harapanrakyat.com,- Dalam rangka memperluas cakrawala sejarah sekaligus mempererat tali silaturahmi dengan tokoh kebudayaan lokal, rombongan Kuliah Kerja Nyata Integrasi Keagamaan (KKN-IK) Institut Nahdlatul Ulama (INU) Ciamis menggelar kunjungan edukatif ke Museum Galuh Bumi Pakarang Sasuhunan, Sabtu (22/8/2026).
Museum tersebut berlokasi di kawasan Cisaga Kolot, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis. Kunjungan tersebut menjadi titik strategis bagi para mahasiswa dalam menggali khazanah peninggalan para leluhur Tatar Galuh Ciamis.
Kedatangan para akademisi muda ini disambut hangat oleh pihak pengelola. Johan Jouhar Anwari, yang merupakan bagian dari keluarga pengelola sekaligus dewan pendiri INU Ciamis, bertindak langsung sebagai pemandu.
Baca Juga: Tegur Pemotor Knalpot Bising, Rumah Pengurus NU di Cimenyan Bandung Dirusak Pemuda
Lewat penjelasannya yang lugas dan berbobot, Johan berhasil menjembatani komunikasi antara pihak universitas dan keluarga besar museum. Ia juga menegaskan betapa pentingnya sinergi antara ranah pendidikan dan aksi pelestarian sejarah.
Kunjungan INU Ciamis Bukan Sekedar Riset Lapangan Biasa
Ketua Kelompok KKN-IK INU Ciamis, Asep Fathul Millah, menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang setinggi-tingginya.
“Kehadiran kami di sini tidak cuma sekadar riset lapangan biasa. Tetapi merupakan ajang silaturahmi akademik untuk menyerap nilai-nilai luhur serta spirit sejarah Galuh. Harapannya, poin-poin tersebut bisa kami terapkan secara nyata saat mengabdi di tengah masyarakat,” tuturnya.
Hal senada ditunjukkan oleh Ketua Yayasan Museum Galuh, Gunawan Jayadiharja. Ia menegaskan bahwa pendirian museum ini adalah komitmen nyata dalam menjaga warisan masa lalu.
“Museum Galuh hadir bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda antik, melainkan sebagai museum budaya yang disiapkan menjadi ruang kajian dan pengembangan sejarah bagi generasi penerus,” tegas Gunawan.
Sementara itu, pemilik museum, Haji Raden Gungun Gurnadi Gumelar Djadjadiharja, mengungkapkan, ribuan koleksi di tempat ini merupakan bukti kecintaan keluarganya terhadap warisan nenek moyang.
Benda-benda bersejarah yang semula berada di Bandung tersebut sengaja diboyong kembali ke Ciamis sebagai bentuk pengabdian ke tanah kelahiran.
”Ada sekitar 6.000 artefak purbakala yang menjadi koleksi keluarga besar kami. Dari total tersebut, sebanyak 1.600 item sudah dipindahkan dan dipajang di museum ini. Mulai dari peralatan perang, perabot dapur kuno, hingga fosil,” jelas Rd. Gungun.
Berdasarkan hasil riset tim geologi serta Institut Teknologi Bandung (ITB), sejumlah peninggalan di museum ini diperkirakan telah berusia lebih dari 600 tahun, sebuah bukti otentik betapa mendesaknya upaya pelestarian situs ini. (Feri/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

14 hours ago
9

















































