harapanrakyat.com,- Praktik pemotongan organ vital pada wanita masih sering terjadi di berbagai wilayah karena kuatnya alasan tradisi. Meskipun demikian, bahaya sunat perempuan ini sangat nyata serta berisiko merusak kualitas kehidupan mereka kelak. Oleh karena itu, isu krusial ini menjadi perhatian serius bagi berbagai lembaga kesehatan wanita dunia agar segera dihentikan.
Baca juga: Mengenal Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi Beserta Gejalanya
Kementerian Agama secara tegas telah menyarankan agar masyarakat tidak lagi melakukan praktik yang merugikan ini pada bayi. Pada dasarnya, tindakan pemotongan tersebut membawa lebih banyak dampak buruk daripada manfaat nyata bagi tubuh pasien. Bahkan, organisasi kesehatan dunia telah resmi melarang prosedur ini sejak tahun 1997.
Memahami Bahaya Sunat Perempuan Secara Medis dan Psikologis
Ada beberapa jenis prosedur pemotongan yang biasanya dilakukan oleh masyarakat tradisional pada bayi perempuan mereka. Sebagai contoh, melukai seluruh bagian klitoris hingga menjahit bibir vagina agar tampak lebih kecil. Tindakan ekstrem ini nyatanya sama sekali tidak memiliki tujuan kebersihan medis seperti halnya sunat pada kaum laki-laki.
Baca juga: Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Era Modern
Akibatnya, pengangkatan klitoris ini menghilangkan titik sensitif utama bagi seorang perempuan dewasa. Nantinya, kondisi tersebut akan menghambat gairah seksual sehingga istri sangat sulit untuk merasakan kepuasan saat berhubungan intim. Selain itu, hal ini sering kali membuat wanita enggan melayani suaminya dan berpotensi memicu konflik rumah tangga.
Di samping itu, tindakan ini juga menanamkan trauma mendalam di dalam pikiran bawah sadar sang anak. Mereka seringkali tumbuh dengan stigma bahwa hasrat seksual adalah sesuatu yang kotor dan sangat tabu. Alhasil, pandangan negatif tersebut akan terus terbawa sampai mereka memasuki jenjang pernikahan di masa depan.
Edukasi Mencegah Risiko dan Bahaya di Masyarakat
Pengetahuan yang minim di kalangan masyarakat luas menjadi akar penyebab utama praktik berbahaya ini masih terus berlangsung. Banyak orang tua pada mulanya beranggapan bahwa tindakan ini perlu dilakukan demi menjaga kesucian anak perempuan mereka. Sebaliknya, kesucian seseorang sama sekali tidak ditentukan oleh keberadaan atau ketiadaan organ klitoris pada tubuhnya.
Para pakar medis dan psikolog kini menentang keras adanya praktik yang menyerupai bentuk mutilasi organ genital ini. Oleh sebab itu, edukasi mengenai reproduksi harus terus digencarkan agar masyarakat tidak lagi mengorbankan masa depan anak. Anda tentunya bisa mencari informasi yang valid dari berbagai rujukan WHO atau berkonsultasi langsung dengan ahlinya.
Baca juga: Prosedur Pemeriksaan USG Transvaginal dan Manfaatnya
Masyarakat tidak boleh lagi hanya mengikuti perkataan leluhur tanpa mencari tahu kebenaran riset ilmiah yang mendalam. Keterbukaan pikiran sangat dibutuhkan agar pasangan suami istri dapat membangun komunikasi pernikahan yang sehat tanpa bayang-bayang trauma. Pada akhirnya, pemahaman yang benar akan menyelamatkan generasi mendatang dari kerusakan mental dan fisik yang tidak perlu.
Setiap individu wajib lebih waspada terhadap berbagai mitos menyesatkan yang beredar luas di lingkungan sekitarnya. Anda pastinya perlu menyebarkan kesadaran tentang bahaya sunat perempuan agar praktik ini segera ditinggalkan sepenuhnya. Perlindungan terhadap hak dan integritas tubuh anak dengan pendekatan psikologi adalah tanggung jawab kita bersama. (Muhafid/R6/HR-Online)

5 hours ago
5

















































