harapanrakyat.com,- Sorak-sorai anak-anak memecah kesunyian Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidurian di kawasan RW 15, Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung. Di atas hamparan tanah berwarna kecoklatan yang muncul saat debit air menyusut, belasan kaki telanjang sibuk mengejar bola plastik.
Baca Juga: PKL Kiaracondong Ditertibkan, Pemprov Jawa Barat Siapkan 800 Kios Gratis 3 Bulan
Bagi warga setempat, dasar sungai yang mengering bukan sekadar alur air, melainkan panggung kegembiraan tahunan untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sulap Dasar Sungai Cidurian Jadi Lapangan Agustusan Sejak 1987
Ketiadaan fasilitas olahraga dan ruang terbuka publik yang layak memaksa warga memutar otak. Sejak era 1980-an, kerja bakti membendung dan meratakan dasar sungai menjadi ritual wajib menyambut bulan Agustus.
Selama kurun waktu tiga minggu hingga satu bulan, pemuda bersama warga bahu-membahu menyulap ceruk sungai menjadi lapangan multifungsi. demi menghidupkan kemeriahan lomba 17-an.
Semangat gotong royong ini melahirkan ruang perjumpaan sosial yang sarat nuansa kehangatan. Berbagai perlombaan seperti sepak bola anak-anak, senam bersama, hingga upacara bendera peringatan detik-detik Proklamasi rutin digelar di lokasi ekstrem tersebut.
Meski harus bersiap beralih ke ajang Gogo Ikan atau menangkap ikan dengan tangan kosong maupun memancing apabila hujan mendadak turun, keceriaan warga tak pernah luntur.
“Awalnya warga bergotong royong membersihkan area tanah ini agar kelihatan rapi dan multifungsi. Karena kami tidak punya lahan untuk acara Agustusan, akhirnya warga memutuskan membikin lapang di area Sungai Cidurian ini. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun sejak tahun 1987,” kata Ketua Pemuda RW 15 Kelurahan Padasuka, Gandi Sugandi, Sabtu (15/8/2026) sore.
Baca Juga: Soal Dugaan Pencemaran Limbah Sungai di Ciwidey, Tim PPLH Sudah Diterjunkan
Warga menaruh harapan besar, agar pemerintah daerah hadir memberikan solusi permanen. Seperti menutup atau memperlebar struktur penopang di atas aliran sungai, agar aktivitas kemasyarakatan dapat dialihkan ke tempat yang lebih aman.
Keberadaan lapangan dadakan di Sungai Cidurian menjadi cermin daya tahan warga dalam merawat kebahagiaan di tengah keterbatasan. Mereka membuktikan bahwa semangat kemerdekaan tak pernah surut, bahkan di dasar sungai yang terancam tergerus arus.
“Harapan kami masyarakat penginnya punya lahan yang lebih menjamin keselamatan warga. Kalau misalkan dari pemerintah mengizinkan area ini ditutup atau diperlebar seperti jembatan, otomatis warga akan beralih ke atas dan tidak lagi beraktivitas di dalam sungai,” ujarnya.
Keriangan Anak-anak Bermain Sepak Bola
Bagi anak-anak seperti Alby (11), bermain sepak bola di dasar sungai menghadirkan keseruan tersendiri yang tak tergantikan. Kejadian bola hanyut terbawa arus air, justru menjadi bagian dari permainan yang dinanti. Anak-anak akan saling berebut melompat ke air untuk mengambilnya kembali.
“Kalau mau Agustusan setiap hari sering ada lomba di lapangan, jadi sering main di sini. Kalau bola keluar lapangan ya diambil pakai kayu panjang, atau nggak cebur-ceburan, basah-basahan,” kata Alby setelah bermain sepak bola dengan sejawatnya.
Lapangan dadakan di Sungai Cidurian yang mengering itu, akan terus bertahan melayani tawa anak-anak hingga air datang menggerusnya di musim penghujan. “Nggak (dihancurkan lapangannya) tunggu hujan. Nanti tergerus sama hujan. Kalau kemarau ini airnya sedikit,” tuturnya.
Baca Juga: Sungai di Ciwidey Tercemar Hitam, Dedi Mulyadi Buru Pembuang Limbah di Leuwikuray
Kendati demikian, di balik keriuhan perayaan tersebut, terselip kekhawatiran mendalam terkait faktor keselamatan. Meskipun setiap perlombaan ada panitia yang berjaga di sejumlah titik. Keterbatasan lahan permukiman di Kota Bandung yang kian padat, kerap meminggirkan kebutuhan anak-anak akan ruang bermain yang aman dan layak. (Reza/R5/HR-Online/Editor: Adi Karyanto)

7 hours ago
6

















































