Integrasi Budaya dan Industri Kreatif, Kunci Masa Depan Pariwisata Pangandaran 

12 hours ago 7

harapanrakyat.com,- Potensi seni, tradisi dan budaya di Kabupaten Pangandaran dinilai membutuhkan ruang pengolahan yang serius agar tidak sekadar menjadi tontonan tahunan, melainkan mampu menggerakkan roda perekonomian warga secara berkelanjutan.

Baca juga: Polemik Hibah 30 Hektare untuk Kampus ISBI Pangandaran, DPRD Minta Pemkab Tak Terburu-buru

Hal tersebut ditegaskan oleh Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISBI Bandung, Profesor. DR. Husen Hendriyana saat menyoroti pentingnya konsep Living Culture dan Living Laboratory dalam penguatan ekosistem pariwisata daerah.

Menurutnya, Pangandaran memiliki kekayaan tradisi agromaritim yang sangat erat, seperti Hajat Laut di kawasan pesisir serta ritual Ngabuku Taun atau Hajat Bumi di Desa Cikalong, Kecamatan Sidamulih. “Masyarakat Pangandaran tidak pernah memisahkan sawah dan samudra. Mereka membaca darat dan laut sebagai satu tarikan napas,” ungkapnya.

Mata Rantai Nilai Budaya Belum Terhubung

Meski kaya akan tradisi seperti seni tarian Ronggeng Gunung dan keterampilan kriya lokal, rantai nilai ekonomi kebudayaan di Pangandaran dinilai belum terintegrasi secara optimal dengan industri pariwisata.

Ada enam simpul utama dalam rantai nilai budaya, yaitu dokumentasi, pemaknaan, perancangan, produksi, pengemasan, hingga pemasaran. Saat ini, simpul dokumentasi, pemaknaan, dan perancangan masih membutuhkan perhatian serius.

Akibat terputusnya simpul tersebut, oleh-oleh maupun suvenir yang disajikan kepada wisatawan kerap kehilangan identitas lokal dan bernilai tambah rendah. Wisatawan cenderung hanya menikmati keindahan pantai tanpa terkoneksi dengan narasi budaya setempat.

Baca juga: Rencana Pembangunan Kampus IAIN dan ISBI di Pangandaran: Harapan Baru Pendidikan Anak Daerah

Kehadiran ISBI Bandung Kampus Pangandaran dirancang untuk mengisi simpul-simpul yang kosong tersebut. Kampus difungsikan sebagai laboratorium hidup tempat mahasiswa dan masyarakat berkolaborasi mengolah perbendaharaan visual lokal—seperti ornamen perahu hias dan anyaman—menjadi produk kriya, interior, desain komunikasi visual, hingga seni pertunjukan berkualitas.

Pendekatan ini juga mendorong pengembangan wirausaha kriya (craft preneurship) berbasis produk ramah lingkungan dan ekonomi sirkular, seperti pemanfaatan limbah industri dan bahan alam lokal.

Sektor perhotelan dan akomodasi menjadi salah satu area yang paling siap memanfaatkan sentuhan kreatif ini. Dinding hotel dapat difungsikan sebagai galeri karya lukis, sementara desain interior dan produk kriya lokal dapat memperkuat identitas kekhasan Pangandaran.

“Seni mampu menerjemahkan pesan konservasi dan tradisi ke dalam bahasa yang mudah dipahami, baik oleh warga maupun wisatawan,” jelasnya.

Meski demikian, pemanfaatan tradisi untuk penguatan ekonomi tetap harus memegang teguh esensi dan nilai filosofis budaya itu sendiri. Makna tradisi harus dipelihara terlebih dahulu sebelum dikenalkan kepada publik agar tidak kehilangan ruh aslinya. (Mad/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |