Sejarah Benteng Duurstede Maluku, Peninggalan Belanda Saksi Perjuangan Rakyat Saparua

7 hours ago 9

Benteng Duurstede Maluku merupakan tempat bersejarah yang menjadi saksi sejak era kolonial hingga masa kini. Peninggalan Belanda ini bahkan juga menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Saparua bersama Kapitan Pattimura. Berikut akan kita bahas lebih lanjut mengenai tempat ini tentang sejarah hingga bangunanya di masa kini.

Baca Juga: Gedung Negara Sumedang, Perjalanan Panjang Bangunan Sejak Masa Kolonial

Mengenal Sejarah dan Keadaan Benteng Duurstede Maluku

Duurstede merupakan benteng peninggalan kolonial yang berada di Kecamatan Saparua dan berada di tepi pantai. Benteng yang berdiri strategis di atas bukit karang dan menghadap langsung ke arah Teluk Saparua. Dahulu pemilihan lokasi tersebut sangat menguntungkan karena memudahkan untuk menghalau serangan yang datang dari laut.

Jika melihatnya dari atas, benteng ini memiliki bentuk yang cukup unik yaitu berbentuk oval. Bentuk tersebut bahkan menjadi satu-satunya desain yang digunakan untuk benteng kolonial di wilayah Indonesia. Sebagai tempat pertahanan, benteng ini pun memiliki tembok yang tinggi sekitar 5 meter dengan ketebalan 1.25 meter.

Saat ini bangunan bersejarah ini telah menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya yang sangat berharga. Pengunjung bisa datang sekedar untuk melihat arsitektur bangunan sekaligus mengenang perjuangan rakyat Saparua melawan kolonial. Hingga kini pun tempat ini masih sering menjadi tujuan wisata utama bagi banyak wisatawan.

Sejarah Pendirian Benteng oleh Portugis yang Kemudian Diperebutkan

Benteng Duurstede Maluku awalnya didirikan oleh Portugis pada abad ke-17 sebagai tempat pertahanan. Kemudian pada tahun 1691, di bawah komando Gubernur Ambon yaitu Nicolaas Schaghen, Belanda berhasil merebutnya. Setelah mendapatkan tempat ini, Belanda kemudian melakukan pembangunan ulang agar lebih kuat dan sesuai kebutuhan mereka.

Pihak Belanda kemudian menamai benteng pertahanan tersebut dengan nama Duurstede yaitu nama kampung halaman Schaghen di Belanda. Mereka kemudian memanfaatkan tempat ini sebagai salah satu pusat pertahanan VOC di Maluku. Saat itu, wilayah Maluku memang menjadi area perebutan karena kaya akan rempah-rempah.

Baca Juga: Toren Air Raksasa Cikampek, Saksi Bisu Kejayaan Kereta Uap dan Perjuangan Kemerdekaan

Benteng ini berfungsi sebagai pertahanan dari ancaman serangan Portugis maupun perlawanan masyarakat lokal. Belanda juga memanfaatkannya sebagai pos pengintai yang memantau lalu lintas kapal lewat meriam. Selain itu, VOC juga memanfaatkannya untuk mengawasi perdagangan rempah berharga seperti cengkeh dan pala.

Pada tahun 1796, Inggris berhasil menduduki Benteng Duurstede Maluku setelah sukses merebut Pulau Saparua dari Belanda. Kemudian pada tahun 1803, Belanda kembali mendapatkan tempat sebelum jatuh kembali ke tangan Inggris. Tahun 1816, Belanda kembali menguasai tempat ini setelah Inggris menyerahkan wilayah Nusantara.

Menjadi Saksi Perjuangan Rakyat Saparua Bersama Kapitan Pattimura

Benteng ini juga menjadi saksi sengitnya perjuangan rakyat Saparua melawan kolonial Belanda dan VOC. Saat VOC mengambil alih benteng ini dari Inggris, pasukan sebelumnya akan dipindahkan ke Batavia termasuk Kapitan Pattimura. Selain itu, VOC juga kembali mempraktikan monopoli hingga mendapat tantangan keras dari rakyat.

Tahun 1817, rakyat Saparua bersama Kapitan Pattimura kemudian melawan VOC dan sukses merebut benteng Duurstede. Namun VOC kembali mengerahkan pasukan dengan meminta bantuan dari Raja Ternate dan Tidore. Besarnya pasukan VOC membuat Kapitan Pattimura terdesak hingga akhirnya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Benteng Duurstede Masa Kini

Dulu di dalam Benteng Duurstede Maluku setidaknya terdapat 9 bangunan yang memiliki fungsi masing-masing. Namun saat ini hanya tersisa beberapa bangunan saja yang masih utuh. Sedangkan sisanya hanya tinggal pondasi. Bangunan yang tersisa dulunya memiliki kegunaan sebagai ruangan kantor, ruangan staff, gudang, hingga penjara.

Di beberapa sudut, pengunjung bisa melihat meriam besi yang dulu langsung mengarah ke laut. Di kawasan wisata sejarah ini juga terdapat museum dan tugu peringatan perlawanan rakyat Saparua serta Kapitan Pattimura. Siapa saja wajib mengunjunginya untuk mengenang sejarah sekaligus belajar tentang perjuangan pahlawan Maluku tersebut.

Baca Juga: Benteng Fort de Kock, Peninggalan Belanda Sekaligus Saksi Perang Padri

Benteng Duurstede Maluku menjadi sejarah penting dari masa ke masa mulai Portugis hingga kemerdekaan Indonesia. Karena itu tidak heran jika pemerintah setempat kemudian menetapkannya sebagai salah satu cagar budaya nasional. Bahkan pemerintah juga telah melakukan pemugaran pada tahun 2024-2025 dengan metode khusus tanpa merusak struktur aslinya. Benteng Duurstede kini pun telah menjadi destinasi wisata unggulan di Maluku. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |