Pulau Lombok yang masyhur dengan julukan “Pulau Seribu Masjid” menyimpan satu permata arsitektur yang sangat unik. Di atas bukit Dusun Jurang Malang, Desa Pakuan, Narmada, Lombok Barat, berdiri kokoh Masjid Ar-Ridwan atau terkenal dengan sebutan Musholla Merah Al-Ridwan.
Berbeda dari masjid konvensional berkubah bulat, tempat ibadah estetik ini tampil menonjol dengan arsitektur oriental khas kelenteng atau pagoda, lengkap dengan dominasi warna merah menyala dan aksen kuning keemasan.
Kisah Spiritual di Balik Pendirian Musholla Merah Al-Ridwan Lombok
Baca Juga: Jejak Sejarah dan Akulturasi: Transformasi Gereja Menjadi Masjid Ikonik di Berbagai Belahan Dunia
Keberadaan musholla ini berawal dari kisah perjalanan spiritual sepasang mualaf keturunan Tionghoa, Ang Thian Kok (H. Muhammad Maliki), dan Tee Mai Fung (Hj. Siti Maryam).
Pada tahun 1989, keduanya mengalami mimpi spiritual yang sama kedatangan beberapa kiai terpandang. Kejadian luar biasa ini menjadi pintu hidayah bagi mereka untuk mantap memeluk agama Islam pada 16 Mei 1989.
Terinspirasi keindahan Masjid Cheng Hoo di Surabaya melalui majalah Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) tahun 2009, H. Muhammad Maliki berniat mensyiarkan Islam dengan merepresentasikan budaya leluhurnya.
Ia pun merancang sendiri musholla ini dengan bantuan rekannya asal Surabaya. Konstruksinya mulai tahun 2010 dan diresmikan pada 2011.
Nama “Ar-Ridwan” sendiri dipilih setelah sang pendiri bermimpi memenangkan lomba memetik kelapa muda. Saat membelah untuk meminum airnya, ia melihat tulisan misterius “Ridwan” pada bagian dalam tempurung kelapa tersebut.
Filosofi Arsitektur Tionghoa Islami
Daya tarik utama Masjid Ar-Ridwan atau Musholla Merah Al-Ridwan terletak pada detail arsitektur tradisional China yang berpadu harmonis dengan filosofi keislaman mendalam.
Kubah Atap Bertingkat Tiga: Meniru struktur pagoda, melambangkan tiga fase kehidupan manusia dalam Islam, yaitu alam kandungan (rahim), alam dunia (tempat ujian), dan alam akhirat (pertanggungjawaban amal).
Struktur Oktagon (Segi Delapan): Menyerupai bentuk jaring laba-laba. Secara filosofis melambangkan penangkap dan pengumpul rezeki dari berbagai penjuru mata angin.
Ornamen 23 Sudut: Pada kubah luar, terukir rapi nama-nama nabi dan malaikat agung untuk menambah kesakralan eksterior bangunan.
Kaligrafi Mandarin: Di pintu masuk, terukir kaligrafi Mandarin pembawa pesan ukhuwah: “Biarpun kita jauh, namun kita tetap dekat karena kita bersaudara sesama Muslim.”
Fasilitas dan Kegiatan Sosial
Selain tempat salat berjamaah warga, Musholla Merah Al-Ridwan menjadi pusat mengaji anak-anak serta lokasi akad nikah. Uniknya, selama bulan Ramadhan, pengelola sengaja tidak mengadakan salat Tarawih berjamaah demi menghormati warga agar bisa beribadah di masjid pemukiman terdekat.
Pengelola menyediakan fasilitas gratis seperti taman bunga, kolam renang anak, area wudhu bersih, dan spot foto oriental. Keindahan spiritual dan arsitektur Musholla Merah Al-Ridwan menjadikannya destinasi wisata religi di Lombok yang wajib dikunjungi. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

6 hours ago
6

















































