harapanrakyat.com,- Upaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini terus dilakukan di Kabupaten Pangandaran. Kali ini, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pangandaran menggaungkan program Ekoteologi melalui kegiatan pelepasliaran tukik di Desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Selasa 18 Agustus 2026.
Baca juga: Disdukcapil Ciamis Gandeng Kemenag dan KUA Perkuat Pelayanan Administrasi Kependudukan
Sebanyak 132 ekor tukik dilepasliarkan ke laut sebagai bagian dari edukasi lingkungan yang melibatkan para pelajar, khususnya siswa madrasah. Kegiatan tersebut digelar Kemenag Pangandaran bekerja sama dengan Dinas Kelautan, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DKPKP) Kabupaten Pangandaran.
Suasana pelepasliaran semakin meriah dengan kehadiran Bupati Pangandaran Citra Pitriyami, jajaran Kemenag, pemerintah setempat, serta para pelajar yang turut menyaksikan sekaligus terlibat langsung dalam pelepasan tukik menuju laut.
Pelepasliaran Tukik untuk Menjaga Alam
Bupati Pangandaran Citra Pitriyami mengatakan, keberadaan penyu merupakan bagian dari kekayaan alam yang harus dijaga dan dilestarikan secara bersama-sama. Menurutnya, keterlibatan pelajar dalam kegiatan tersebut menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran generasi muda terhadap kelestarian lingkungan.
“Kita libatkan anak-anak sekolah, harapannya tentu generasi muda kita mempunyai rasa menjaga alam. Lingkungan hidup merupakan sesuatu yang sangat penting,” kata Citra, Selasa 18 Agustus 2026.
Ia menilai, pesan yang dibawa melalui program Ekoteologi menjadi semakin kuat karena kepedulian terhadap alam tidak hanya dipandang dari sisi lingkungan, tetapi juga dikaitkan dengan nilai-nilai keagamaan. Menurutnya, menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia, terlebih bagi mereka yang memiliki nilai-nilai keimanan.
Baca juga: bank bjb Perkuat Literasi Keuangan dan Kewirausahaan bagi Calon Pensiunan Kementerian Agama
“Pak Kepala Kemenag juga membahas tentang Ekoteologi, bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab bagi makhluk yang beriman,” papar Citra.
Citra juga menyebut kawasan konservasi penyu di Legokjawa memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi wisata edukasi. Meski pengelolaannya dinilai masih perlu ditata lebih baik, aktivitas konservasi di kawasan tersebut sudah mulai berjalan.
“Untuk tempat konservasi penyu ini sudah berjalan sebagai wisata edukasi, hanya belum terorganisir. Namun sekarang sudah berjalan,” katanya.
Pelepasan tukik ini menjadi lebih dari sekadar upaya menjaga keberlangsungan populasi penyu. Di Legokjawa, langkah kecil melepas tukik ke laut sekaligus menjadi pesan bahwa merawat alam adalah bagian dari merawat kehidupan dan menjalankan tanggung jawab manusia sebagai penjaga bumi.
Implementasi Ekoteologi
Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pangandaran H. Yayan Herdiana mengatakan, pelepasliaran 132 tukik tersebut menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan. “Kita bisa mengintegrasikan program Kemenag yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah melalui dinas kelautan,” kata Yayan.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut sebelumnya direncanakan turut dihadiri langsung oleh Menteri Agama. Namun karena adanya kendala, Menteri Agama belum dapat hadir dan kegiatan kemudian dihadiri oleh perwakilan pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Menurut Yayan, tujuan utama kegiatan bukan sekadar melepas tukik ke laut, tetapi memberikan pengalaman sekaligus pemahaman kepada para pelajar bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari nilai yang diajarkan dalam agama.
“Ini untuk memberikan edukasi kepada para pelajar yang hadir, khususnya madrasah. Bahwa mencintai alam itu merupakan bagian dari ajaran agama,” jelas Yayan.
Baca juga: Puntung Rokok Diduga Picu Kebakaran di Kemenag Kota Banjar, Damkar Bergerak Cepat
Ia menjelaskan, Ekoteologi merupakan pendekatan yang mempertemukan nilai-nilai spiritual dengan kepedulian terhadap alam. Dengan pendekatan tersebut, pelestarian lingkungan diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau kelompok konservasi, tetapi menjadi kesadaran bersama yang tumbuh dari nilai keagamaan. “Secara keilmuan, Ekoteologi memadukan nilai-nilai spiritual dengan nilai-nilai kealaman,” jelasnya.
Yayan menyebut kegiatan pelepasliaran tukik tersebut merupakan kegiatan perdana yang dilakukan Kemenag Pangandaran dalam mengimplementasikan program Ekoteologi secara langsung di lapangan.
Meski baru pertama kali digelar, antusiasme para peserta dinilai sangat tinggi. Karena itu, Kemenag Pangandaran berkomitmen agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan tidak berhenti pada seremoni pelepasan tukik semata. “Ini kegiatan perdana yang dilakukan. Alhamdulillah antusias peserta sangat tinggi. Insyaallah kegiatan akan terus berlanjut,” ujarnya. (Kiki/R6/HR-Online)

1 hour ago
8

















































