Sepintas, pabrik cokelat peninggalan belanda di Garut nampak biasa dan tidak terlalu mencolok. Namun, bangunan yang berdiri di jalan Cimanuk, Garut, Jawa Barat ini justru menyimpan sejarah panjang sebagai pabrik cokelat pertama Indonesia. Meskipun terbengkalai, jejak masa lalunya masih terasa kuat yang mencerminkan nilai warisan kolonial Belanda di Tanah Jawa.
Baca Juga: Warga Garut Temukan Mortir Kolonial Berkarat di Bekas Pacuan Kuda, Jibom Polda Jabar Turun Tangan
Perjalanan Pabrik Cokelat Peninggalan Belanda di Garut
Pabrik cokelat peninggalan Belanda atau Ceres N.V sudah berdiri sejak tahun 1890. Kala itu, bangunan ini menjadi salah satu pusat makanan yang paling laris diburu masyarakat. Kabarnya, berdirinya pabrik cokelat di Garut melatarbelakangi perkebunan kakao yang cukup unggul di daerah tersebut. Biji cokelat yang dihasilkan memiliki kualitas baik, cocok jadi komoditas ekspor ke luar negeri.
Sebenarnya, berdirinya pabrik cokelat di Garut atau Ceres N.V tak lepas dari peran keluarga Vanhotten. Di mana, mereka berhasil merubah produk mesin pencacah cokelat menjadi cokelat layak konsumsi. Sayangnya, setelah Jepang masuk perusahaan cokelat ini harus gulung tikar. Perjalanannya begitu panjang sebelum akhirnya terbengkalai seperti sekarang.
Awal Pembuatan Pabrik
Menurut budayawan, Franz Limiart, Ceres N.V di Garut berdiri atas dasar kongsi bersama. Kongsi ini melibatkan keluarga pengusaha asal Belanda, Vanhotten dan Khoe Keg Goan, seorang pengusaha Cina dari pribumi yang memiliki keahlian untuk mengolah makanan.
Baca Juga: Perkebunan Teh Cisaruni Garut, Jejak Sejarah Ekspor Teh Hitam Zaman Belanda
Kedua belah pihak kemudian sepakat untuk membuat pabrik cokelat. Hasil kerjasama ini cukup apik, mengingat bangunan merupakan pabrik cokelat terbesar saat itu. Bukan hanya di Indonesia, Franz Limiart juga menyebutkan bahwa pabrik cokelat peninggalan Belanda di Garut bisa jadi terbesar di Asia.
Dengan proyeksi usaha keduanya, pabrik cokelat mulai beroperasi pada tahun 1890. Mereka mulai berproduksi dengan target pasar utama dalam negeri. Ada pula beberapa negara di kawasan Asean, seperti Singapura dan Malaysia.
Peralihan Kepemilikan Pabrik
Dalam sejarahnya, Vanhotten dan Khoe Keg Goan terus menikmati masa kejayaan hingga awal 1940-an. Setelah Jepang masuk pada tahun 1942, kongsi pengusaha tersebut akhirnya pecah. Dengan alasan keamanan, akhirnya mereka terpaksa menjual perusahaan ke pihak lain.
Kemudian, pengusaha asal Burma, Ming Chee Chuang melanjutkan perusahaan Ceres. Ia sangat beruntung, sebab seluruh merek dagang Ceres sangat digandrungi masyarakat lokal di kemudian hari.
Ming Chee Chuang sendiri sengaja mempertahankan nama Ceres N.V untuk memudahkan pemasarannya. Kemudian, akhir tahun 1940-an ia mulai memproduksi cokelat batangan. Setelah itu, Ceres N.V berubah nama menjadi PT. Ceres sejak 20 Januari 1950. Kini, pabrik tersebut menjadi Perusahaan Industri Ceres Grup.
Di beberapa kegiatan kenegaraan resmi, produk cokelat Ceres seringkali menjadi camilan kegiatan. Hal ini cukup relevan, mengingat produksi Ceres sesuai dengan lidah orang Indonesia. Kabarnya, Presiden Soekarno pun merupakan salah satu penikmat produk olahan pabrik cokelat peninggalan Belanda di Garut tersebut. Menurut cerita yang beredar, bapak revolusi bangsa ini enggan menikmati cokelat lain selaian produksi dari Ceres.
Pindah ke Bandung
Setelah lama berproduksi di Garut, akhirnya pabrik pindah ke Bandung sekitar akhir tahun 1990-an. Keputusan relokasi ini dilatarbelakangi oleh kondisi iklim usaha di Garut yang mulai tidak kondusif. Selain mulai munculnya pungutan liar, reaksi masyarakat yang sering bersitegang pun jadi salah satu faktor perpindahan tersebut.
Kini, paberik cokelat legendaris Ceres terbengkalai tanpa perawatan. Beberapa kaca bangunan bagian depan sudah pecah tanpa adanya perbaikan. Sementara itu, beberapa bagian pabrik lainnya juga kosong tak bertuan.
Masyarakat sekitar kemudian memanfaatkan bagian depan pabrik untuk menjual bunga dan aksesoris taman. Sementara area pintu masuk pabrik dimanfaatkan untuk menyimpan gerobak dagang milik warga setempat.
Padahal, jika dilihat sepintas, lokasi pabrik tergolong strategis. Pabrik cokelat ini berdiri di pusat kota Garut dengan akses transportasi yang menguntungkan. Belum lagi, bangunannya berdiri di samping rel kereta api yang sudah memasuki proses reaktivasi dari pemerintah. Hal ini jelas memudahkan hilirisasi dan distribusi barang ke seluruh wilayah.
Baca Juga: Sejarah Kampung Amsterdam di Garut, Saksi Bisu Kekalahan Belanda oleh Jepang Tahun 1942
Keberadaan pabrik cokelat peninggalan Belanda di Garut tak hanya menjadi bagian dari sejarah industri. Namun, pabrik cokelat peninggalan Belanda di Garut ini juga merekam perjalanan panjang dengan nilai historis kuat. Meski sudah terbengkalai, tak bisa dipungkiri bahwa keberadaannya masih dikenang sebagai simbol warisan sejarah sekaligus identitas lokal. (R10/HR-Online)

11 hours ago
6

















































