Kawasan Pecinan ikonik di Indonesia bukan sekadar permukiman etnis semata, melainkan ruang hidup yang menyimpan jejak sejarah panjang, dinamika ekonomi. Serta keajaiban akulturasi budaya.
Dari ujung barat hingga timur Nusantara, kawasan-kawasan ini telah bertransformasi menjadi ikon kota dan destinasi wisata sejarah (heritage) yang sangat populer. Terutama menjelang perayaan Imlek dan Cap Go Meh.
Di Jakarta Barat, Pecinan Glodok memegang predikat sebagai yang tertua di tanah air dengan akar sejarah sejak abad ke-17. Wisatawan dapat mengunjungi Vihara Dharma Bakti yang berdiri tahun 1650. Atau berburu kuliner legendaris di Gang Gloria dan Petak Sembilan.
Sementara itu, Semarang menawarkan “Kota Seribu Kelenteng” di kawasan Kauman. Klenteng Tay Kak Sie menjadi daya tarik utamanya karena koleksi dewanya yang lengkap.
Keunikan Arsitektur dan Nilai Sejarah Pecinan Ikonik di Indonesia
Pecinan Lasem di Rembang, yang sering dijuluki sebagai “Petit Chinois” atau Tiongkok Kecil, memiliki keistimewaan pada perpaduan arsitektur Cina dengan elemen lokal Jawa seperti pendhapa.
Baca Juga: Menelusuri Keajaiban Bayat Klaten: Dari Jejak Dakwah Sunan Pandanaran hingga Misteri Sumur Raksasa
Sebagai salah satu Pecinan ikonik di Indonesia, Lasem juga dikenal luas melalui Batik Tulis Lasem yang menjadi penyokong ekonomi. Sekaligus simbol pelestarian nilai-nilai penghormatan leluhur.
Di Jawa Timur, kawasan Kya-Kya di Surabaya yang sarat sejarah kolonial kini menjadi simbol harmoni dengan keberadaan Rumah Abu Keluarga Han, dan Kelenteng Hong Tiek Hian.
Tak kalah menarik, Singkawang di Kalimantan Barat menonjol dengan festival Cap Go Meh yang spektakuler melalui atraksi tatung dan parade lampion.
Baca Juga: Pesona Klenteng Sam Poo Kong: Jejak Sejarah Laksamana Cheng Ho dan Ikon Wisata Religi di Semarang
Di Medan, kawasan Kesawan Square dan Asia Mega Mas telah berkembang menjadi pusat komunitas modern yang menjadi surga kuliner malam bagi para pelancong.
Menjelajahi kawasan Pecinan ikonik di Indonesia bagaikan membaca lembaran sejarah bangsa dalam versi yang lebih berwarna. Pelestarian kawasan-kawasan ini sangat penting. Bukan hanya untuk mendukung pariwisata yang berkelanjutan, tetapi juga untuk menjaga jati diri kota dari arus modernisasi yang massif. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

1 day ago
18

















































