Makam Imogiri Bantul, Peristirahatan Terakhir Para Raja Mataram Islam

5 hours ago 7

Makam Imogiri Bantul merupakan tempat peristirahatan terakhir untuk para Raja Mataram dan juga keluarganya. Tempat ini merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Islam yang masih terus berfungsi hingga kini dan seterusnya. Tempat ini pun menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus tempat ziarah bagi masyarakat dari berbagai wilayah.

Baca Juga: Wisata Religi Tokoh Penting Makam Mbah Arya Baya Rahiya Bogor

Sejarah Makam Imogiri Bantul dari Masa Sultan Agung Kerajaan Mataram Islam

Kompleks Makam Imogiri berada di Gunung Merak, di antara Desa Girirejo dan Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, D.I. Yogyakarta. Tempat ini merupakan peristirahatan terakhir untuk Raja Mataram Islam, Raja Kesultanan Yogyakarta, dan Raja Kasunanan Surakarta. Karena sekarang, baik Kasultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta, memiliki hak dan kewajiban untuk memelihara tempat ini.

Pembangunan Mulai Tahun 1632

Sosok yang membangun tempat ini adalah Raja Kerajaan Mataram Islam yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo. Kyai Tumenggung Citro Kusumo terpilih menjadi pemimpin pembangunan kompleks makam untuk para raja ini. Proses pembangunan Makam Imogiri Bantul mulai tahun 1632 hingga 1645 dan awalnya bernama Pajimatan Imogiri.

Pajimatan yang berasal dari kata jimat memiliki makna sebagai tempat untuk pusaka. Sedangkan Imogiri berasal dari kata ima atau hima yang artinya berawan dan giri berarti gunung. Sehingga Pajimatan Imogiri berarti gunung yang menjadi tempat bersemayam jimat atau pusaka Kerajaan Mataram Islam.

Gabungan Arsitektur Gaya Islam Jawa dan Hindu

Tempat ini memiliki ciri arsitektur unik yang menggabungkan antara gaya Islam Jawa dan Hindu. Salah satu ciri khasnya yaitu menggunakan material bata merah yang mendominasi pada bagian atas. Material bata merah tersebut tidak menggunakan semen sebagai perekat melainkan menggunakan metode khusus yaitu kosod.

Metode kosod ini merupakan metode dengan menggosokkan permukaan antara batu bata dengan batu bata lainnya. Dalam prosesnya juga menggunakan tambahan sedikit air hingga mengeluarkan cairan pekat yang berperan sebagai perekat. Dengan metode inilah, maka kompleks bisa berdiri dengan kokoh meskipun tidak menggunakan semen.

Baca Juga: Makam Mama Sempur Purwakarta Destinasi Wisata Religi di Jawa Barat

Di Makam Imogiri Bantul ini juga terdapat 4 gapura dan gerbang dengan desain bangunan khas Hindu. Namun gerbang atau gapura tersebut memiliki atap tumpang atau limas yang menjadi ciri khas bangunan Islam. Selain itu, ada juga masjid peninggalan Sultan Agung yang menggunakan gaya tradisional khas Jawa.

Terbagi Menjadi 3 Bagian

Sultan Agung menjadi Raja pertama yang dimakamkan di tempat ini setelah meninggal pada tahun 1645. Makamnya menjadi makam pertama di tempat ini yang kemudian menjadi makam induk dengan sebutan Kasultanagungan. Setelah terjadi Perjanjian Giyanti, tempat ini pun tetap menjadi makam untuk raja-raja Kasultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta.

Kompleks Makam Imogiri Bantul ini terbagi menjadi 3 kelompok besar dari sisi barat ke sisi timur. Ketiganya yaitu:

  • Kelompok makam Raja Mataram Islam yang terdiri atas 2 kedhaton yaitu Kedathon Sultan Agungan serta Pakubuwanan.
  • Makam Raja Kasultanan Yogyakarta yang terdiri atas 3 kedhaton yaitu Kasuwargan, Besiyaran, serta Saptarengga.
  • Kelompok makam Raja Kasunanan Surakarta yang terdiri atas 3 kedhaton yaitu Bagusan, Astana Luhur, serta Girimulya.

Terdapat Makam Pengkhianat

Di kompleks peristirahatan terakhir para Raja Mataram Islam ini juga terdapat kuburan pengkhianat yaitu Tumenggung Endranata. Ia merupakan punggawa Sultan Agung yang berkhianat karena membocorkan rencana Sultan Agung pada VOC. Karena itu, ia mendapat hukuman mati dan jasadnya dikuburkan di tempat ini namun dengan cara tidak biasa.

Sebagai hukuman karena berkhianat, jasad Tumenggung dimutilasi menjadi 3 bagian yaitu kepala, badan, dan kaki. Bagian badannya kemudian dimakamkan di bagian tangga yang mengarah ke gapura Supit Urang. Tujuannya yaitu agar makamnya terinjak-injak sebagai simbol penghinaan abadi bagi sang pengkhianat tersebut.

Baca Juga: Makam Keramat Mundu Cirebon, Napak Tilas Dakwah Islam di Tanah Pasundan

Makam Imogiri Bantul kini telah berdiri selama ratusan tahun menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk para Raja. Masyarakat umum pun boleh datang ke tempat ini untuk berziarah sekaligus mengenang budaya dan sejarah. Namun aturan khusus seperti menggunakan pakaian adat Jawa untuk area tertentu dan melepas alas kaki di area makam inti. Para peziarah Makam Para Raja di Imogiri Bantul pun harus selalu menjaga sikap dan selalu sopan. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |