neng ini tukang antar paket. Soalnya rapi bawa berkas. Pas diketok, ternyata petugas sensus,” kata Siti Wulansari (25) warga Desa Utama yang didatangi Sarah, Senin (13/7/2026).
Baca Juga: Ketika Pendata Dikira Petugas Pajak, Cerita Sensus Ekonomi 2026 dari Ciamis
Setelah mengetahui tujuan kedatangannya, Siti justru menyambut baik proses pendataan tersebut. Menurutnya, data kependudukan yang akurat akan memudahkan berbagai pelayanan pemerintah.
“Bagus ada pendataan begini. Biar data warga jelas. Saya juga senang membantu memberikan data yang dibutuhkan,” ujarnya.
Namun, tidak semua warga seramah Siti. Selama sekitar sebulan bertugas, Sarah mulai memahami bahwa respons masyarakat sangat beragam.
Petugas Sensus Ekonomi 2026 di Ciamis Sering Dikira Petugas Pajak hingga Penyalur Bansos
Di sejumlah lingkungan, terutama warga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah, kehadiran Sarah sering dianggap membawa harapan baru. Ada yang mengira dirinya bisa membantu memasukkan nama mereka ke dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
“Kalau datang ke warga yang, maaf, kurang berpendidikan, saya sering dianggap bisa mendaftarkan mereka supaya dapat bansos,” kata Sarah kepada harapanrakyat.com.
Sebaliknya, saat mendatangi rumah-rumah yang lebih mapan atau dihuni kalangan pegawai, ia justru kerap mendapat tatapan penuh curiga.
“Ada yang mengira saya petugas yang mau menaikkan pajak. Padahal saya bilang, pajak mah naik sendiri dari pemerintah, bukan karena saya mendata,” ujarnya sambil tersenyum.
Respons seperti itu, menurut Sarah, sempat memengaruhi mentalnya. Apalagi ketika harus mendatangi kawasan perumahan elite. Tidak semua penghuni bersedia meluangkan waktu. Ada yang menerima dengan ramah, tetapi tidak sedikit pula yang langsung bertanya dengan nada kurang bersahabat.
“Buat apa sih, Teh? Banyak yang mengeluh seperti itu, Kalau enggak sabar, jujur bisa kena mental,” akunya.
Dalam masa kontrak sekitar dua setengah bulan, Sarah mendapat target mendata 475 kepala keluarga. Di lapangan, jumlah itu bertambah menjadi lebih dari 500 objek karena ia juga harus mendata bangunan kosong sekaligus menempelkan stiker pendataan.
Wilayah kerjanya berada di Desa Utama, kawasan yang terus berkembang dengan banyak penghuni baru dari luar daerah. Tak sedikit warga yang belum masuk daftar awal Badan Pusat Statistik (BPS) karena administrasi kependudukannya belum diperbarui. Hingga kini, Sarah telah menyelesaikan pendataan sekitar 300 kepala keluarga.
Jam kerjanya dimulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB, Senin sampai Sabtu. Meski demikian, ia tetap berusaha menghormati waktu istirahat warga.
“Kalau malam kan waktu orang istirahat. Saya enggak enak kalau harus bertamu. Jadi sebisa mungkin datang di jam yang wajar,” katanya.
Belajar Bersyukur dari Rumah-Rumah yang Didatangi
Di balik rasa lelah dan tekanan selama bekerja, Sarah justru menemukan pelajaran yang paling membekas. Sebagai warga asli Desa Utama, ia mengaku baru mengetahui kondisi sebagian masyarakat setelah terjun langsung ke lapangan.
Ia melihat rumah yang belum memiliki kamar mandi layak. Ada pula satu rumah kecil yang dihuni tiga kepala keluarga dengan kondisi ekonomi serba terbatas.
Pemandangan itu membuatnya melihat hidup dari sudut yang berbeda. “Dulu saya sering merasa punya banyak masalah. Tapi setelah turun ke lapangan, saya melihat masih banyak orang yang hidupnya jauh lebih berat. Sedih memang, tapi saya jadi belajar lebih banyak bersyukur,” ujarnya.
Baca Juga: Masyarakat Jawa Barat Diminta Sukseskan Sensus Ekonomi 2026, Wagub Erwan Jelaskan Tujuannya
Bagi Sarah, lembar demi lembar data yang ia kumpulkan bukan hanya deretan angka untuk kebutuhan statistik. Di balik setiap formulir, ada kisah tentang kehidupan masyarakat yang tak selalu terlihat dari luar. Dari lorong-lorong perumahan di Ciamis itulah ia memahami bahwa pekerjaan seorang petugas sensus bukan sekadar mendata, tetapi juga menyaksikan langsung wajah sosial yang hidup di tengah masyarakat. (Fahmi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

11 hours ago
8

















































