Budidaya tanaman kimpul belakangan semakin dilirik oleh masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan. Kimpul yang viral di TikTok membuat banyak orang penasaran sekaligus ingin memahami proses budidaya tanaman lokal ini. Popularitas tersebut turut mendorong ketertarikan terhadap kimpul sebagai bahan pangan maupun komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi.
Baca Juga: Budidaya Timun Suri, Peluang Usaha Pertanian dengan Permintaan Stabil
Budidaya Tanaman Kimpul dan Daya Tariknya
Kimpul sejatinya merupakan tanaman umbi yang masih satu keluarga dengan talas, yaitu Araceae. Meski demikian, jenisnya sebenarnya berbeda dari talas yang umum masyarakat kenal. Tanaman ini memiliki nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium. Kimpul juga populer sebagai talas Belitung atau mbothe di sejumlah daerah.
Perbedaan kimpul dan talas dapat terlihat dari bentuk tanaman serta karakter batangnya. Kimpul mempunyai satu umbi induk di bagian tengah. Sekelilingnya terdapat banyak anak umbi, terutama pada bagian samping. Daging umbinya cenderung lebih lembut dengan serat yang relatif halus di lidah.
Rasa gatal kimpul juga biasanya lebih ringan atau bahkan tidak terasa setelah matang. Daunnya memiliki karakter cukup khas. Dimana tangkai daun menancap pada bagian tepi. Pangkal helaian daun seringkali berbentuk seperti anak panah. Karakter tersebut berkaitan dengan istilah sagittatus yang menggambarkan bentuk seperti panah.
Baca Juga: Budidaya Terong Gelatik untuk Sayuran Lalap Bernilai Ekonomis Tinggi
Popularitasnya kemudian meningkat setelah bahan pangan ini banyak diperbincangkan di TikTok. Akun @blacksheep, melalui konten ibu-ibu yang kerap membagikan olahan berbahan kimpul. Konten tersebut membuat semakin banyak orang mengetahui kimpul dan tertarik mencoba berbagai olahannya.
Kimpul Punya Potensi Ekonomi Menjanjikan
Budidaya tanaman kimpul memiliki peluang ekonomi yang cukup menarik karena dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat. Umbi ini bisa masyarakat gunakan sebagai pengganti kentang maupun bahan pangan lainnya. Karbohidrat kimpul berkisar antara 20 – 34 gram per 100 gram bahan. Menjadikannya sumber karbohidrat kompleks dan pati alternatif yang sangat baik
Pengolahannya pun cukup beragam, mulai dari makanan sederhana hingga produk yang lebih kekinian. Kimpul dapat kita masak sebagai cemilan, rebusan, gorengan, maupun berkembang menjadi berbagai olahan hits. Akun @blacksheep misalnya membuat kimpul chewy cookies hingga sushi.
Popularitasnya di media sosial turut membuat nilai jual kimpul semakin menarik. Harga yang sebelumnya sekitar Rp8.000 kini disebut dapat mencapai sekitar Rp12.000 di pasaran. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi masyarakat yang ingin mengembangkan komoditas pangan lokal di era sekarang.
Proses Budidaya yang Relatif Mudah
Cara budidaya tanaman kimpul juga terbilang mudah. Pembudidaya hanya perlu menyiapkan secukupnya lahan dengan tanah gembur. Setelah itu menanam bonggol kimpul. Waktu penanaman disarankan adalah awal musim hujan karena ketersediaan air lebih mendukung pertumbuhannya. Jarak tanam ideal sekitar 70 x 70 centimeter agar tanaman memiliki ruang tumbuh yang cukup.
Tanaman kimpul membutuhkan perawatan selama beberapa bulan sebelum menghasilkan umbi yang siap panen. Misalnya pemberian pupuk, penyiangan dan penyiraman rutin. Masa panennya umumnya berada pada kisaran 8 hingga 12 bulan setelah penanaman. Ciri tanaman siap panen terlihat dari kondisi daunnya. Daun yang mulai mengendur atau mengering menjadi salah satu tanda umbi telah mendekati waktu panen.
Baca Juga: Budidaya Singkong untuk Mocaf, Peluang Bisnis Pangan Masa Depan
Jika dikelola dengan baik, budidaya tanaman kimpul tidak hanya menghasilkan bahan pangan. Lebih dari itu, hasil budidaya juga membuka peluang ekonomi dari sektor pertanian dan produk olahan berbahan dasar tanaman kimpul. Mengingat masa panennya cukup panjang, budidaya tetap membutuhkan perencanaan matang sejak awal. (R10/HR-Online)

8 hours ago
9

















































