Ada banyak sahabat Rasulullah yang setia mendampingi perjuangan dakwah Islam, salah satunya Sa’ad bin Mu’adz. Sa’ad bin Mu’adz menjadi sosok sahabat yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Nabi Muhammad SAW. Ia merupakan pemimpin Bani Aus di Madinah dari kabilah Bani Asyhal.
Baca Juga: Sahabat Nabi Urwah bin Mas’ud, dari Kaum Penentang hingga Menjadi Teladan Islam
Sa’ad terkenal sebagai pribadi dengan loyalitas tinggi pasca memeluk agama Islam. Meski masa keislamannya tidak terlalu panjang, pengabdiannya begitu besar. Namanya pun dikenang dalam banyak riwayat. Bahkan wafatnya disebut membuat ‘Arsy Allah berguncang. Inilah kemuliaan yang sangat jarang Allah SWT berikan kepada manusia biasa.
Sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, dakwah Islam telah lebih dahulu sampai ke kota tersebut. Khususnya melalui perantaraan Mus’ab ibn Umayr. Mus’ab datang bersama As’ad bin Zurarah untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat Yatsrib. Dakwah keduanya ternyata membuat sebagian tokoh Madinah merasa tidak nyaman. Termasuk Sa’ad bin Mu’adz yang saat itu masih memegang kuat keyakinan nenek moyangnya.
Dengan penuh emosi, Sa’ad mendatangi Mus’ab dan As’ad karena menganggap mereka memecah belah masyarakat. Namun Mus’ab menghadapi kemarahan itu dengan tenang. Ia meminta Sa’ad duduk dan mendengarkan terlebih dahulu ajaran yang mereka bawa. Mus’ab lalu membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara lembut.
Perlahan hati Sa’ad mulai tersentuh. Wajahnya yang semula penuh amarah berubah menjadi teduh. Ia merasakan keindahan sekaligus kebenaran dari setiap ayat. Setelah mendengar penjelasan tentang Islam, Sa’ad bertanya bagaimana cara masuk agama ini. Mus’ab kemudian mengajarkan bersuci sekaligus mengucapkan syahadat.
Keislaman Sa’ad menjadi titik penting bagi perkembangan Islam di Madinah. Sebagai pemimpin Bani Aus, masuk Islamnya Sa’ad membuat banyak anggota kaumnya ikut memeluk Islam. Dalam waktu singkat, dakwah sahabat nabi berkembang pesat. Hal itu menjadi fondasi kuat bagi hijrahnya Rasulullah ke Madinah.
Ikut di Berbagai Peperangan
Setelah memeluk Islam, Sa’ad bin Mu’adz selalu berada di barisan terdepan membela Rasulullah. Menjelang Perang Badar misalnya, ia pernah pergi ke Makkah untuk melaksanakan umrah dan bertemu dengan Abu Jahal. Pertemuan itu berubah menjadi ketegangan karena Abu Jahal terus memusuhi kaum Muslimin.
Sa’ad dengan tegas memperingatkan bahwa kaum Muslim mampu mengganggu jalur perdagangan Quraisy menuju Syam. Terlebih jika penindasan terhadap umat Islam terus berlangsung. Dalam Perang Badar, Sa’ad mengemban tugas menjaga posisi penting di sekitar tenda Rasulullah. Ia memimpin pasukan pengawal yang bertugas memastikan keselamatan Nabi selama peperangan.
Setelah kemenangan terwujud dan banyak musuh tertawan, Sa’ad terlihat kurang menyukai keadaan tersebut. Ini karena ia berharap kaum Quraisy benar-benar jera terhadap permusuhan mereka kepada Islam. Kendati begitu, Rasulullah menguatkannya sambil memotivasi bahwa harapan itu pasti datang juga.
Baca Juga: Urutan Khalifah Islam atau Khulafaur Rasyidin dan Prestasinya
Perang Uhud pun tiba, Sa’ad kembali menunjukkan keberaniannya. Ketika pasukan Muslim sempat kacau akibat serangan mendadak dari belakang, sebagian pasukan tercerai-berai. Namun Sa’ad tetap bertahan di dekat Rasulullah bersama para sahabat setia lainnya. Dengan mengenakan baju perang, ia menjaga Nabi di tengah situasi yang sangat genting dan berbahaya.
Pertempuran Khandaq dan Bani Quraizah
Peran besar Sa’ad bin Mu’adz kian terlihat dalam Perang Khandaq pada tahun 5 Hijriah. Saat itu Madinah terkepung pasukan gabungan Quraisy dan sekutunya. Kaum Muslimin berada dalam tekanan berat karena ancaman datang dari berbagai arah. Situasi semakin menegangkan. Apalagi ketika Bani Quraizah, salah satu kabilah Yahudi yang sebelumnya terikat perjanjian dengan kaum Muslimin, melakukan pengkhianatan.
Di tengah suasana mencekam, Sa’ad tetap ikut bertempur meski perlengkapan perangnya sudah tampak usang. Dalam salah satu serangan, ia terkena anak panah yang mengenai urat besar di lengannya. Luka itu cukup serius hingga Rasulullah memerintahkan agar Sa’ad mendapat perawatan khusus di tenda Rufaidah Al-Aslamiyah.
Setelah Perang Khandaq berakhir, kaum Muslimin mengepung benteng Bani Quraizah selama beberapa minggu hingga mereka menyerah. Karena Bani Quraizah merupakan sekutu lama Bani Aus, sebagian orang meminta agar keputusan hukum diberikan kepada tokoh dari Aus sendiri. Rasulullah kemudian menunjuk Sa’ad bin Mu’adz sebagai hakim. Keputusan tersebut diterima semua pihak.
Sa’ad memberikan keputusan berdasarkan hukum yang berlaku saat itu terhadap pihak yang berkhianat di tengah peperangan. Keputusan itu menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Madinah. Sekaligus menunjukkan ketegasan Sa’ad dalam menjaga keamanan kaum Muslimin. Termasuk menghukum semua pasukan perang yang berkhianat serta penetapan budak.
Kematian yang Menggetarkan Semesta
Sayangnya, luka yang Sa’ad bin Mu’adz alami dalam Perang Khandaq semakin parah. Meski tubuhnya melemah, pikirannya tetap tertuju pada keselamatan umat Islam dan tegaknya keadilan di Madinah. Tidak lama setelah menyelesaikan persoalan Bani Quraizah, kondisinya terus menurun. Sampai akhirnya ia wafat pada usia sekitar 37 tahun.
Kepergian Sa’ad membawa duka mendalam bagi Rasulullah dan para sahabat. Ia terkenal sebagai sosok yang tulus, pemberani dan memiliki keimanan kuat. Walaupun masa keislamannya hanya beberapa tahun, pengorbanannya begitu besar bagi dakwah Islam. Sa’ad kemudian dimakamkan di pemakaman Baqi, Madinah.
Rasulullah pernah bersabda bahwa ‘Arsy Allah Yang Maha Pengasih berguncang karena wafatnya Sa’ad bin Mu’adz. Riwayat ini menunjukkan betapa tinggi kedudukannya di sisi Allah. Dalam beberapa kisah tertulis bahwa para penggali kubur mencium aroma harum dari liang makamnya. Bahkan konon ada ribuan malaikat turut menyolatkan jenazahnya sebagai bentuk penghormatan atas kemuliaan Sa’ad bin Mu’adz. (R10/HR-Online)

13 hours ago
12

















































