harapanrakyat.com,- Pemerintah Indonesia berencana melakukan langkah besar dalam pengendalian anggaran dengan memangkas kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi secara signifikan pada tahun 2027. Kebijakan ini diprediksi akan memberikan dampak luas bagi masyarakat. Terutama mereka yang selama ini mengandalkan Pertalite untuk mobilitas harian.
Berdasarkan data dari Nota Keuangan dan RAPBN 2027, pemerintah menetapkan alokasi BBM bersubsidi hanya sebesar 20,09 juta kiloliter (KL). Angka ini merosot tajam dari kuota tahun 2026 yang mencapai 48,43 juta KL. Dengan kata lain, terdapat pengurangan hingga 58,5 persen atau setara dengan 28,34 juta KL.
Kendali Kuota Subsidi BBM 2027 dan Nasib Pertalite
Baca Juga: Menkeu Purbaya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Akhir 2026
Kebijakan pemerintah ini sebagai bagian dari strategi untuk memperketat penyaluran subsidi energi. Ferry Ardiyanto, Plt. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF), mengungkapkan bahwa pengendalian ini juga menyasar jenis BBM subsidi populer, yakni Pertalite.
“Berdasarkan pertemuan Menteri ESDM dan Menteri Keuangan, disebutkan akan dilakukan beberapa langkah terkait pengendalian subsidi. Termasuk salah satunya untuk BBM Pertalite,” kata Ferry dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: Pembatasan Pembelian Pertalite Dimulai Akhir 2026: Motor Aman, Targetkan Golongan Mampu
Selain pengurangan kuota subsidi BBM tahun 2027, pemerintah menyusun skenario anggaran tersebut dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar US$ 75 per barel. Angka sebesar itu tergolong konservatif, mengingat harga minyak saat ini masih bertengger di kisaran US$ 83 per barel.
Dampak Nyata Bagi Masyarakat
Penurunan kuota subsidi BBM tahun 2027 yang mencapai lebih dari separuh ini memicu kekhawatiran terkait aksesibilitas masyarakat terhadap bahan bakar murah. Pembatasan akses tersebut berisiko menjadi beban tambahan bagi daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.
Baca Juga: Reformasi Subsidi BBM: Kemenkeu Soroti Warga Punya Lebih dari 1 Mobil Masih Pakai Pertalite
Mengingat kendaraan operasional sehari-hari banyak yang menggunakan Pertalite, masyarakat kemungkinan besar harus bersiap menghadapi dua pilihan sulit. Pertama, menghadapi pembatasan atau pengetatan kriteria penerima subsidi. Pilihan kedua, beralih ke BBM non-subsidi dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah agar kebijakan efisiensi anggaran tidak mengganggu stabilitas ekonomi rumah tangga dan biaya transportasi nasional. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

1 day ago
8

















































