Kalimantan saat ini sedang menjalani metamorfosis besar, bertransisi dari pulau lumbung komoditas menjadi kanvas bagi pembangunan “Forest City” Ibu Kota Nusantara (IKN). Sebagai salah satu wilayah yang menyuguhkan pesona paru-paru dunia, transisi ini menjadi ujian nyata bagi Indonesia untuk membuktikan bahwa pembangunan modern dapat bersenyawa secara harmonis dengan pelestarian lingkungan yang mutlak.
Di kawasan Heart of Borneo, kabut tipis menyelimuti pepohonan raksasa dan membawa aroma tanah basah purba yang khas. Berdampingan dengan proyek pembangunan masa depan yang ambisius.
Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN dirancang untuk menjadi etalase kota hijau masa depan dengan menerapkan konsep pembangunan regeneratif.
Baca Juga: Pesona Gunung Parung IKN: Atap Hijau Eksotis di Ibu Kota Baru
Kalimantan Amazon-nya Indonesia, Suguhkan Pesona Paru-Paru Dunia
Sebagai ikon pariwisata baru, kawasan Glamping IKN yang berjarak 2,7 kilometer dari Titik Nol IKN menawarkan sensasi kemewahan di tengah belantara, tepat di samping Miniatur Hutan Hujan Tropis.
Di bawah naungan pohon Eucalyptus sp., kabin kayu eksklusif ini memberikan suasana sejuk dan menawarkan konsep “healing” yang otentik bagi pengunjung. Meskipun saat ini fasilitas tersebut masih mengutamakan untuk dinas pejabat negara, daya tarik visualnya telah meningkatkan kesadaran publik secara signifikan.
Pariwisata di IKN harus mengarah pada sektor pariwisata minat khusus (special interest tourism). Tujuannya agar Kalimantan mampu memancarkan keindahan sejati sebagai “Amazon-nya Indonesia” yang merepresentasikan pesona paru-paru dunia.
Pengamat pariwisata Prof. Azril Azhari, memperingatkan agar pembangunan IKN tidak hanya menjual kemegahan gedung fisik yang hanya memicu rasa penasaran sesaat wisatawan.
Untuk menjaga keberlanjutan sektor pariwisata, IKN perlu diintegrasikan secara luas dengan provinsi penyangga seperti Kalimantan Timur, yang menawarkan petualangan luar biasa. Mulai dari keunikan dua rasa air di Danau Labuan Cermin, ubur-ubur tanpa sengat di Pulau Kakaban. Atau pelestarian Bekantan di Mangrove Center Graha Indah. Hingga kearifan budaya Suku Dayak Kenyah di Desa Pampang.
Baca Juga: Menjelajahi Pesona Hutan Lindung Taman Nasional: Paru-Paru Dunia di Jantung Indonesia
Pusat Ekologi Global
Di sisi lain, Kalimantan Tengah memegang peranan krusial sebagai benteng pertahanan keanekaragaman hayati dunia. Destinasi utama seperti Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) sukses memikat puluhan ribu turis mancanegara.
Melalui wisata susur Sungai Sekonyer menggunakan perahu kelotok, wisatawan bisa berkontribusi langsung terhadap dana perlindungan habitat Orangutan.
Namun, keindahan di destinasi lain seperti TWA Bukit Tangkiling dengan spiritualitas Hindu-Kaharingannya, kini terancam oleh aktivitas penambangan batuan ilegal.
Oleh karena itu, partisipasi aktif masyarakat lokal dalam menjaga hutan adat sangat krusial guna menghentikan kerusakan lingkungan akibat industri ekstraktif.
Masa depan Kalimantan sebagai pusat ekologi global pada akhirnya bergantung pada komitmen nyata dalam menjaga inisiatif Heart of Borneo (HoB) seluas 23 juta hektare.
Baca Juga: Dari Ijen hingga Raja Ampat: Menelusuri Jejak Keajaiban Destinasi Cagar Alam di Indonesia
Perlindungan hak-hak masyarakat adat Dayak kini gencar diperjuangkan melalui pemetaan wilayah mandiri oleh kelompok pemuda dan perempuan lokal. Seperti program FPAR yang menjadi kunci penting bagi kemandirian ekonomi. Sekaligus bagi kelangsungan ekosistem tersebut.
Dengan memadukan pembangunan forest city, pariwisata minat khusus yang terkelola dengan baik. Serta pengakuan terhadap hak adat, Kalimantan akan tetap lestari dan senantiasa memancarkan pesona paru-paru dunia bagi generasi mendatang. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

5 hours ago
9

















































