harapanrakyat.com,- Lawan misinformasi kesehatan, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengajak para kreator konten, khususnya di platform TikTok, untuk berhenti sekadar mengejar viralitas. Menkes minta kreator konten mulai fokus pada edukasi kesehatan yang akurat.
Langkah strategis ini guna meningkatkan literasi kesehatan masyarakat Indonesia, sekaligus membendung arus misinformasi yang kian mengkhawatirkan di ruang digital.
Ancaman Misinformasi dan Bahaya “Deepfake” Kesehatan
Baca Juga: Kasus Hantavirus di Jakarta, Menkes Pastikan Penanganan Intensif di RSPI Sulianti Saroso
Di tengah tingginya penggunaan media sosial, sebuah fakta mengejutkan terungkap. Investigasi menunjukkan bahwa lebih dari 52 persen konten kesehatan mental viral di TikTok ternyata mengandung misinformasi.
Banyak kreator menawarkan solusi “perbaikan cepat” (quick fix) yang tidak terbukti secara medis. Seperti klaim menyembuhkan trauma dalam satu jam atau penggunaan suplemen tanpa bukti ilmiah kuat.
Lebih berbahaya lagi, sekitar 95 persen video kesehatan di Indonesia terdeteksi menggunakan teknologi deepfake. Rekayasa AI ini memanipulasi wajah tokoh publik atau tenaga medis untuk mempromosikan obat herbal dan metode pengobatan palsu.
Hal ini sangat berisiko bagi penderita penyakit kronis seperti diabetes yang jumlahnya di Indonesia telah mencapai 20,4 juta jiwa. Kondisi tersebut menjadikan RI peringkat kelima dunia dalam jumlah penderita diabetes.
Inisiatif “Makan dengan Makna” dan Bonus Demografi
Menanggapi fenomena ini, Kementerian Kesehatan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan TikTok Indonesia untuk meluncurkan inisiatif “Makan dengan Makna”.
Program tersebut bertujuan mengedukasi masyarakat, terutama anak muda, mengenai pola makan rendah gula, garam, dan lemak (GGL). Serta mempromosikan pangan lokal.
Menkes Budi menekankan bahwa Indonesia hanya memiliki jendela waktu 10 hingga 15 tahun untuk memanfaatkan bonus demografi yang puncaknya terjadi antara tahun 2030-2040.
Jika masyarakat justru terpapar konten negatif atau misinformasi kesehatan, Indonesia berisiko terjebak dalam middle-income trap dan gagal mencapai target negara maju pada 2045.
Baca Juga: Jadi Perbincangan Warganet, Influencer Ruce Nuenda Minta Maaf karena Keluyuran Saat Sakit Campak
“Jika kita sibuk membuat konten negatif dan berantem sendiri, kita membuang waktu. Tugas kita adalah mendorong pertumbuhan ekonomi 8-9 persen melalui kualitas SDM yang sehat,” tegas Menkes Budi saat peluncuran Makan dengan Makna, Kamis (9/7/2026) di Jakarta.
Target Literasi Kesehatan dalam RPJMN 2025-2029
Pemerintah telah menetapkan target ambisius dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Salah satu indikator utamanya adalah meningkatkan persentase penduduk dengan literasi kesehatan kategori “sufficient” dan “excellent” hingga mencapai 46,3 persen pada tahun 2029.
Selain itu, pemerintah juga mendorong masyarakat untuk melakukan aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu demi menekan risiko Penyakit Tidak Menular (PTM).
Sanksi Tegas bagi Penyebar Hoaks
Pemerintah tidak main-main dalam menjaga keamanan ruang digital. Melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), penyebar hoaks (berita bohong) sehingga terjadi misinformasi kesehatan dapat dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Sanksi bagi pelaku yang sengaja menyebarkan informasi menyesatkan adalah pidana penjara hingga enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar. Hingga saat ini, pihak kepolisian telah menangkap puluhan tersangka terkait penyebaran hoaks di platform digital.
Tips Menjadi Influencer Kesehatan yang Bertanggung Jawab
Bagi para profesional medis maupun individu yang ingin memulai karier sebagai health influencer, terdapat beberapa prinsip utama yang harus mereka patuhi. Diantaranya, gunakan bahasa yang sederhana dan tidak kaku agar mudah dipahami masyarakat awam. Fokuslah pada isu kesehatan yang sesuai dengan profesi atau keahlian agar informasi tetap kredibel.
Baca Juga: Spam Promosi Judi Online di Medsos Melonjak 128 Persen, Influencer Lokal Jadi Target Utama
Kemudian bagi dokter, hindari melakukan diagnosis individual di ruang publik dan tetap utamakan kerahasiaan pasien. Gunakan pengaruh untuk meluruskan mitos kesehatan dengan data berbasis bukti (evidence-based).
Dengan kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan kreator konten, diharapkan literasi kesehatan masyarakat meningkat, dan tidak ada lagi misinformasi kesehatan. Sehingga Indonesia mampu mencetak generasi yang sehat dan produktif menuju 2045. (R3/HR-Online/Editor: Eva)

8 hours ago
10

















































