Jawa Barat menjadi salah satu provinsi dengan penemuan arkeologi terbanyak, salah satunya berada di Goa Aul Ciamis. Berlokasi di Banjaranyar, Ciamis, Goa Aul menyimpan berbagai tinggalan yang mengarah pada statusnya sebagai cagar budaya penting. Situsnya bahkan diduga kuat pernah jadi tempat bermukim manusia prasejarah ribuan tahun lalu silam.
Baca Juga: Candi Kedaton Jambi, Situs Percandian Hindu-Buddha Terluas di Asia Tenggara
Temuan di kawasan selatan Jawa Barat itu menjadi sasaran krusial. Khususnya bagi para peneliti untuk terus melakukan eksplorasi lebih lanjut. Terutama dalam berupaya memahami pola hunian, budaya, serta aktivitas-aktivitas manusia purba yang pernah hidup di lingkungan perbukitan karst tersebut.
Napak Tilas Goa Aul Ciamis dan Sejumlah Bukti Hunian Prasejarah
Penelitian pertama di kawasan Goa Aul berlangsung pada tahun 2023. Tepatnya ketika tim Geomorfologi dari Pusat Survei Geologi, Badan Geologi melakukan pemetaan di Pasir Aul, Mekarsari, Cikupa, Banjaranyar. Dalam survei tersebut, tim geomorfologi menemukan sebuah gua yang di dalamnya terdapat indikasi kuat aktivitas manusia masa lalu.
Temuan ini kemudian tim laporkan dan dibawa ke Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebagai tindak lanjut, BRIN melakukan peninjauan langsung ke lokasi temuan pada Mei 2023. Tujuannya untuk memastikan potensi arkeologis yang ada di dalam gua.
Secara fisik, Goa Aul memiliki ruang yang cukup luas. Dimensi panjang dari mulut hingga dinding dalam mencapai sekitar 29,7 meter. Adapun lebar mulut gua sekitar 28,66 meter. Sementara itu, tinggi dari lantai masa kini mencapai 9,85 meter, bagian langit-langit di area mulut gua sekitar 8,95 meter. Ukuran ini menunjukkan bahwa gua sangat memungkinkan untuk menjadi ruang hunian manusia prasejarah.
Budaya Mirip Goa Pawon
Goa Aul Ciamis kemungkinan besar juga menjadi tempat bermukim banyak manusia prasejarah di kawasan selatan Jawa Barat. Dari sisi budaya, temuan di lokasi ini memiliki kemiripan dengan situs Goa Pawon. Terutama pada konteks penguburan serta penggunaan warna merah berbahan hematit.
Baca Juga: Jejak Arca Domas Cibalay Bogor Sebagai Bukti Peradaban Kuno di Indonesia
Perkiraan umur budaya di Goa Aul mengarah pada periode yang relatif tua. Tepatnya dengan indikasi yang sejalan pada temuan karbon di Goa Pawon sekitar 4600 SM. Salah satu ciri mencolok adalah adanya pewarnaan hematit pada beberapa permukaan tulang. Konon ini memiliki nilai simbolik atau ritual tertentu pada masa itu.
Barang Temuan yang Beragam
Dalam proses ekskavasi dan pengamatan awal, tim arkeolog menemukan sejumlah objek benda cagar budaya yang cukup beragam. Total penemuan inti di Goa Aul Ciamis sekitar 76 fragmen kerangka berbentuk tulang. Ada juga 22 cangkang kerang, 1 buah tembikar, serta gigi badak maupun kerangka hewan purba lainnya.
Di antara temuan tersebut, terdapat sejumlah alat yang kemungkinan besar memiliki fungsi khusus dalam membantu aktivitas. Seperti halnya kapak batu, serpih, serta alat batu pukul (hammer stone). Beberapa batu pukul menunjukkan jejak penggunaan yang jelas. Misalnya berupa remukan pada bagian permukaan batu serta sisa warna merah hematit yang menempel.
Tulang Artefak
Menariknya, sejumlah tulang juga ada telah difungsikan sebagai artefak. Tim peneliti memastikan tulang-tulang ini punya fungsi untuk lancipan, mata tombak, hingga mata panah. Hal yang sekaligus menunjukkan tingkat adaptasi sekaligus teknologi cukup maju pada masanya. Begitu pula dengan moluska yang berasal dari kelompok bivalvia sp. dan pelecypoda sp.
Temuannya kian memperkuat dugaan bahwa masyarakat prasejarah di Goa Aul Ciamis memiliki pola konsumsi yang memanfaatkan sumber daya lingkungan sekitar. Bukti keberadaan manusia juga makin kuat berkat adanya fragmen tulang tengkorak serta bagian rangka manusia berwarna merah.
Tak ketinggalan fragmen rahang bawah sebelah kiri yang masih memiliki tiga susunan molar. Dua molar pertama (M1 dan M2) menunjukkan tingkat keausan atau atrisi yang cukup jelas. Sementara itu, M3 masih relatif utuh. Kondisi ini memberikan gambaran tentang usia serta pola makan individu pada masa tersebut.
Baca Juga: Eksplorasi Sejarah Pulau Paskah yang Mendunia
Hingga saat ini, penelitian di kawasan Goa Aul Ciamis masih terus berlangsung. Para peneliti berupaya maksimal memastikan apakah terdapat tinggalan lain yang belum terungkap di dalam maupun sekitar gua. Eksplorasi lanjutan diharapkan dapat memberikan gambaran lebih utuh mengenai kehidupan manusia prasejarah di wilayah selatan Jawa Barat. Di sisi lain, pemerintah daerah juga mulai melirik potensi Goa Aul Ciamis sebagai destinasi wisata edukasi dan sejarah. (R10/HR-Online)

7 hours ago
11

















































