Kisah Cinta Soekarno dan Heldy Djafar, Romansa Terakhir Sang Proklamator

9 hours ago 14

Kisah cinta Soekarno dan Heldy Djafar selalu menjadi cerita menarik dari perjalanan hidup sang presiden pertama RI. Di balik sosoknya sebagai pemimpin bangsa, Presiden Soekarno punya kisah cinta romantis sekaligus rumit dengan Heldy Djafar. Hubungan keduanya dibayangi situasi politik Indonesia yang sedang bergejolak pada masa transisi menuju Orde Baru.

Baca Juga: Kamar Soekarno di Savoy Homann Kaya Sejarah, Jadi Rebutan Pejabat

Bagi yang belum tahu, Heldy Djafar adalah perempuan muda asal Kalimantan Timur. Ia anak kesembilan dari pasangan Djafar dan Hamiah. Heldy menjadi istri kesembilan sekaligus terakhir Soekarno. Keduanya menikah pada 1966 ketika Heldy masih berusia 18 tahun, sementara Soekarno menginjak 65 tahun.

Awal Kisah Cinta Soekarno dan Heldy Djafar

Jalinan asmara keduanya mulai tumbuh ketika Heldy, tergabung dalam barisan Paskibraka dan Bhineka Tunggal Ika. Ia kemudian bertemu Bung Karno dalam sebuah acara di Istana Negara. Saat itu, Heldy menjadi salah satu wakil dari Kalimantan dalam penyambutan tamu negara. Sekaligus penyambutan tim Piala Thomas pada 1964-an.

Ketika Soekarno menaiki tangga Istana Negara, ia memperhatikan para anggota barisan yang berdiri rapi di kanan dan kiri. Tatapan Bung Karno kemudian tertuju kepada Heldy. Sejak saat itu, perhatian Soekarno kepada gadis muda tersebut mulai terlihat. Pertemuan berlanjut di Istana Bogor ketika Heldy kembali ikut dalam barisan Bhinneka Tunggal Ika.

Baca Juga: Mengungkap Misteri 57 Ton Emas Soekarno di Bank Swiss

Meski sempat berusaha berdiri di pojok agar tidak terlihat, Heldy justru dipanggil langsung oleh Soekarno melalui ajudannya. Dalam kesempatan lain, Heldy juga mendapat tugas menyanyi di depan presiden. Ia menyanyikan lagu daerah Kalimantan berjudul Bajiku Batang. Bahkan Bung Karno memintanya mengulang lagu tersebut sekali lagi karena terkesan dengan suaranya.

Kedekatan keduanya semakin terlihat saat Heldy kembali menerima undangan ke Istana sebagai pagar ayu. Malam itu, Bung Karno memperhatikan Heldy yang mengenakan kebaya hijau dan memintanya menari lenso bersama. Sejak saat itu, hubungan keduanya kian intens. Bung Karno bahkan sempat mendatangi kediaman Heldy dan memberinya hadiah jam tangan Rolex.

Setelah melalui pendekatan yang cukup dekat, Presiden Soekarno resmi menikahi Heldy Djafar. Tepatnya pada 11 Juni 1966 di Wisma Negara. Pernikahan tersebut berlangsung secara Islam. Beberapa tokoh penting ikut menyaksikan, termasuk Ketua DPA Idham Chalid dan Menteri Agama Saifuddin Zuhri.

Renggang Akibat Gejolak Politik

Kisah cinta Soekarno dan Heldy Djafar akhirnya harus menghadapi ujian berat akibat kondisi politik Indonesia yang semakin memanas. Pasca-peristiwa 1965, posisi Soekarno sebagai presiden mulai melemah. Kekuasaan perlahan berpindah ke tangan rezim Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto.

Situasi tersebut membuat kehidupan pribadi Bung Karno ikut berubah drastis. Ia tidak lagi bebas menjalankan aktivitas seperti sebelumnya. Sehingga lebih banyak menjalani pengasingan politik di Wisma Yaso, gedung yang kini terkenal sebagai Museum Satria Mandala. Kondisi ini membuat kisah serta hubungan Soekarno dan Heldy Djafar menjadi renggang.

Sebagai istri muda, Heldy harus menghadapi tekanan besar di tengah situasi negara yang tidak menentu. Ia juga melihat kondisi kesehatan Soekarno yang terus menurun akibat tekanan politik maupun pembatasan aktivitas. Hubungan mereka yang awalnya penuh perhatian dan kemesraan perlahan berubah menjadi memilukan.

Perceraian Pasca Menikah Singkat

Akibat situasi politik yang semakin kacau dan masa depan tidak pasti, Heldy Djafar akhirnya memilih memilih mengakhiri kisah dengan Soekarno. Keputusan tersebut bukanlah hal mudah. Mengingat hubungan mereka pernah begitu dekat dan penuh kasih sayang. Bahkan usia pernikahan juga masih sangat singkat.

Heldy kemudian meminta izin kepada Bung Karno untuk menikah lagi. Pada 19 Juni 1968, ia resmi menikah dengan Gusti Suriansyah Noor, seorang keturunan Kerajaan Banjar. Meski berat, Soekarno akhirnya merelakan perempuan terakhir dalam hidupnya tersebut untuk memulai kehidupan baru.

Perceraian mereka menjadi salah satu bagian paling menyedihkan dalam kisah cinta Bung Karno. Di tengah kondisi kesehatan dan kekuasaan yang memburuk, Soekarno harus menerima kenyataan bahwa rumah tangganya benar-benar berakhir. Namun, hubungan keduanya tetap berlangsung baik meski telah berpisah.

Kepergian Sang Presiden

Dua tahun setelah perpisahannya dengan Heldy Djafar, Soekarno wafat. Presiden pertama Indonesia itu meninggal dunia pada 21 Juni 1970 di usia 69 tahun. Saat kabar duka tersebut datang, Heldy tengah hamil tua buah cintanya dengan Gusti Suriansyah Noor. Meski sudah tidak lagi bersama, kabar wafatnya Soekarno tetap meninggalkan kesedihan mendalam bagi Heldy Djafar.

Sementara itu, kepergian Soekarno menandai berakhirnya satu bab penting dalam sejarah Indonesia sekaligus kisah cinta yang penuh dinamika. Dari pertemuan sederhana di Istana Negara hingga perpisahan akibat gejolak politik, hubungan Soekarno dan Heldy Djafar begitu kuat dikenang.

Baca Juga: Profil 11 Anak Presiden Soekarno dan Kisah Hidupnya

Kisah cinta Soekarno dan Heldy Djafar bukan sekadar cerita asmara biasa. Hubungan ini menggambarkan sisi manusiawi pemimpin besar yang juga punya kehidupan pribadi penuh cinta, harapan dan kesedihan. Heldy Djafar sendiri kemudian menjalani kisah kehidupan dan harapan baru sepeninggal Soekarno. Sampai akhirnya ia wafat pada 10 Oktober 2021. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |