harapanrakyat.com,- Datangnya musim kemarau menjadi berkah tersendiri bagi komoditas maritim di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Dalam periode beberapa minggu belakangan, volume tangkapan laut nelayan berupa ikan dan udang dogol meroket drastis. Hal ini memicu lonjakan aktivitas transaksi di sejumlah tempat pelelangan setempat.
Baca juga: Presiden Prabowo Tetapkan Harga Khusus BBM Nelayan Kapal 30-200 GT Jadi Rp 15.000
Namun, fenomena melimpahnya pasokan ini membawa dampak dilematis bagi masyarakat pesisir. Tingginya ketersediaan udang dogol atau yang kerap dijuluki udang berut oleh warga lokal, justru memicu penurunan harga yang cukup signifikan di pasaran.
Dilema Lonjakan Pasokan Udang Dogol
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, membenarkan bahwa siklus kemarau selalu menjadi momentum emas bagi nelayan. Hal ini karena pergerakan biota laut menjadi lebih aktif dan mudah dijaring.
“Musim kemarau biasanya ikan mulai banyak keluar. Saat ini udang juga sedang melimpah, terutama udang dogol berut,” kata Jeje, Selasa (14/7/2026).
Sayangnya, situasi panen raya ini tidak berbanding lurus dengan profit yang dikantongi para nelayan. Berdasarkan catatan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), nilai jual udang dogol terus merosot secara bertahap. Ini terjadi seiring membanjirnya stok di bak penampungan.
Komoditas ini awalnya sempat menyentuh angka Rp 100 ribu untuk setiap kilogramnya. Namun setelah itu, harga perlahan turun ke angka Rp 90 ribu. Kini harga tertahan di kisaran Rp 78 ribu per kilogram.
Baca juga: Pemkab Pangandaran Belum Hentikan Aktivitas Tongkang meski Nelayan Terdampak, Ini Alasannya
“Ketika hasil tangkapan melimpah, justru harga ikut turun. Dari Rp100 ribu per kilogram, sempat menjadi Rp 90 ribu, dan sekarang berada di kisaran Rp 78 ribu per kilogram,” papar Jeje.
Jeje menambahkan, pola fluktuasi ini berbeda dengan udang tiger. Harga udang tiger cenderung kebal terhadap hukum pasar domestik. Hal ini karena ditopang oleh jalur distribusi ekspor yang kuat.
“Udang tiger memiliki pasar ekspor yang lebih luas. Berapapun jumlah tangkapannya, harganya tetap bagus. Sementara udang dogol hanya sebagian yang bisa masuk pasar ekspor, sehingga ketika stok melimpah harganya mudah turun,” jelasnya.
Menyikapi kemerosotan nilai tukar hasil laut ini, Jeje yang juga mengomandoi KUD Minasari Pangandaran menegaskan bahwa institusinya tengah merumuskan strategi intervensi pasar. Selain itu, langkah mitigasi sangat diperlukan agar struktur harga komoditas lokal tetap berada di batas aman dan tidak merugikan finansial nelayan saat musim panen tiba.
“Kami akan mencari solusi dan langkah yang tepat agar harga udang dogol tetap stabil sehingga nelayan tidak dirugikan saat hasil tangkapan sedang melimpah,” pungkasnya. (Kiki/R6/HR-Online)

1 hour ago
6

















































