Musim Kemarau Melanda Ciamis, Disnakkan Imbau Pembudidaya Ikan Waspadai Penyakit Aeromonas

2 hours ago 6

harapanrakyat.com,- Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Ciamis mengimbau para pembudidaya ikan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Ciamis bagian selatan dan sebagian wilayah utara.

Baca juga: Antisipasi Fenomena El Nino Godzilla, Dinas PUPRP Ciamis Siapkan SPAM hingga Irigasi Air Tanah

Kepala Disnakkan Kabupaten Ciamis, Anton Wahyu Radityananto, mengungkapkan bahwa hampir 90 persen wilayah Ciamis sudah mulai mengalami kekeringan. Saat ini, wilayah yang terbilang relatif aman dari krisis air hanya daerah yang berada di kawasan kaki Gunung Sawal.

“Untuk laporan kekeringan, kami bersama penyuluh perikanan terus memantau perkembangannya. Memang kekeringan sudah melanda beberapa kecamatan di Ciamis Selatan dan sebagian Ciamis Utara. Yang relatif aman itu daerah di kaki Gunung Sawal, sisanya hampir 90 persen sudah mulai kering,” ujar Anton, Selasa (18/08/2026)

Menghadapi kondisi tersebut, Anton meminta para pembudidaya ikan, khususnya ikan gurame, untuk menerapkan manajemen budidaya yang efisien. Efisiensi penggunaan air, pengaturan kepadatan tebar, serta manajemen pakan dan penyakit menjadi kunci utama agar pembudidaya tidak mengalami kerugian.

“Di musim kemarau ini harus pintar-pintar memanfaatkan air. Untuk pakan gurame, usahakan jangan terlalu banyak memberi pelet, perbanyak pakan hijauan dan frekuensinya disesuaikan. Jangan terlalu sering,” jelasnya.

Ancaman Bakteri Aeromonas

Selain krisis air, Anton mewanti-wanti potensi serangan penyakit yang rentan muncul pada masa pancaroba dan puncak kemarau, yaitu periode Juli hingga September. Salah satu yang paling diwaspadai oleh pembudidaya ikan gurame adalah infeksi bakteri Aeromonas.

“Penyakit yang sering menyerang di bulan Juli, Agustus, dan September itu biasanya Aeromonas. Gejala awalnya ditandai dengan munculnya bercak-bercak pada tubuh ikan, hilangnya lendir, peradangan hingga memerah, dan pada kondisi parah bisa menyebabkan luka keropeng hingga kematian,” terang Anton.

Sejauh ini, Disnakkan Ciamis belum menerima laporan adanya kasus serangan Aeromonas dalam skala parah. Kendati demikian, beberapa pembudidaya mulai menemukan gejala ringan di kolam mereka.

Baca juga: Musim Kemarau, Perumda Tirta Galuh Ciamis Pasok 100 Ribu Liter Air Bersih ke Daerah Kekeringan

“Laporan yang parah sampai saat ini tidak ada, mudah-mudahan jangan sampai terjadi. Kalau gejala kecil seperti bercak-bercak memang sudah ada, tetapi para pembudidaya sudah bisa mengantisipasinya, baik dengan cara dipanen lebih awal untuk dikonsumsi maupun dikarantina dan diobati,” tambahnya.

Untuk mencegah penularan bakteri Aeromonas, Anton menyarankan agar pembudidaya menjaga dan mempertahankan kualitas air baik yang masuk maupun yang sudah ada di kolam sebab aliran air berpotensi membawa bakteri berbahaya.

“Penahanan sirkulasi air, pengaturan kepadatan tebar, serta menjaga kebersihan pakan menjadi langkah krusial dalam menjaga kelangsungan budidaya ikan di Kabupaten Ciamis,” pungkasnya. (Fahmi/R6/HR-Online) 

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |